0

You(We) Are Not Alone

IMG_20180103_020245_386Di sabtu petang akhir desember, kamu mendudukkan diri di salah satu bangku panjang taman kota. Menenggelamkan diri pada pikir yang terkalut-kalut setelah menjalani ritual liburan yang tak kunjung membuat hatimu merasa tenang berkepanjangan. Kamu menoleh pada kursi kosong di sampingmu, berandai-andai ada sosok penghisap beban pikiran tengah duduk bersamamu saat itu. Namun angin dingin menyambar seluruh indramu, menyadarkan bahwa oksigen di sekelilingmu hanya dihirup oleh dirimu sendiri. Tidak ada siapapun selain dirimu.

Kamu menunduk, menengadah, dan menghembuskan napas berat. Ada tangis yang bertalu-talu di ujung pikirmu. Ada luka yang membusuk di balik bibir sabitmu. Ada kecewa yang menjejaki hatimu sekian lama. Pertanyaan demi pertanyaan meluncur bak kereta tanpa stasiun perhentian. Otakmu mengepul pun tidak menemukan jawaban. Kamu bingung mengidentifikasi amarah yang membara pada setiap lini hidupmu. Teman, orangtua, keluarga, bahkan makhluk tak memiliki akal pun mampu meluapkan ketidakpuasaan dari dalam dirimu.

Kamu marah pada teman yang tidak mengerti dan tidak peduli. Kamu marah pada orangtua yang kamu anggap tidak menghargai dan menyayangimu. Kamu marah pada langit yang menggelap. Kamu marah pada pohon yang menumpahkan daun kuning keringnya. Kamu marah pada kursi kosong. Lalu kamu marah pada dirimu sendiri. Marah kenapa menjadi seorang kamu.

Kamu jadi rajin menunjuk penuh tenaga tak tentu arah. Merajuk seperti bocah yang dilarang makan coklat setiap pelukan tak berlengan mencoba merangkul. Menutup telinga sesaat setelah lagu-lagu bernada bujuk mencoba meredamkan amarahmu. Hatimu terlampau hanyut dalam ketidakmenentuannya.

Lalu untuk pertamakalinya setelah sekian purnama, pada maghrib terakhir di 2017, petang mampu meleburkan kekalutanmu dalam kumandang adzan. Hatimu menghangat, seluruh tubuhmu bergetar hebat, dan matamu berdenyut menahan haru. Kamu tersadar, dirimu sendiri setengah mati mengartikan sederet kata yang terangkai dari bibirmu, apalagi orang lain yang bahkan belum mendengar sepatah kata jujur darimu. Kamu mendadak malu karena terlalu dibutakan oleh kesendirian, sampai-sampai membutakan diri untuk menetrai kebaikan yang berserakan di ujung pandangmu. Kamu terkejut menyadari kenyataan yang tak terbantahkan bahwa Tuhan tidak menciptakanmu sendirian. Tuhan tidak mengajarimu untuk menyendirikan diri. Hatimu tersenyum, begitupun hari mengikutimu.

————-

Sebenarnya ini pengen diikutin di 30harimenulis di ig. Tapi karena kepanjangan, jadi dipost di sini.
Tulisan ini terinspirasi dari berita yang menggegerkan dunia kpop sesaaat sebelum tahun 2017 berlalu. Saya kaget dan bertanya-tanya kenapa harus seperti itu? Sampai akhirnya lahirlah tulisan ini. Tulisan yang bertujuan pengen kasih tau bahwa kita nggak sendirian. Kalian nggak sendirian. If you need someone to talk, just message me. I’ll be your trash problem, yuhuu. 🙂

Iklan
0

Ketika Tuhan Kangen

Di saat merasa hati terasa sangat berat menghadapi pilihan-pilihan yang mengganggu pikiran. Takut tidak akan mendapatkan kesempatan yang sama, tetapi hati tengah bimbang dengan sesuatu menyangkut prinsip. Takut harus mengorbankan sesuatu yang lucunya batang hidungnya pun belum berbentuk janin.

