0

Timing

Beberapa waktu lalu saya sempat membahas tentang sebuah film legendaris yang bikin sakit hati sejuta umat dengan seorang kenalan dekat. Filmnya bercerita tentang dua manusia yang menunggu dan akhirnya melepaskan. Dua manusia yang dipertemukan di waktu yang mungkin saja tepat tapi berujung tak bersama. Mereka masing-masing punya kesempatan, tetapi takut meraih kesempatan itu. Ending ceritanya sih klise, “bukan jodoh.” Tapi tentu sebuah film ingin dipetik makna di baliknya, dan film itu nggak jauh dari kata timing.

Seberapa sering sih kita merasa melewatkan moment yang tepat dalam hidup kita? Atau seberapa sering sih kita merasa bahwa hari itu adalah moment yang tepat untuk sebuah keputusan besar dalam hidup kita?

Sebagai seorang perempuan, saya tentu paham nggak mudah bagi beberapa perempuan menyimpulkan sesuatu. Butuh renungan panjang, dan butuh keberanian yang besar untuk membulatkan opini pada satu titik. Kebanyakan perempuan itu insecure, dan sering mempertanyakan banyak hal. Seringnya ingin dijawab pakai logika tapi sejujurnya ingin ada rasa yang terselip di setiap jawaban. Pola pikir perempuan itu nggak bisa dipungkiri memang agak rumit, tetapi sebenarnya kalau mau mengintip ujungnya, sangat sederhana. Cuman pengen bahagia. Iya, klise sekali.

Film itu mengajarkan bahwa ketika seorang wanita merasa ingin mengutarakan jawabannya, pahit maupun manis, come on boy, you need to catch the answer right away! You need to answer women’s courage with courage also. Timingmu untuk mendengar jawabannya jarang sekali datang dua kali, jangan disia-siakan. Sadar nggak sih kalian para lelaki kalau kalian itu punya keistimewaan? Sekalipun mengantongi sebongkah penolakan, kalian masih bisa berjuang sekuat tenaga karena hati wanita sebenarnya mudah diluluhkan. Beda dengan wanita, ketika lelakinya tak lagi ingin lagi memperjuangkan, apa lagi yang harus dilakukan selain ikhlas dan berdoa? Karena sepertinya hati lelaki yang berpaling hanya bisa dikembalikan oleh Allah SWT semata.

Anehnya, setelah sekian lama, kemarin saya akhirnya berhasil menyelesaikan satu buku karya Habiburrahman berjudul Pudarnya Sinar Cleopatra. Sempat kesal dengan tokoh utama novel ini, tetapi satu hal yang bisa saya garis bawahi dari novel tersebut. Yes, it’s about timing again! Di saat hati si lelaki mulai memudarkan dambaan pada paras surga dunia milik cleopatra, orang yang seharusnya dia muliakan di sampingnya telah kembali pada sisi-Nya. Ia kehilangan timing yang telah diberikan oleh-Nya, dan hanya bisa menyesali segala kesalahannya. Tidak ada lagi yang bisa ia perbuat kecuali meminta ridho-Nya untuk dipertemukan lagi dengan Hawanya di Surga-Nya.

Sadarkah kita sebenarnya setiap manusia punya timingnya sendiri?
Ada orang yang diberikan timing kesehatan berlimpah untuk bisa beribadah maksimal.
Ada orang yang diberikan timing untuk merawat orangtuanya.
Ada orang yang diberikan timing mengantar neneknya ke rumah sakit untuk berobat jalan.
Ada orang yang diberikan timing untuk menjaga hati istrinya.
Ada orang yang diberikan timing untuk berbakti pada suaminya.
Ada orang yang diberikan timing untuk membesarkan buah hatinya.
Paling penting, setiap orang pasti diberikan timing untuk berbuat baik. Ketika hatimu mendadak dibisik untuk berbuat baik pada seseorang, just do it right away. Berbuat baik itu gampang, tetapi timing dan niatnya nggak mudah datang begitu saja.

