0

Hi, 2021

Loha,

Alhamdulillah setelah perjuangan di tahun 2020 kemarin, akhir tahun ditutup dengan hadiah yang sungguh bikin saya terharu. Allah baik banget, as always.

Terhitung setelah 1 tahun 6 bulan menganggur akhirnya Allah izinkan saya bekerja kantoran lagi. Terhitung setelah setengah tahun jobless, suami juga diizinkan bekerja lagi. Semuanya dalam waktu berdekatan pula, aaaaa alhamdulillah makasih ya Allah.

Makanya di saat saya merasa sangat bahagia, tiba-tiba saya juga merasa gelisah ditampar kenyataan bahwa di balik kebahagian saya ada orang-orang yang mungkin saja sedih karena harus saya gantikan posisinya. It feels so weird. Saya nggak tahu mesti bersikap bagaimana. Saya merasa bersalah, tapi kan bukan salah saya?

Belum lagi teman-teman kantor baru saya sering berulang kali bilang, “enak ya PGA bisa cepat pulang. Enak ya PGA kerjaanya cuman itu. Tumben PGA belum pulang, lembur ya?”

Huh?

Saya nggak tahu harus menanggapi bagaimana. Saya sedang berbahagia dan bersyukur, kok bisa ada komentar begitu? Padahal saya nggak pernah komentar dengan pekerjaan mereka, malah kasian. Ya tapi gimana saya nggak bisa bantu karena memang bukan bidang saya. Lagian kerjaan saya perasaan susah lho, cuman kebetulan saja saya pernah kerja sebelumnya dan paham bahwa manajemen waktu itu perlu makanya saya hampir nggak pernah sama sekali main hp selama kerja. Pokoknya saya berusaha gimana biar saya bisa cepat pulang dan nggak bawa kerjaan pulang ke rumah.

Awalnya cukup terganggu, sampai dalam hati saya jadi bertanya-tanya,
“Memangnya salah ya bisa cepat pulang?”
“Memangnya kerjaanku segampangan itu ya buat mereka?”
“Pekerjaan saya sudah selesai kok, saya harusnya pulang kan ya? Ada suami mesti diurus.”

Tapi semakin lama didengar, saya anggap angin lalu saja. Mungkin mereka lagi stress dengan kerjaan, atau mungkin lagi basa-basi. Biarlah berkomentar sesukanya.

Selama saya kerjanya halal, kerjaan selesai dan nggak ada error, datang nggak telat, pulang nggak buru-buru, menghargai pekerjaan orang, paham bahwa setiap pekerjaan punya pressure-nya masing-masing, dan banyak bersyukur, insya Allah beres komandan.

Walau nampaknya bakalan banyak terjal dalam kerjaan saya ke depan, tapi Allah sudah amanahkan rejeki ini dititipkan di rekening saya hahaha, jadi harus dilakoni dengan ikhlas dan semaksimal mungkin dong.

Pokoknya terlepas dari apapun yang membuka hari-hari awal saya di pekerjaan ini, alhamdulillah saya sangat bersyukur bisa kerja lagi!

Semoga Allah mudahkan semuanya insya Allah.
Semoga pekerjaan ini nggak bikin saya jauh dari-Nya justru semakin dekat.
Semoga keikhlasan dan kesabaran semakin menempel di keseharian saya.
Semoga marah-marahnya semakin berkurang! Hahahaha.

Semangat semuanya! 😁

0

Aku Rindu

Aku sedang kangen.
Kangen bukan main sampai rasanya hanya bisa menangis menahan rasa rinduku.
Salahkah ketika seorang wanita yang telah menikah merasa kangen?
Salahkah aku?
Aku hanya sedang kangen.
Iya, aku kangen.
Kangen dengan petuah ibuku.
Kangen dengan suara tawa nyaring ayahku.
Kangen saling sahut-sahutan dengan adik-adikku.
Kangen mendengar omelan nenekku.
Kangen melihat ponakanku tertawa-tawa sendiri seperti orang gila.
Aku kangen.
Aku rindu.