Lalu ketika bunyi alarm melepas jam 3 terdengar begitu nyaring hingga kesadaran berada pada status maksimal, mata mengerjab kebingungan. Merasa dipanggil, tetapi sialnya setan masih mencoba berkuasa di jam terlelap. Membuat tangan bergerak menggeser layar ponsel ke atas, “tunggu 5 menit lagi”. Anehnya, berapa kalipun mata mencoba kembali tenggelam di alam mimpi, ada sesuatu yang tidak berhenti memberi sinyal kepada seluruh sistem gerak, menyuruh untuk segera bangkit dan mengambil air wudhu. Tanpa sadar, dengan wajah yang seperti berpeluh, aurat telah terbungkus rapat. Siap berdiskusi khusyuk pada Pemilik Semesta.

Bersujud-sujud telah terlewati, tetapi sujud pertama di sepertiga malam hari itu terasa berbeda. Ada haru yang meluap sedemikian rupa. Ada air mata yang tidak bisa dibendung. Ada segukan di setiap curhat yang keluar. Ada harapan di setiap keinginan. Di penghujung pergantian kewajiban fardhu ain, beban di hati terasa ringan seketika. Ikhlas yang selama ini hanya sekedar sederet huruf menjelma menjadi sahabat sejati. Pasrah atas ketetapan Allah semakin kuat digenggam.

Hati sadar, betapa hanya kepada satu tempat boleh bersandar sepenuhnya. Hanya satu kondisi tertentu pertahanan boleh diruntuhkan seluruhnya. Hanya pada satu nama boleh merindu penuh cinta tak berbatas.

Maha Penguasa namun penuh kasih sayang. Yang tidak pernah gengsi memberi kode pada hamba-Nya bahwa Dirinya kangen didatangi dalam doa hamba-Nya. Yang tidak pernah dendam di saat hamba-Nya memohon ampun dengan khusyuk atas dosa-dosa yang sengaja dipupuk. Yang menguarkan kebahagian di saat melihat hamba-Nya curhat private pada-Nya. Maha Penyayang yang sekalipun sesekali terlupakan, tetapi tidak pernah melupakan hamba-Nya, malah kangen.

Ya Allah, we miss you, too.

0

/pərˈ spektiv/

perspective2

“Katanya kalau tinggal di rumah terus, puang ifah mau dinikahin. Kok bisa? Memangnya puang ifah nggak mau nikah, ya?”

Ditanyain sama anak umur 6 tahun begituan itu rasanya mendadak nggak bisa mikir lurus. Mungkin karena si otak sulit menerima kenyataan kalau anak kecil jaman sekarang keponya sudah sangat kreatif, saya cuman bisa jawab dengan ketawa saja. Besoknya, pulang sekolah, masih pakai baju sekolah, lagi-lagi pertanyaan yang sama meluncur dari ponakan yang unyunya menurun sedikit gara-gara kekepoannya yang aneh. Saya mikir sebentar dan menjawab sambil ketawa-ketawi, “mau dooong, tapi kan puang ifah nggak pacaran, jadi nungguin yang lamar baru bisa nikah.” Si ponakan cuman senyum-senyum. Entah kenapa saya curiga besok doi bakalan nanya hal yang sama, dan kecurigaan itu bikin saya berdoa setelah shalat sepanjang hari itu. Iya, dijamin, pertanyaan seperti itu bisa bikin kamu jadi kangen diskusi tentang jodoh sama Allah. Di hari yang sama, saat duduk-duduk menonton tv selepas mandi sore, saya seperti mendapatkan “ilham” untuk jawaban atas pertanyaan tersebut.

Seperti yang sudah saya duga, besoknya setelah shalat maghrib, sambil jungkir balik di sofa depan tv, ponakan saya menanyakan hal yang sama. Kali ini saya senyum, cubit pipinya sebentar lalu jawab, “puang ifah mau kok. Kan, puang ifah pengen punya anak cantik, pintar dan sholehah kayak Syifa. Pengen gendong anak yang lucunya kayak adek Fatih.” Saya elus pipi adeknya yang putihnya kebangetan. Doi berhenti bergerak sebentar lalu mengubah posisinya menjadi duduk cantik, dan tersenyum. Tahu nggak, dalam hati ada perasaan haru yang nggak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Saya tahu jawaban saya gombal banget, tapi saya nggak nyangka hal itu bisa bikin ponakan saya nggak pernah menanyakan hal yang sama lagi.

Keesokan harinya, bukan ponakan lagi yang bertanya, tetapi penduduk di balik tempurung kepala saya nggak berhenti membuat percakapan penuh tanyanya. Mereka nggak puas dengan jawaban saya, dan membuat otak menghasilkan pertanyaan lain yang bikin saya merinding, “gimana kalau Allah nggak mengijinkan punya anak? Apa nilai kebahagian dari sebuah pernikahan itu gugur?”