Sesungguhnya Allah sudah mengatur semuanya kehidupan kita. Sudah mencabangi setiap kondisi di hidup kita. Manusia diberi hak istimewa untuk bisa memilih, menyambut timing tersebut atau melewatkannya begitu saja. Walaupun suatu waktu kamu terjebak pada penyesalan menyia-nyiakan timingmu, tetapi bukan berarti kamu harus stuck pada timing lama tersebut. Belajar dan move on. Allah baik sekali kok.

Jadi… kira-kira timing apa yang menurutmu harus kamu sambut hari ini?

Wish you luck! 🙂

Iklan
0

Talking About Love

Assalamualaikum,

Haloha, been a long time since I wrote something here. Belakangan nyobain podcast yang sebenarnya sangat entertaining tapi juga bikin capek. Karena suatu hal, saya memutuskan untuk berhenti nge-podcast dulu untuk sementara waktu dan fokus di dunia tulis menulis. 

Jadi, beberapa hari lalu saya dan seorang teman membahas tentang bagaimana cinta di mata kami masing-masing. Kata doi jangan ngomong cinta sebelum menikah agar hati tak patah. Saya nggak membantah karena saya pun nggak percaya cinta tanpa ikatan halal. Sebagai orang yang sangat susah diyakinkan hal-hal menyangkut perasaan, saya butuh terikat pada ijab kabul untuk diyakinkan bahwa relationship kami akan baik-baik saja nanti.

Bisa dibilang saya sering menarik diri dan menutup diri karena sering merasa tidak “pantas”. Sedari kecil saya sudah hidup dalam kehati-hatian karena nggak begitu percaya pada diri sendiri dan sangat takut disakiti. Saya gampang menyerah kalau melihat kuncup perasaan bakalan mekar tidak sehat. Tapi saya nggak takut menjadi pribadi jujur. Saya nggak takut melempar kata untuk melihat apa kuncup perasaan itu perlu rutin disiram, atau dibiarkan saja layu dan mati.

Tapi membahas cinta, saya melihat dari sisi yang berbeda. Sebagai manusia yang akan mencintai hamba-Nya, semestinya nggak boleh sembarangan dan gegabah. Perlu diskusi panjang dengan Allah SWT, perlu melewatkan banyak sepertiga malam dalam doa, dan perlu restu telapak kaki surga yang telah membesarkan dengan susah payah. Maka dari itu kalau ada yang bilang cinta setelah menikah, saya menganggap itu sangat istimewa. Sangat spesial.

Karena pasti telah banyak doa yang dipanjatkan sebelum sampai pada tahap tersebut. Banyak ranjau yang telah dilalui hingga akhirnya pribadi jelek perlahan mengelupas dan berganti dengan sifat yang jauh lebih baik. Banyak luka yang telah berusaha diobati tanpa bekas, sampai akhirnya berani memutuskan untuk membiarkan hati menunjuk pada satu spesifik manusia. Jadi seharusnya setelah sah, nggak ada alasan lagi memainkan cinta yang telah mengikat dua keluarga besar itu. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk nggak menyerah, dan memperjuangkan apapun yang bisa dipertahankan, dan begitupun siapapun pasangan saya nanti.

Saya sudah melihat banyak sekali pejuang rumah tangga yang begitu rapuh pun amat kuat. Badai menerpa pun mereka masih bisa tersenyum, dan bertahan, demi cintanya pada Allah SWT dan keluarganya. Karena paham Allah benci perpisahan, maka mereka berharap ada keajaiban yang bersinar pada ingatan di hari mereka berubah dari orang asing menjadi keluarga dahulu kala.

Iya, cinta nggak seromantis drama korea.  Ada tumpukan pengertian dan perjuangan di sana. Yang kapan saja bisa runtuh, dan harus disusun kembali dengan tangis dan tenaga super yang tak main-main. Butuh effort dengan jumlah tak sedikit untuk mempertahankannya.