0

Salah Itu Perempuan

Berapa hari ini saya sedang iseng mengikuti thread di salah satu akun twitter yang semangat sekali membahas kebobrokan salah satu maskapai indonesia. Serius, saya emosi bacanya. Saking emosinya saya nanya ke suami, “itu kalian laki-laki kenapa sih selangkangannya? Emang nggak cukup ya satu aja?” Belum juga dijawab saya kembali menimpali, “iya, tahu di agama sudah diwanti-wanti laki-laki itu penyakitnya memang di selangkangannya, cuman kalian emang nggak bisa apa menahan diri gitu? Ya setidaknya mikirlah nanti anak perempuan kalian digituin gimana? Digrepe-grepe cowok? Diajak tidur sama om-om?Syukurnya suami diam-diam saja soalnya saya memang nggak butuh jawabannya, hanya mau mengoceh saja.

Nah, kalau laki-lakinya kelakuannya kayak begitu siapa coba yang disalahkan? Perempuannya dong. Katanya karena nggak bisa urusin laki-lakinyalah. Dicuekinlah. Nggak perhatianlah. Nggak bisa jaga badan, gendut, lemaknya bergelambir akhirnya lakinya jajan di luar. Bla bla bla.

Iya, yang disalahkan pertama kali kebanyakannya pasti perempuan. Laki-laki yang menggoda perempuan dianggap si perempuannya yang kegatelan dan pakai pakaian yang terbuka. Laki-laki yang mencari jajan mata di luar itu dianggap karena perempuannya tidak mampu mengenyangkan napsu mata si lelakinya. Salah tuh yang bilang laki-laki selalu salah karena kenyataannya yang disalahkan itu selalu perempuan. “Eh itu kenapa laki-lakinya kayak begitu? Pasti karena si perempuannya nggak urusin tuh makanya ditinggalin.” Ingin rasanya jungkir balik mendengarnya.

Saya pernah melempar pertanyaan lain ke laki-laki di sekeliling saya -termasuk suami, “itu kenapa yang dituntut tampil cantik cuman perempuan ya? Memangnya si perempuan nggak pengen lihat laki-lakinya ganteng gitu di rumah?” Tanggapannya beda-beda semua. Saya nggak mengeluh untuk selalu tampil rapih depan suami karena itu sudah tersabda dalam hadist sahih, hanya saja saya bingung kenapa edukasi tentang bagaimana seorang suami sebaiknya berperilaku ke istri itu minim sekali. Sedikit-sedikit membahas tentang perempuan yang harus menjaga “keluarganya” dengan tampil keren dan cantik 24 jam, atau tentang deretan kesalahan perempuan sehingga laki-lakinya menyeleweng.

Come on, rumah tangga itu nggak dari satu sisi saja. Harus ada dua insan yang saling bahu-membahu untuk menjaga selangkangan. Gimana mungkin perempuanmu mau semangat menjemputmu pulang ke rumah kalau tahu matamu berzinah dengan perempuan lain? Saya nggak bilang semua perempuan itu sudah baik, ya, tapi tolong kalau ada apa-apa jangan tiba-tiba yang disalahkan perempuannya.

Kalau mau menyalahkan karena banyak perempuan di luar sana yang mengumbar aurat, oh sini saya kasi bocoran, banyak lelaki itu bernapsunya dengan anak kecil. Jadi ini bukan tentang aurat perempuan lagi, tetapi memang laki-laki itu kodratnya napsunya semacam gunung merapi yang aktif terus-terusan. Jadi berhenti menyudutkan perempuan, siapatahu memang laki-lakinya imannya jongkok makanya gampang diombang-ambing napsunya bahkan hanya dengan gambar 2D di internet.

Gini deh, kalau takut Tuhan pun tak bisa dijadikan alasan untuk menjaga diri dari hal maksiat, setidaknya ingat ada anak perempuanmu di rumah, calon anak perempuanmu, adik perempuanmu, calon adik perempuanmu, ibumu, tantemu, sepupu perempuanmu, siapapun perempuan yang kamu kenal dan sayangi. Semuanya akan kembali ke sekelilingmu, dan bayangkan jika itu benar-benar terjadi dengan mereka. Naudzubillah mindzalik.