Mungkin karena kebanyakan melihat dan ikutan berperan pada “sinetron” di dunia nyata, saya jadi sering pesimis bisa bahagia. Saya takut menambah satu season lagi di sejarah sinetron selepas petang tersebut. Tapi ada satu hal yang bikin saya merasa bisa bahagia … iyap, anak-anak. Membayangkan diri melihat perut menjulang dengan puncak bergerak-gerak –memberi sinyal bahwa dirinya sedang bahagia, mendengar suara tangisan panjangnya sebagai salam pembuka pada seisi semesta, melihat bibir mungilnya menuturkan sehuruf demi huruf hingga terangkai kata ibu, digenggam tangan kita saat merasa letih begadang menepuk punggungnya, saling menukar cium pipi saat bahagia, bertukar cerita tentang apapun, oh, membayangkannya saja bisa bikin bahagia dan bikin hati berdesir haru.

Tapi perbincangan sederhana, tetapi penuh makna dengan ponakan sebulan lalu bikin saya jadi lebih mengerti petuah mainstream jaman now,

“Allah knows what is best for us”

Sebaris kalimat yang bikin saya mencoba menggeser sedikit pemikiran tentang apa yang bisa bikin saya bahagia. Kalau dulunya saya hanya menganggap yang bikin saya ingin menikah adalah karena saya akan merasa bahagia bisa dititipkan untuk merawat hamba Allah yang mungil, saya coba geser ke lain hal, misalnya hal basic seperti bisa saling mencoba mengerti satu sama lain, barangkali? Atau kalau mau lebih bijak lagi, whatever Allah gives us, we’ll always try to be happy because Allah always knows what is best for us.

Sebenarnya pembicaraan ini yang masih beroksigen di dunia imajinasi. Tapi sebagai thinker kelas berat, tulisan ini bikin saya merasa sedikit tenang. Ternyata, hal yang dulunya setengah mati diidentitasi sebagai masalah, sebenarnya bisa dianggap sebuah kebahagian. Tinggal mengubah sedikit sudutnya saja, jeng~ sudah bisa terlihat berbeda. Sama seperti foto selfie yang kadang terlihat berbeda hasilnya dari sisi kanan atau kiri pipi.

Um…..

….

Picture was taken from an unidentified music video.
alias, nggak ingat dari MV yang mana. hahaha.


Perspective : per·spec·tive: /pərˈspektiv/ : perspektif

 

2

Si Kepo, Musuh Move On

Pernah nggak kalian tiba-tiba merasa sudah membodohi diri dalam jangka waktu yang panjang? Berulang-ulang kali meyakinkan diri pada satu kesimpulan, tetapi di dalam hati konsep lain sedang menari-nari, dan mengubrak-abrik hal yang sudah setengah mati diyakini?

Saya bingung, gimana menjelaskan fenomena pembodohan ini. Yang jelas waktu itu saya merasa nggak berharga seketika. Kenapa sih mau-maunya mendedikasikan hati ke orang yang sama sekali nggak pernah mikirin hidupmu kayak apa? Kenapa rasanya sulit sekali menahan diri untuk nggak menggaruk luka yang nyaris kering, padahal tahu nggak bakal menemukan apa-apa selain kekecewaan? Kenapa sih perlu pengakuan atas sesuatu yang tidak pernah diakui secara terang-terangan?

Perbincangan dengan teman dekat beberapa hari lalu bikin saya sadar, betapa manusia itu lucu sekali kalau sedang kebingungan perasaan. Betapa beberapa manusia itu mudah sekali terlena untuk haus akan pengakuan orang lain saat sedang terombang-ambing perasaannya. Kata pak ustadz di tv, kalau kita selalu ingin diakui, berarti kita sedang nggak ikhlas. Saat kita mendoakan orang tersebut bahagia dengan pilihannya, tapi malah sedih pas tahu dia nggak pernah “mempertimbangkan” kehadiran kita, berarti hati sedang nggak ikhlas. Iya, sekali lagi ini masalah ikhlas. Ikhlas untuk nggak dipertimbangkan, ikhlas untuk diabaikan, dan ikhlas dijadikan nomor yang nggak ada dalam deretan angka.

