0

Be The Best Version of You.

Manusia itu sebenarnya sama saja sih. Yang membedakan apa mereka mau berubah menjadi lebih baik atau nggak. Banyak di antara kita sibuk men-judge, sibuk menganggap diri paling baik tapi lupa memperbaiki diri sendiri. Lupa berkaca dan menelaah celah-celah kesalahan di dalam diri. Kalau kata orang jangan terlalu sibuk mencari kesalahan, soalnya nanti lupa dengan kebaikan diri sendiri. Ah, padahal kebaikan tidak usah dicari. Mereka terpancar tanpa perlu kita dikte tiap hari. Mereka tercatat tanpa perlu dihapal seberapa banyak kebaikan yang sudah diperbuat. Kebaikan nggak untuk dihitung karena kebaikan harusnya nggak terhitung.

Kalau dengan orang lain mungkin mau menggunakan istilah terima apa adanya, silahkan. Tapi dengan diri sendiri, sebaiknya dihindari. Men-judge diri sendiri, me-list segala “ketidakwajaran”, dan menjadikan itu sebagai identitas yang harus dimaklumi oleh siapa saja bahkan diri sendiri. “Saya memang begitu, nggak terima? Sana pergi.” Iya, kita nggak bisa membuat semua orang suka dengan kita, nggak semuanya orang bisa cocok dengan kita. Tapi itu nggak menjadikan kita stuck pada pribadi yang “nggak wajar” terus-terusan, sampai membiarkan diri mengeneralisasikan pribadi pada hal-hal tertentu. “Anak pertama, wajar keras kepala.” Itu melarikan diri dari perubahan dengan cara klasik.

Alasan manusia diciptakan berbeda-bedanya karakternya katanya untuk saling melengkapi. Mari telaah kata-kata ini. Tarik garis lurus bahwa saling melengkapi adalah melengkapi masing masing pribadi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kalau dulu susah mendengar, bertemu dengan pasangan yang selalu ingin didengar cerita recehnya, jadi berubah menjadi pendengar yang baik. Awalnya hanya ke pasangan, lama-kelamaan jadi pintar menyediakan telinga untuk mendengar cerita perjuangan teman-teman karibnya. Kalau dulu sering teriak-teriak, ketemu dengan pasangan yang lemah-lembut dan tidak banyak berbicara, jadi berubah menurunkan suara dan sesekali membiarkan pasangan bersuara. Awalnya hanya ke pasangan, lama-kelamaan jadi pandai tidak mengaungkan “aku juga aku juga” terus ke orang lain. Definisi saling melengkapi bukan “terima aku apa adanya, titik.”, tetapi “terima aku, dan semoga kita bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik, ya.

Tidak jauh berbeda dengan diri kita sendiri. Kalau kata orang “aku” berarti single, sepertinya kurang tepat. Sebab “aku” terdiri dari diri sendiri dan akhlaknya. Mereka dua teman baik yang saling berkesinambungan. Dimana diri sendiri memiliki tanggungjawab untuk membawa si akhlak pada ranah mana, dan akhlak bertanggungjawab memancarkan dari segala titik denyut hidup kita ke segala penjuru langit dan bumi. Mereka saling melengkapi, dan tentu saling menyokong dalam menjadi terbaik kita. 🙂

Iklan

Diproteksi: Luar Jendelamu

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

0

(Poem) Pencari Manusia

IMG_20180317_175500_802

Kamu manusia,
Dia dan aku pun begitu.
Manusia yang selalu mencari manusia.
Hati buntu pun sibuk menyuarakan butuh sandaran manusia.
Krisis iman pun diartikan krisis kehadiran manusia.
“I need somebody”
Begitu vokalmu mengudara.
Satu manusia tak cukup,
Dua apalagi
Mungkin kamu kelebihan oksigen.
Atau mungkin ingin tanding pamer seberapa dermawan udaramu terbagi.
Semesta menggeleng gelisah,
melihat pikirmu yang terlalu fokus mensujudkan diri pada penyembur co2.
Hingga lalai untuk sadar,
bahwa diri telah termakan rakus dunia.

Jakarta, 6 April 2018
Di kamar kosan yang berantakan.

0

Welcoming the new stage of your life

As a new member of 26 group, I really think we shouldn’t judge ourselves just by our age. Although being old is matters for some people, I think the way we appreciated our special moment is more important than overthinking of numbers.

This year is the quietest birthday ever of my life. No fancy congratulations, just casual ones, but I do feel more blessed than ever. At some point I realise that I don’t need those birthday greetings from every person who knows me. Just best friend and family wishes already make me full of happiness. I’m really glad that I have you in my life, guys. :*

In this new stage, I hope that I can be a better person. I can love Allah not just by mouth and heart but with action. I can be more patient. I can love my parents more than before. I can get a new job which doesn’t make me feel far from God. I can meet someone who wills to teach me how to love Allah more. I can more appreciate those people who never tired of making me sure I’m worth to be fight. Yeah, those are pretty basic du’a, but don’t underestimate the power of du’a. You won’t know how strong your wishes influence your life until you make ones.

Wishing the good ones and erasing the bad ones are the best trick to be happy. I have just started using that trick too. We can try it together~ 🙂

0

Cengeng Sejenak

Belakang saya sakit, pengen nangis rasanya. Tapi nangis nggak bikin sakitnya hilang. Nangis nggak bikin saya bahagia.

Di perjalanan pulang, saya terus terusan bilang, ya Allah berikanlah hamba kekuatan, jangan biarkan hamba jadi wanita cengeng. Ujian ini bikin saya lemah. Begitu mudah dibawa perasaan. Saya nggak tahu harus berbuat apa. Saya beneran bingung. Walaupun saya tahu harus lari kemana, tapi dasar manusia, selalu mencari manusia.

Janji nggak bakal overworked lagi. Sehat itu mahal. Di saat masih begini, ingat afifah, kamu masih sendirian. Pulang dalam keadaan sakit belakang nggak bakal ada yang urusin. Sehat itu susah kalau sudah nggak sehat. Huu, dasar afifah sok strong padahal cengeng. 😛

Hiks, sedih.

0

Takut Yang Nggak Keren

Banyak sekali hal hal yang berseliweran di pikiran saya akhir-akhir ini, sampai-sampai saya bingung mengurutkan prioritasnya. Mulai dari pekerjaan yang alhamdulillah ujungnya agak kelihatan, sampai mengenai hal-hal religious yang tidak bisa saya ungkapkan di sini.

Untuk yang pertama, entah kenapa mendadak merasa takut untuk memulai kerja. Saking takutnya untuk pertamakalinya dalam hidup, saya pengen ketemu jodoh ijab kabul sesegera mungkin. Nggak tahu kenapa saya jadi butuh teman ngobrol halal. Tapi lucunya saya tahu saya juga bakalan lebih takut untuk memulai step hidup yang itu.

Ah, manusia dengan kontradiksinya.

Mungkin karena kebanyakan berinteraksi dengan anak kecil, hati saya jadi agak menjurus ke satu tempat. Tapi ada satu yang paling saya takutkan, saya nggak mau memulai hari karena ingin bertemu jodoh. Niatnya mulai aneh, kan, kalau sudah begitu?

Tanda-tanda hati mulai goyah. Nggak keren.

Tulisan terandom dan nggak jelas di ahad ketiga di januari 2018. 

Jakarta, dengan udara dingin dan gerimisnya yang awet.