Tolong digarisbawahi ya, saya nggak bilang bahwa saya membenarkan perempuan yang tidak menutup auratnya karena perintah mengenai hal itu sudah jelas tercantum bagi muslim. Saya hanya risih, kalau perempuan yang selalu disalahkan. Yang namanya kesalahan, tidak mengenal jenis kelamin, kalau salah ya salah saja, tidak perlu mencari pembelaan dengan menjabarkan sebab-akibatnya. Soalnya perihal itu seharusnya bukan dijadikan pembelaan, tetapi intropeksi diri untuk mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki diri.

Semoga kita semua dilindungi dari hal-hal buruk, dan segera disadarkan jika sedang asyik bermanja-manja dengan maksiat.

.
.
.
.
.

Tulisan ini dibuat karena saya beneran kasihan dengan kelakuan masyarakat yang mengidentitasi dirinya pejantan tangguh itu ke perempuan-perempuan yang dikenal maupun asing bagi mereka.
Tolonglah, stop using your selangakangan needs as excuse. Tolonglah, untuk menghargai perempuanmu tidak sesulit itu kok. Jaga mereka dengan menjaga pandanganmu dan hatimu dari maksiat.
Tolong, kita sedang darurat akhlak.

1

Bahagia Karena Kebahagian Orang Lain

Sering kali saat lawan bicara mengumbar ceritanya dalam kata, alih-alih memerhatikan inti ceritanya, hati malah sibuk mempertanyakan apakah rangkain kata itu adalah bentuk pamer atau benar-benar ingin berbagi kebahagian?

Saat seorang teman sedang sangat bersemangat menceritakan harinya berhasil membebaskan diri dari arus macet di negera lain, beberapa pasang rungu yang terlihat serius menyerap cerita, sebenarnya sedang mengaktifkan radar detektifnya “Pamer atau tidak, nih?”

Mari tersenyum dulu…
Kawan, segitu susahnya menyenangi kebahagian orang lain?

Unsur ingin pamer mungkin sulit dibendung karena sejatinya atas tujuan apa orang menguarkan pengalamannya dalam kata?
Tapi pernahkah terbesit kira-kira usaha apa yang ditempuhnya untuk bisa berhasil berada pada posisi yang dianggap sedang pamer itu?

Oh, jangan singgung soal ketidakpekaan mereka menceritakan hal tersebut padahal mimpi kalian bahkan belum pernah berangan menyeberangi belahan dunia lain dengan passport. Ayolah, temanmu hanya sedang bahagia. Segitu susahnya menyenangi kebahagian temanmu, kawan?

Saat seseorang sedang menceritakan keseruan keluarganya, pernahkah terbesit kira-kira apakah mereka benar-benar sebahagia itu di dalam rumahnya?

Saat seseorang sedang menceritakan bisnisnya yang sedang baik, pernahkah terbesit kira-kira berapa kali mereka menidurkan rindunya pada keluarganya karena harus berpisah demi membereskan beberapa masalah di beberapa cabang bisnisnya di luar kota?

Kawan, semuanya tidak semudah seperti kata rungu dan netramu.
Tak ada yang tahu sebenarnya berapa kali tangannya membasuh pipinya yang basah akan air mata hingga berhasil merasa bahagia seperti itu.
Tak ada yang tahu sebanyak apa peluh yang menyelimuti harinya hingga berhasil menyematkan senyum di detiknya masih bernapas.
Tak ada yang tahu berapa sepertiga malam yang dihabiskannya untuk memohon restu dari Sang Maha Pencipta.

Sebuah apresiasi seperti senyum dan tawa mungkin akan lebih menenangkan hati, kawan.
Kalaupun memang benar pamer, yah, setidaknya hatimu tak ikutan terpolusi aura negatifnya.

Bahagia itu mudah jika ingin.
Semudah mendengarkan kebahagian orang lain dan pun ikut membahagiakannya dengan tulus.

Sudahkah bahagia hari ini, kawan?

0

Rasanya Menikah

Haluu everybody, apa kabarnya?