Di akhir percakapan kami malam itu, saya jadi ingin tertawa dan mengakui nggak kerennya kalau kita menganggap diri sendiri bodoh hanya karena merasa “berjuang sendirian”. Mustinya dari awal sadar, kalau membiarkan diri jatuh dalam gelimangan si merah jambu dan mendadak kepo saat memutuskan untuk move on, ya harusnya bisa menanggung konsekuensinya. Entah itu menemukan penemuan yang bikin hati tersenyum, atau malah berhadapan dengan kenyataan yang bikin meringis. Mustinya dari awal ikhlas sudah digandeng sebelum berani memutuskan sahabatan sama kepo.

Jadi ingat sama kata-kata sendiri, “kalau kamu tipe kepo dan memang mau berhenti, hapus koneksi yang bisa bikin kamu menoleh lagi. Karena bohong kalau kamu nggak berharap.” Iya, saya sedang ngomong tentang diri sendiri pas sok-sok jadi asuhan pak Teguh waktu itu. Saya sadar sepenuhnya kalau kepo itu bisa bikin kita lupa sama cerita move on yang keren. Lupa menggunakan akal sehat saat mulai berhalusinasi tentang masa depan. Jadi pelakon PHP yang terkenal itu, tetapi tragisnya PHP ke diri sendiri. Jadi susah berikhlas ria saat tahu sedang memupuk harap bukan pada tempatnya. Kepo itu memang racun, cuy.

Jadi kalau belum bisa ikhlas, sebaiknya jangan kepo karena kepo itu musuhnya move on. Kalau nggak move on, sulit untuk ketemu jodoh sesungguhnya… humm?

Lagi-lagi nggak nyambung. Hahahaha.

0

I’m Nothing Without Him

Suatu waktu saya pernah berada di kondisi yang nggak mengenakkan hati. Semuanya terasa nggak nyata, dan bikin saya bertanya-tanya terus menurus. Menangis pun rasanya percuma. Marah pun rasanya tidak ada guna. Lalu saya dipertemukan sebuah perasaan aneh oleh Allah SWT. Perasaan yang bikin saya sadar bahwa hati ini mudah rapuh jikalau tak menempatkan Penciptanya sebagai sandaran pertama.

Di saat hati luar biasa sakitnya, Allah sadarkan, kepada siapa hati hanya bisa bersandar. Kepada siapa sebenarnya tangis kesedihan dan kebahagian dilimpahkan. Kepada siapa diri bisa menampilkan secara utuh sosok aslinya. Hanya berbekal mukenah, tangan yang menjemput kasih-Nya, dan bibir yang menguarkan curhat pada-Nya. Sabar dan ikhlas yang rasanya susah sekali digandeng, pada akhirnya menjadi teman baik. Menjadi tameng di saat hati dibentur oleh kenyataan.

Terus terang masih bingung, dan nggak mengerti, kenapa hal tsb bisa menjadi sejarah. Tetapi satu hal yang saya yakini sampai sekarang, semua hal yang terjadi pasti ada alasannya. Allah nggak akan menitipkan kesedihan yang tidak bisa dipikul umat-Nya, dan Allah selalu punya hadiah untuk hamba-Nya yang berbaik sangka pada-Nya. Berbaik sangka untuk sadar akan kesalahan-kesalahan pribadi hingga diberi teguran. Berbaik sangka bahwa akan ada kebahagian yang menyusul setelah kesedihan.

Cinta-Nya yang bisa bikin saya masih waras, dan nggak berteriak-teriak setiap berhadapan pada kondisi yang sama. Cinta-Nya yang bisa bikin saya nggak merasa nggak berharga. Cinta-Nya yang bisa bikin menangis yang memuakkan menjadi menyejukkan. Cinta tak terhingga pada umat-Nya yang kebanyakan rajin lupa bersyukur yang bisa bikin saya merasa malu, betapa sombongnya hati ini tanpa ridho-Nya.

Yes. I’m nothing without Allah’s love. We are.

2

Friendzone

Nggak tahu kenapa beberapa waktu ini, selain kata pribumi, kata friendzone rajin menghampiri timeline sosmed. Sebagai orang yang barusan gagal lolos tes cpns (huh?) dan nggak begitu tertarik dengan politik, otomatis kata friendzone lebih menarik perhatian jiwa kesingle-an daripada pribumi-bumian itu. Saya mendadak kepikiran, emang saya pernah ya terlibat dalam persilatan dunia friendzone yang pedih itu? Setelah mikir panjang dan berlika-liku, jawabannya malah ke pertanyaan lainnya, friendzone apaan sih?

