0

(Poem) Duduk Yang Seperti Terbang

​Mereka duduk-duduk.
Di bawah langit tak begitu berawan.
Mereka tidur-tidur.
Di atas karpet berbulu tak bau.
Mereka menunduk-nunduk.
Mendaratkan netra pada sederet wahyu Allah.
Mereka memandang-mandang,
dari atas kursi rodanya,
penuh takjub.
Mereka tertawa-tawa,
kemudian terdiam,
mengindra sekeliling,
ditemani suara muadzin mengumandangkan seruan kewajiban.
Mereka memandang tempat kepala kan disujudkan,
mengangkat kedua tangan, membisikkan kebesaran Allah,
lalu menyerahkan raga sepenuhnya pada Sang Pemilik Semesta Yang Maha Baik.
Mereka duduk-duduk, lagi.
Menanti dengan sabar,
Muadzin di waktu lainnya menyalurkan suara seruan kewajiban selanjutnya pada microphone.

Makassar, 30 August 2017,
dengan perasaan kekenyangan teramat sangat.

Iklan
0

(Poem) Salam Yang Berbeda

Assalamualaikum.
Walaikumsalam.
Saling berbagi cerita dengan menukar pandang.
Membingkai bulan sabit di wajah masing-masing.
Letih tetapi hadirnya melengkapi,
mendinginkan api penat dalam sekejap.
Lalu suara terdengar lembut,
… selamat datang kembali.

.
.

.
.
.
Kiyaaaah, dapat ide lagi habis nonton Evergreen Love.
Langsung cakar-cakar indah di buku.
Tadaaaang~ another post from me. Gimana? Cukup alay nggak? LMAO.
Sukaaaaaa banget filmnya. Sukaaaaaaaaaaa.
Film pertama dengan slow pace yang saya nonton tanpa skip-skip.
Anw, saya aslinya penulis puisi, dan film jepang itu selalu sukses bikin jiwa puitis saya membara. hahaha.

0

Random Thought EP02 – Ngomongin Masa Depan

ngomonginmasadepan

 Letting go of old habits, old memories.
Never stop believing … we can have a new beginning.

Apa hal pertama yang muncul di pikiranmu kalau disuruh membahas masa depan?

Pekerjaan?
Keluarga?
Pernikahan?
Sekolah?
Agama?
Kepribadian?

Bagi saya, ngomongin masa depan itu seru sekaligus menjengkelkan. Seru karena membahas sesuatu yang nggak jelas apa akan terjadi atau tidak, dan menjengkelkan karena kadang kita terlalu hanyut sama mimpi-mimpi dan obsesi-obsesi kita sampai melupakan masa sekarang. Bagaimana kita seru-serunya memikirkan gimana cara kita bakal mendidik anak-anak kita nantinya, padahal masih single selama 25 tahun. Bagaimana kita seru-serunya membahas pekerjaan apa yang kita inginkan nantinya, padahal bangun buat shalat subuh saja setengah mati dilawan setannya. Bagaimana kita seru-serunya membahas bobroknya negeri kita, tapi lupa ada Palestina dan Syria yang mustinya kita khawatirkan. Bagaimana kita seru-serunya membahas pribadi seseorang, tapi lupa apakah kita sudah menjadi pribadi yang baik atau belum? Menjengkelkan, kan? Iya, sangat.

Saya senang membahas bagaimana kita yang dulunya nggak gitu peduli, menjadi peduli. Bagaimana kita yang dulunya nggak memperhatikan ternyata bulan Syawal itu banyak yang nikah, menjadi memperhatikan. Bagaimana kita yang dulunya nggak memperhatikan gimana kualitas ibadah kita, menjadi memperhatikan. Bagaimana kita yang dulunya terlalu sibuk mikirin cowok yang entah kapan melamarnya, menjadi melepaskan semua hal-hal tersebut dengan yakin akan dipertemukan dengan yang halal. Bagaimana kita yang dulunya nggak yakin bisa menjadi baik, tetapi akhirnya percaya sama diri sendiri, dan akhirnya berusaha menjadi lebih baik. Tahu nggak, kenapa tiba-tiba kita mendadak berubah atau mendadak bijak? Itu karena kita sedang berbincang masa depan dengan diri kita sendiri. Tuhan nggak pernah tidur, Dia tahu hamba-Nya tengah sibuk memperbaiki diri, dan didatangkanlah semua pikir-pikir dan keadaan-keadaan yang bikin kita menjadi baik.