Kangen nih sharing-sharing cerita tidak jelas di sini. Sebenarnya sering sih mau menulis tapi setelah menikah jadi agak sedikit berhati-hati sebelum menumpahkan celotehan masyarakat yang cerewet sekali di otak ini. Soalnya seperti para pembaca setia tahu, saya sering curhat colongan di hampir semua tulisan yang pernah saya posting di sini. Sadar atau pun tidak sadar, banyak sekali yang saya selipkan tentang kehidupan sehari-hari di setiap tulisan. Makanya saya ragu, takutnya tidak sengaja mengumbar kehidupan rumah tangga yang harusnya cuman jadi santapan kami saja. Tapi tadi setelah berselancar di youtube dan menemukan channel senja dan pagi, saya memulai tulisan ini dengan bismillah saja. Semoga tidak banyak yang offside ya.

Untuk para mantan single halal di luar sana, menurut kalian menikah itu rasanya seperti apa? Pernah tidak sih kepikiran orang yang sekarang diizinkan mendengarkan dengkuran indah kalian saat tidur bakalan jadi teman hidup sebagai suami atau istri kalian? Terus terang, saya bahkan tidak pernah kepikiran akan menikah secepat ini. Walaupun setahun sebelum menikah saya memang sesekali menyelipkan doa tentang menikah, tapi tetap saja saya tidak pernah kepikiran akan menikah secepat ini. Apalagi dengan orang yang sekarang saya sebut suami. Dari awal kami kenalan hingga akhirnya berhasil punya buku unyu berisi foto berlatar belakang biru, saya masih sering spechless jadi istrinya doi. Namanya juga jodoh, mau berapa tahun tidak bertukar kabar pun akan bertemu dengan cara yang tidak pernah terpikirkan.

Anw, saya tidak pernah cerita dengan detail pertemuan kami atau bagaimana akhirnya si suami memutuskan datang ke rumah untuk melamar padahal cuman pernah melihat saya secara langsung sekali 9 tahun lalu dan saya tidak pernah ketemu dengan doi sekali pun. Pokoknya doi datang ke rumah, dan saya biarkan orangtua yang memutuskan. Alhamdulillah berjodoh ternyata.

Kalau ada yang bilang kalian pasti, pasti dong, akan ketemu dengan pasangan yang berbeda dengan kalian, hmm tidak begitu juga sih. Saya dan suami banyak sekali kemiripannya. Sama-sama cuek, kurang inisiatif, sangat tertutup, dan gamer kelas berat. Sampai ipar sendiri bingung kok bisa kami mirip sekali. Bedanya si suami itu tipe orang yang lebih banyak diam, dan tidak akan pernah menulis seperti ini di platform manapun. Rasanya menikah dengan orang yang banyak kemiripannya? Langsung merasa bersalah sama orang-orang dekat karena selama ini ternyata sifat saya yang tertutup tapi mau dimengerti itu bikin harus setia sahabatan sama si sabar dalam menghadapi saya. Insya Allah 17 november nanti ini saya genap 3 bulan jadi istrinya doi, bener-bener dibuat belajar bagaimana membaca gerak-gerik manusia dengan sabar dan telaten. Soalnya dia tidak banyak bicara dan bukan tipe curhat, jadi ya salam kadang sering salah paham dan salah omong. I’m sorry my husband, hamba tak tahu. Alhamdulillah, mertua bener-bener bisa diajak bekerjasama dalam riset membangun rumah tangga yang insya Allah “baik-baik saja”. Beliau sering kasi bocoran-bocoran yang super duper helpful yang sering saya jadikan pedoman dalam bertingkah laku. *blow virtual kiss for my mother in law~