Kata google sih, friendzone adalah dua insan manusia yang salah satunya terinfeksi uka uka *krik*. Kalau dari kacamata saya, friendzone itu agak sejenis dengan PHP dan cinta keberatan sebelah. Bedanya kedua insan yang tak paham dengan perasaan masing-masing ini memang saling memahami dan mendukung satu sama lain. Samanya, kebanyakan sama-sama nggak ada mutual perasaan suka dan kadang unsur ge-ernya kental banget, cuy. 

Oh,

Oh!

Saya kayaknya punya cerita yang agak mirip; terlalu nyaman dengan suatu tempat sampai nggak sadar sama sesuatu, lalu pergi sebelum kelewat sadar. Kalau mainstreamnya, orang-orang membiarkan dirinya tenggelam di dalam keadaan penuh kenyamanan daripada menyadari ada hal yang pincang lagi merangkul kenyamanan. Nyaman tapi was-was, dan biasanya bertahan karena alasan klise, “because I don’t want to loose you.”

Tapi seperti yang bisa dilihat dari postingan-postingan sebelumnya, saya bukan tipe mainstream, pemirsa. Bagi saya perasaan itu bukan buat dipelihara. Mau dia teman dekat yang sudah kayak sodara sendiri, atau kerennya best friend forever, tapi kalau sudah menyerempet perasaan… sudahlah. Saya selalu minta sama Sang Pencipta untuk dijaga agar tidak terjebak di friendzone. Berdoa supaya si otak lincah bekerja mencari jalan untuk meluncur keluar dari zona itu sebelum pintu “terketuk” terbuka.

Saya ini tipe yang rajin menanyakan ke diri sendiri, apa yang saya inginkan? Apa yang ingin saya capai? Berbekal dari  sifat tukang nanya itu, saya jadi punya prinsip bahwa perasaan itu harus selurus dengan pasangan hidup, makanya saya nggak mau main-main dengan masalah itu. Padahal kalau mau berkaca dari kalimat yang sering saya utarakan tentang bagaimana sebuah pasangan hidup itu nggak melulu tentang cinta, tapi visi misi hidup yang sejalan dan kenyamanan yang meluap-luap, saya nggak akan bohong, pastinya akan senang jikalau best friend tsb menyebut nama saya di ijab kabulnya.

Tapi (lagi lagee) sekali lagi, saya punya pendapat sendiri masalah ini. Menurut saya, friendzone itu semacam pelarian dan membohongi diri sendiri. Nyaman tapi nggak disukai, suka dan nyaman tapi nggak bisa ngapa-ngapain, dan paling parah sama-sama suka dan nyaman tapi nggak bisa keluar dari belenggu “I don’t want to loose you”. Sebagai seorang muslim, membiarkan diri “berbodoh-bodohan” itu nggak diiyakan dalam agama. Kita dituntut untuk selalu berpikir dan mencari jawaban dari kegelisahan kita pada Allah SWT. Mencari kenyamanan yang diridhoi oleh Allah SWT. Nah, ini, jadi halal saja belum tentu, kenapa kita rasanya takut sekali memutuskan sesuatu yang lebih banyak bikin galaunya daripada senyumnya?

Saya selalu percaya sama rencana Allah SWT, bahwa jika kita merelakan sesuatu untuk meningkatkan kualitas kebaikan vertikal, akan Allah ganti dengan hal lebih indah lainnya. Jadi kenapa takut keluar dari belenggu friendzone? Kenapa takut mengakui bahwa friendship yang indah itu sudah berganti nama jadi friendzone? Apalagi buat ciwi-ciwi, aduh jangan mau membiarkan diri terjebak di dunia ke-friendzone-an. Kasian itu hati sudah dititipkan Allah malah sengaja buat disakitin.

Pertemanan yang baik itu adalah pertemanan yang senantiasa mengingatkan untuk ada pada jalan Allah. Kalau pertemananmu sudah bikin kamu galau –dimana galau itu salah satu tanda jauh dari-Nya, baiknya ditinggalkan saja. InsyaAllah, Allah nggak akan marah kok kalau kita “memutus” ke-bestfriend-an untuk mengejar hal yang baik lainnya. Mending nungguin yang halal daripada menggalaui yang belum dihalalin.