Intinya? Omongan masa depan itu bisa jadi trigger kita untuk memperbaiki masa sekarang. Misal, kita pengen anak-anak kita nantinya itu di sekolah yang bisa membangun keagamaan mereka. Ya, kita usahain menjadi pribadi beragama yang lebih baik, biar bisa mengenalkan agama sebelum mereka masuk sekolah nantinya. Maksudnya biar si anak-anak ini nggak kaget lagi pas diterjunin ke sekolah yang mengaji jadi hal wajib. Contoh lain lagi, kita pengen temen kita baik. Ya, kita berubah dulu jadi baik, kalau mereka contohin Alhamdulillah, kalau nggak, mungkin usaha kita menjadi baik belum maksimal. Yang lain lagi nih, kita pengen temen dekat kita nggak disakitin sama cowok lagi. Ya kita contohin, hidup tanpa lelaki bukan muhrim sebelum menikah itu nggak tragis-tragis amet kok, malah tentram. Yang lain lagi, yang lain lagi, kalau kita pengen kerja di tempat yang bagus. Ya, usaha bagusin CV, entah dari belajar bahasa inggris, belajar pemrograman lagi, atau belajar ngomong yang manis :p. Sebagai orang yang usahanya naik turun, saya yakin orang yang berusaha itu bakal bertemu dengan sesuatu yang lebih awesome dari yang dibayangkan. Anw, lagi-lagi ini noted to myself. Jangan ada yang merasa tersinggung ya. Tapi kalau merasa tersinggung dalam hal yang baik, yaa… bagus, sih. wkwkwk.

Sekarang saya sering nyeletuk pengen umroh lagi tahun depan tapi bareng suami (Amin ya Allah). Aneh? Iya, tapi nggak papa. Sudah terbukti, omongan sehari-sehari tentang masa depan itu bisa disamaratakan dengan doa. Makanya hati-hati kalau ngomong. Nggak asyik, kan, kalau dikabulkan yang jelek-jelek. Hiks. Naudzubillahmindzalik. Anw, tolong diberitahu kalau misal ada yang salah dari cara pikir saya. Peduli kalian penting untuk saya. 😀

.
.
.
.
Ciyaaaat,
ini salah satu ide yang berhasil di -The End- kan dari 5 draft yang muncul kemarin. Siap-siap dispamming sama random stuffs from me. Wakakaka.
Oke, side note untuk tulisan kali ini,

Belajarlah mengganti umur dengan memiliki sesuatu yang telah berubah menjadi lebih baik. Sekalipun masih ada hal-hal negative lainnya, tetapi percayalah mereka akan mengekori jejak si sesuatu tsb untuk menjadi baik.

2

BERJUJUR PADA DIRI SENDIRI DAN KEADAAN SEKITAR

Sun black

Baca dulu tulisan ini sebelum lanjut baca tulisan saya, soalnya saya terinspirasi dari doi.

Beberapa waktu lalu, twitter memang lagi dihebohkan oleh tweet-tweetnya dia. Silahkan dicek sendiri di twitter dia, yak (gitasav). Honestly, saya juga termasuk orang yang nggak gitu setuju sama CARA dia berpendapat. Waktu itu saya bilang kayak gini,

twitter

baca dari bawah yak.

Saya sudah mengikuti video-video dia dari sebelum dia super terkenal kayak sekarang. Walaupun beberapa kali pendapat dia berkontradiksi dengan kepercayaan saya, but I really adore her. Gimana dia berani mengungkapkan hal-hal yang orang nggak berani ungkapkan secara public. Gimana dia bisa menginspirasi anak-anak muda untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari segi religi. Gimana dia bisa mengajak tanpa menyuruh cewek-cewek untuk menutup auratnya. Saya kagum, gimana orang yang umurnya sama dengan saya bisa memiliki pengaruh besar ke orang-orang lain. Sementara saya sendiri, masih sibuk mempertanyakan hal-hal sepele macam hati.

Saya dan dia punya satu kesamaan, kami sama-sama introvert, dan saya tahu betul orang introvert itu sering disalahpahami oleh orang-orang sekitarnya. Kebanyakan orang introvert itu nggak tahu gimana caranya menyampaikan sesuatu dengan cara yang bisa diterima orang-orang lain. Terus terang, tweet dia kemarin emang terlalu general, wajar ada yang salah paham. Dan hadirnya tulisan dia, orang-orang jadi tahu maksud sebenarnya dia itu apa. Memang kadang, sekalipun orang-orang bakal tetap nggak suka dengan kita, kita memang perlu mengklarifikasi sesuatu yang sudah dicibir berlebihan. Kan, akhirnya orang jadi tahu, dibalik vlog-vlog bahagia dia, sebenarnya ada derita yang nggak sedikit. Saya sebagai orang yang menganggap hidup dan sekolah di Jerman tanpa beasiswa itu adalah sesuatu yang mewah, akhirnya mengerti ternyata … ada harganya untuk bisa seperti itu. Baca lebih lanjut