Menikah itu menurut saya sungguh sangat menakjubkan. Banyak sekali ranjau-ranjau yang akan dilewati sesekali, dan akhirnya berusaha bersama-sama untuk melepaskan diri dari ranjau tersebut tanpa menimbulkan ledakan yang parah. Seumur hidup, saya tidak pernah membiarkan diri saya untuk leluasa menyampaikan perasaan-perasaan yang berseliweran di hati secara gamblang, dan ternyata dengan menikah saya membiarkan diri untuk jatuh cinta tanpa takut untuk disakiti. Setidaknya saya tahu saya selalu berusaha semaksimal mungkin menghalau hal-hal receh untuk membiarkan air mata ingin terjun dengan mudah, karena sederhananya siapapun yang menikah tidak ada yang ingin tidak bahagia. Sekalipun sesekali ada hal kecil yang tidak sesuai keinginan, tetapi siapapun pemburu kebahagian akan tahu hal kecil itu hanya kerikil yang walaupun diinjak dan terasa sedikit menyakitkan akan dijadikan sebagai pengingat bahwa perjalanan untuk sampai tahap ini sangatlah panjang dan tidaklah mudah. Anw, I am happy and have no intention of being not happy. 🙂

Kami mungkin berdua bukan manusia perfect yang bisa dibanggakan satu sama lain. Tapi hingga saat ini, saya selalu dan ingin yakin bahwa kami akan bersama-sama menjadi manusia yang lebih baik di mata Allah. Walaupun sekarang kami sedang tertatih-tatih membebaskan diri dari belenggu setan-setan yang memeluk erat,  tapi saya selalu percaya pernikahan tidak diciptakan oleh-Nya untuk menjadikan kita tidak baik, tentu sebaliknya.

Hey, suami yang sibuk mencari nafkah, semoga kita bisa sama-sama mewujudkan impian yang pernah kita sematkan di dalam doa sebelum menikah dan setelah menikah ya.

I always miss you~ 🙂

0

Killing The Depression

Sebelum lanjut baca ini, kalian boleh baca tulisan yang beberapa tahun lalu kuperuntukkan ke orang-orang yang mungkin sedang tenggelam terlalu lama dalam kesedihannya sendiri di sini.

Pernah tidak merasa sangat sedih sampai rasanya sesak sekali hanya untuk mencari akar permasalahannya? Rasanya hanya ingin mengiringi oksigen dengan kesedihan saja dan berusaha sekuat tenaga membentengi diri dari bahagia yang berpeluh ingin menerobos masuk untuk meluruhkan duka yang ada. Bukannya tidak ingin bahagia, hanya ingin sedih saja.

Entah bagaimana cara kalian menghadapi sebuah kesedihan, tetapi biasanya aku duduk bersila cukup lama pada suatu waktu dan menikmati hati yang seperti ditusuk beribu jarum dari segala arah tanpa ada niatan awal untuk mengakhirinya. Seperti beberapa tahun lalu, saat dirundung permasalahan tak terbayangkan, aku mengurung diri cukup lama. Tanpa membiarkan apapun mengusik kesenanganku untuk dirasuki kesedihan sedemikian rupa. Aku bahkan tidak menangis, tidak mengutuki siapapun, tidak menyalahkan Tuhan, atau tidak mencari perhatian ke siapapun. Aku hanya ingin sedih saja.

Sampai akhirnya kaki yang sudah hampir mati rasa karena terlalu lama tak dialiri darah kehidupan nyata, menemukan caranya lari ke luar mencari bantuan. Namun nyatanya, tidak afdol jika kaki yang sedang berjalan tidak tersandung batu dan terjatuh. Aku menemukan puzzle baru yang agak membuatku tertatih-tatih dalam menemukan solusi pada kisahku. Aku ternyata tidak biasa meminta tolong. Tidak saat sesak napas mendera dan pusing yang tak main-main saat di keramaian. Tidak saat menyadari diri tak pandai bercerita. Tidak saat perasaan rasanya membuncah tak terkendali. Tidak saat ingin sekali didekap dan diberitahu semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak tahu caranya meminta tolong dengan benar dan itu sungguh menyebalkan karena aku tahu aku sedang butuh bantuan.

Hingga akhirnya aku hanya tertawa-tawa saja di depan orang. Setiap serangan panik datang, aku pura-pura ingin ke toilet untuk menenangkan diri, terkadang muntah atau hanya memaksa diri ingin buang air padahal perut sedang kosong. Ironisnya, ternyata tertawa-tawa di depan orang kujadikan usaha untuk mengeruk sedikit demi sedikit sedih yang menggerogoti. Iya, pada akhirnya aku tetap ingin menetralkan pertemananku yang terlalu condong ke kesedihan. Aku butuh bahagia, walaupun waktu itu kupikir cara yang paling baik adalah dengan tertawa-tawa di depan orang.