Piss~

 

Nyambung nggak sih? Hahaha

0

Katanya Bahagia Itu Sederhana, Kok!

Salah satu hal yang bisa bikin kita merasa nyaman selain taat kepada perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya adalah dengan merasa bahagia.

Pernah nggak sih kita bertanya ke diri sendiri, kira-kira apa yang bikin kita bahagia?

Pernah nggak sih kita kepikiran, kira-kira apa yang bikin kita terkadang merasa nggak bahagia?

Saya pernah, sering malah. Saya suka bertanya-tanya kira-kira hal apa yang harus saya ingat supaya bisa berhenti marah pada sesuatu, dan pertanyaan itu membawa saya pada suatu pertanyaan lain, yaitu,

“kira-kira apa yang bikin saya bahagia?”

Terus terang untuk menjawab pertanyaan itu nggak gampang. Soalnya kalau sudah terlalu dikuasai emosi, akal sehat suka semena-mena bikin otak lupa ingatan. Maunya merasa jadi victim terus, sampai-sampai mencari ingatan bahagia pun jadi sulit.

Sebagai orang yang extremely introvert dan sensitive, saya sering menjumpai diri sendiri marah dengan suatu yang sebenarnya nggak jelas sama sekali. Saya sering membuat asumsi-asumsi tidak berdasar karena sifat yang over sensitive. Tapi akhir-akhir ini, kemarahan tsb pada akhirnya membuat saya jadi bertanya ke diri sendiri, memangnya apa sih yang saya cari? Kenapa selalu mencari alasan untuk dimarahi? Memangnya perlu semua orang mengerti isi kepala saya kalau kerjaan saya hanya menyalahkan? Yes, I love asking myself. Tapi itu yang bikin saya sadar, betapa egoisnya manusia itu. Kita sibuk mengutuki sesuatu, padahal ada sesuatu yang mustinya kita syukuri. Kita sibuk melihat ke suatu arah, sampai lupa menoleh di samping kita ada sesuatu yang bisa bikin kita bahagia.

Saya pernah lho pengen berhenti kuliah. Waktu itu saya merasa nggak bahagia, merasa tertekan dan nggak menemukan alasan kenapa saya harus menjadi sarjana. Saya nggak tahu, apa akan merasa bahagia kalau di belakang nama ada title sarjana atau tidak. Waktu itu saya beneran nggak pernah nyentuh sama sekali draft skripsi entah selama berapa lama. Sampai suatu ketika sebuah pertanyaan menghampiri kesadaran saya, memangnya saya bisa bahagia ya kalau tidak selesai kuliah sementara orang-orang di sekitar saya sedih?

Saya merenung lama, bertanya ke kakak-kakak pengajian, kemudian merenung lagi sembari melihat kondisi di sekitar. Lalu mendadak saya tersadar, bahagia itu nggak selamanya “aku bahagia semua orang pasti bahagia”. Bahagia itu nggak semua tentang diri kita.  Bahagia itu nggak selamanya titik pusatnya di diri kita. It’s not always about “I”. Bahagia itu nggak selamanya tentang bagaimana dunia melihat kita, tetapi sesekali tentang bagaimana kita melihat dunia di sekeliling kita. Bahagia dengan apa yang kita punya, bahagia dengan apa yang orang miliki, dan bahagia dengan apa yang belum sempat kita genggam. Sesederhana itu ternyata.

Setelah melihat tulisan-tulisan lama yang mostly sudah hilang dari muka umum, saya jadi sadar kesalahan terbesar seorang saya itu apa. Saya nggak bisa mengingat sesuatu yang bisa bikin bahagia karena terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang bikin saya menangis. Kenapa sih sibuk membuat orang-orang yang “tidak suka” (I’m not talking about love, please) dengan saya, sampai lupa ada kok orang-orang yang dengan senang hati berbagi cerita bahagia dengan saya? I’m so dumb.

Kalau dipikir-pikir nih, selama kita nggak melakukan hal-hal yang jelek, nggak menyakiti orang lain, dan nggak menjauhi Tuhan, kenapa musti menjadi manusia yang lupa bahagia kalau mengingat bahagia itu ternyata dengan menjauhi pribadi “lupa bahagia”? (What the heck am I talking about? LOL)

Anw, yes, bahagia itu… memang sesederhana itu kok. 😀