Hal paling mengejutkan dalam perjalananku menuju ke pribadi yang tertawa-tawa saja di depan orang itu, ibuku tiba-tiba saja menyarankan untuk pergi ke psikolog. Aku menolak halus dengan alasan ingin sesi konsultasinya harus diiringi solusi agama. Ibu menyebut beberapa nama temannya, dan aku mengangguk saja tanpa menyetujui satupun nama yang dianjurkan olehnya. Sejujurnya waktu itu aku bingung karena seharusnya saran itu tidak terlontar dari ibuku yang hampir tidak pernah kutemani berbagi cerita dengan air mata. Malah lebih sering senyum-senyum. Hal itu yang membuat aku sadar bahwa selama proses penyembuhanku itu, aku hanya akting saja. Padahal kukira sudah oke, ternyata aktingnya saja yang oke, menyebalkan bukan?

Selama hampir tiga tahun aku mencoba memutuskan silahturahmi dengan serangan panik secara baik-baik. Masih dengan tertawa-tawa di depan orang. Masih dengan pura-pura ke toilet saat ingin muntah karena melihat banyak sekali manusia. Sampai pada titik aku akhirnya menemukan alasan untuk tidak berpura-pura. Alasan yang membuat kebahagian di dalam diriku berkembang biak dengan cepat. Aku pun mengatasi serangan panik itu dengan banyak menunduk saat berjalan, dan berusaha memusatkan netra pada hal yang ingin kulihat saja. Sambil bersenandung bahwa semua akan baik-baik saja sepanjang alasan itu selalu kupegang erat-erat. Sekalipun sesekali kudapati diri menertawai sesuatu yang seharusnya tidak kutertawakan, tetapi empatiku menaiki tangga hidupku pelan-pelan. Ceria dan senyum perlahan-lahan kulemparkan tanpa kepura-puraan. Syukurku jadi sering kugandeng di setiap langkahku. Jadi pandai membahagiakan hal-hal kecil dan mengabaikan hal remeh yang bisa menggoyahkan iman bahagiaku. Aku akhirnya percaya bahwa kesedihan dan kebahagian itu adalah teman baik. Mereka akan saling mengiringi, dan tidak terpisahkan. Hanya butuh dikondisikan saja mana yang perlu dibiarkan dominan.

Akhir-akhir ini aku jadi selalu ingat dengan petuah ibu setiap melihatku terlalu ‘kaku’,

“santai saja, Fah.”

Iyap, santai saja. Everything happens for good reasons!

Anw, baru pertama kalinya berani membahas masalah ini. Cerita tentang patah hati yang tidak akan pernah kutuliskan dan kusebutkan penyebabnya. Patah hati yang mungkin membekaskan trauma cukup dalam tapi pun memberi pelajaran yang tak main-main.

Teruntuk kalian sedang dipeluk kegelisahan yang memuakkan, seeking for help will not make you looked miserable. Seeking for help might be the best solutions for your problems. Entah itu dengan menuturkan masalah dalam suara, atau hanya berbagi senyum saja tanpa perlu ada yang diutarakan.

Sedih tak apa. Hanya jangan lupa sesekali menengok bahagia. Mungkin masalahmu tidak akan selesai, atau mungkin kamu akan hidup dengan masalah itu sepanjang napasmu masih berhembus. Tapi jangan lupa ada bahagia di setiap sedih.

Sadness and happiness are good friends!

Semangat ya kamu, iya kamu! 🙂

.
.
.
.

Ini kutulis karena berita salah satu artis korea, Sulli, yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang bikin shock beberapa hari lalu.
You could never imagine hows dark people’s life until they choose to present their sadness in the worst way.
Being a good listener isn’t easy, but at least trying to listen is much much better than doing nothing.

0

(Poem) Keasingan Terindukan

Tanpa sadar,
kamu lolos masuk ke dalam cengkraman sebuah perasaan.
Merajuk merdu diterpa rasa asing dari segala arah.
Merona malu dirangkul sekalimat pembuat jantung bermaraton.

Lalu netramu bertemu dengan dirinya sendiri.
Tak ada yang spesial di sana.
Hanya sejiwa penuh jurang berjembatan,
yang dilewati khusus oleh si pesimis saja.

Mendadak kamu mengasihani pemilik hati seberang.
Namun kamu jahat,
karena langkahmu pun tak rela beranjak dari segala keasingan terindukan itu.

Cihuuy, lagi mode pengen nulis terus nih.
Gimana? Sudah cukup menye-menye belum?

0

Mei Ngoceh #1

Assalamualaikum~

Marhaban ya Ramadhan

Sudah lama tak menulis-menulis cantik di blog nih. Sebenarnya blog ini di-private dari bulan kapan gitu tapi biarlah ku-setting public lagi biar bisa sharing-sharing hal gajes di sini.

Alhamdulillah hampir tiga bulan ini saya diberi kesempatan oleh Allah merasakan manis dan pahitnya menjadi seorang HRD di salah satu perusahaan telekomunikasi di kampung halaman sendiri. Terus terang dulu pas SMA cita-citanya masuk S1 psikolog tapi Qadarulloh malah jadi anak IT gagal. Sekarang pas jadi HRD bersyukur selama kuliah lebih sering main perasaan sama komputer daripada manusia. Hahaha.

Capek banget. Demi apapun, mengurus manusia itu capek bukan main. Bayangin gimana hebatnya Allah yang mengatur manusia di seluruh muka bumi ini? Gimana hebatnya Rasulullah dengan sabarnya mengajak umatnya untuk berada pada jalan yang benar? Masya Allah. Saya yang cuman baru urus payroll pengen nangis rasanya, cemen bet. Saya tidak menyamakan diri saya dengan Allah dan Rasulullah ya, cuman mengagumi. Herannya, ramadhan ini kerjaan banyak pakai banget. Sistem baru, karyawan baru, masalah karyawan banyak banget, bikin peraturan perusahaan yang berubaaaah terus,  alhamdulillahnya sudah ada HR recruitment baru semenjak ramadhan jadi kerjaan berkurang satu lagi. Saya kelelahan sampai lupa kalau lagi ramadhan. Malamnya habis buka puasa dan magrib-an, eh teler dong. Tidak bisa bikin apa-apa saking capeknya. Kelihatan kayak mengeluh ya? Iya, saya mengeluh karena Ramadhan ini kerjaan menyita waktu sekali. Sedih tau, kenapa kerjaan yang bejibun ini datangnya pas Ramadhan? Mau tidak dihiraukan tapi ada tanggungjawab sebagai HR bagian payroll yang paling tidak bisa diabaikan.

Kalau saya tidak menyelesaikan tanggungjawab dengar benar, kasian orang nanti tidak terima THR dan gajian. Iya, Allah yang memberi rejeki manusia, tetapi tugas hamba-Nya ya berusaha. Tugas saya ya berusaha menyelesaikan kerjaan tersebut dengan semaksimal mungkin, soalnya kesian kalau cuman karena kelalaian saya pada tidak terima gaji. Kesian bet. #soktegarpadahalpengennangis

Hari ini itu lagi sangat butuh dukungan moral, makanya karena saking tidak kuatnya sama tekanan kerjaan belakangan ini akhirnya curhat pas sahur, lah malah dibandingin sama Sandiaga Uno yang pegawainya ratusan ribu. Ya kali beliau yang hitung gaji karyawannya. Nggak ngerti lagi aku mak. Akhirnya cuman diam-diam, dan kembali merenungi deadline kerjaan yang mepet sekali.

Doanya semoga kerjaan ini cepat selesai, dan semoga masih sempat memburu ketinggalan Ramadhan ini. T_T

0

March #1

Lagi interview terus sadar ternyata sudah masuk bulan maret. Alhamdulillah, nggak terasa sudah bulan maret di tahun 2019. Walaupun disambut dengan demam, flu dan batuk tapi tak menyurutkan niat tuk ngoceh di mari dong.

Si sehat lagi lucu-lucunya di awal maret ini begitupun kerjaan. Saya sampai sengaja nurunin jumlah yang mau diinterview saking nggak sanggupnya ngomong. Suara sengau, mata kayak pengen nangis terus, batuk, dan hidung meler kayak aliran sungai kalau lagi hujan, deres banget cuy. Tapi keluhan di hidung yang unyu ini tak boleh menurunkan semangat tuk mencari pundi-pundi kandidat(?). Cih, soknya. Padahal cuman pencitraan. Hahahaha

Hari ini setelah melewati hari yang makin ramai di kantor dan menghadapi pemandangan yang tidak biasanya, bikin saya bersyukur sudah belajar dengan maksimal bagaimana caranya menahan diri untuk tidak mengungkapkan semua perasaan dan isi pikiran dalam satu hela. Sejujurnya saya bangga, dan pengen meluk diri sendiri karena berhasil untuk mengatur emosi dan menempatkan perasaan pada waktu yang tepat.

Mungkin kalau isi hati dan pikiran ini mau diintip sedikit saja, orang tak akan ada yang menyangka sekuat apa saya menahan semua perasaan yang bersarang di sana untuk tak keluar di saat yang tak semestinya. Saya tidak bilang saya lebih baik atau keren dari pemandangan tersebut. Tapi saya cuman pengen bilang, “kamu hebat Afifah!” ke diri sendiri sepanjang jalan pulang ke rumah.

Istigfar setiap sentilan iri masuk ke pikiran, alhamdulillah berhasil membentengi diri dari perusak “kamu hebat Afifah!”. Pokoknya alhamdulillah, saya bersyukuuuuur sekali diberi kesempatan untuk diperlihatkan pemandangan tersebut.

Kuncinya, bersabarlah. Insya Allah sabarmu bikin bersyukur menggunung setinggi tak terhingga, dan insya Allah ada hadiah manis untuk orang-orang yang bersabar. 🙂

.
.
.
Belakangku sakit sekalee~
Kutakbisa tidur padahal ngantuk sekale~

0

February #3 – Mumet

Pertanyaan beberapa hari lalu entah kenapa masih terbayang-bayang sampai hari ini. Sekuat tenaga saya menenangkan diri, masih saja kepikiran. Teman dekat tempat meminta petuah pun berpesan jangan terlalu memikirkan sesuatu di luar kemampuanmu. Tapi sesungguhnya karena saya menempatkan jawaban itu di luar kendali pikir sendiri, hari saya malah dipenuhi kekhawatiran yang tidak biasanya. Apalagi di masa pra-menstruasi, astagfirulloh kadang sampai pengen muntah saking mumetnya.

Sulit ya dijelaskan dengan kata-kata, tetapi jawaban yang saya lontarkan bikin saya kaget setengah mati. Iya, jawaban sendiri, eh kaget sendiri. Aneh, kan? Entahlah. Saking bingungnya, saya sampai unsend beberapa pesan karena takut sendiri mengutarakan hasil pembicaraan beberapa waktu lalu.

Sederhana sekali sebenarnya, tetapi efeknya seumur hidup. Iya iya, lebai. Tapi ini seriusan, saya pengen muntah nulis ini. Bukan karena jijik atau apa, tapi karena … tahu tidak sih perasaan yang seperti membuncah sampai bikin perut seperti teraduk-aduk? Iya, kayak begitu. Kalau tidak tahu, juga tidak apa sih. Yang jelas begitu.

Gajes.

Apalagi pas baca Al Qur’an beberapa hari ini membahas itu mulu pula artinya. Sepertinya pertanda dari Allah untuk percaya sama jawaban sendiri. Walau tetap saja masih kaget, tidak tahu kenapa.

Semoga kedepannya tidak ada lagi pertanyaan menjebak dari beliau. Saya tidak sanggup rasanya mengulang jawaban yang sama. Cukup di hati saja.

Sudah, itu saja update-an hari ini.

All is well, Afifah. 🤘

.
.
.
Kemarin makan sop saudara sulawesi langsung pusing mak. Padahal dagingnya cuman makan setengahnya pula. Sudah mirip kayak Ria SW tiap makan daging tertentu langsung pusing. Berasa artis bett.