Saya masih sering nggak percaya diri, masih sering menempatkan orang lain lebih dulu daripada diri sendiri, masih sering hidup dalam kubangan perandaian yang negatif, tapi saya selalu yakin harus kembali pada siapa. Allah yang telah menciptakan saya dengan kondisi apapun itu, maka pada-Nya pun harusnya hati ini saya serahkan. Berdoa dipertemukan cinta yang mungkin berbaik hati meyakinkan bahwa saya pun patut diperjuangkan untuk menjalin bahtera yang selalu kangen pada pelukan cinta-Nya. Berdoa agar dipertemukan hamba-Nya yang mau tahu bahwa butuh perjuangan dua insan untuk membangun hubungan yang baik-baik saja. 

Perihal cinta, untuk bisa tumbuh subur pada tempatnya, perlu perawatan akar yang sangaaat maksimal, dan menurut saya, akar cinta yang sesungguhnya adalah memanjatkan doa pada Pencipta cinta. Have we done it today? 🙂

.
.
.
Ini tulisan dengan kata love terbanyak yang pernah saya tulis.

0

You won’t know until you read it

Berapa hari lalu saya dan orangtua sedang asyik diskusi fee tulisan di meja makan, yang kemudian diakhiri dengan membahas bagaimana ibu melihat tulisan saya sekarang tak sekelam dulu lagi. Saya termenung dan mengangguk otomatis karena juga merasakan hal yang sama.

Sejujurnya, saya sering sekali menulis banyak hal yang menyerempet kehidupan pribadi. Sekalipun fiksi, tidak sedikit yang terinspirasi dari cerita diri sendiri. Jadi jika ada yang bilang kalau tulisan itu banyak menggambarkan penulisnya,  sebenarnya nggak salah, hanya memang nggak sepenuhnya yang diasumsikan orang lain itu benar.

Sebagai orang yang telah menghabiskan berbuku-buku untuk menulis apapun yang melintas dalam pikiran sejak kecil,  menulis punya caranya sendiri menenangkan perasaan saya yang kadang nggak karuan. Setiap iseng membaca kembali tulisan-tulisan lama, saya ternyata mendadak menjadi pelupa setiap selesai menulis. Seringkali saya nggak ingat kalau beberapa menit sebelumnya amarah saya memuncak dan meledak-ledak bak gunung merapi. Mungkin suatu waktu marah saya masih tersisa, tetapi sudah tidak seemosional sebelum tangan saya menyelesaikan sebuah tulisan.

Sebenarnya cukup kaget menyadari seberapa “dark”nya dulu pandangan saya pada dunia. Nothing could make me happy. I was seriously so depressed years ago. Kalau dipikir-pikir nggak tahu apa yang bikin saya sampai segitu depresinya dulu. Mungkin saya nggak percaya diri, dan nggak percaya pada orang lain. Mungkin dulu saya selfish dan terlalu sombong. Mungkin dulu saya lupa bertanya “Have I done the same thing?” Mungkin dulu saya lupa banyak bersyukur. Sekalipun mungkin dulu ada beberapa manusia toxic yang mengelilingi, tetapi nggak seharusnya membiarkan orang tsb meng-toxic pikiran saya juga. Sekalipun kehidupan percintaan nggak pernah mudah, tetapi nggak semestinya saya merusak kepercayaan diri sampai segitunya. Nggak ada alasan konkrit yang membolehkan saya terlalu lama membiarkan diri menyalahkan dunia. Kalaupun ada, it was my fault from the first place.

Setiap orang punya ceritanya sendiri, entah ditulis ataupun tidak. Entah terlintas di ingatan ataupun tidak. Setiap manusia terbentuk karena cerita di hidupnya dan caranya menghadapi situasi tersebut. Kalau boleh dibilang, hanya karena pernah mengalami beberapa cerita sedih, saya terlampau senang menganggap diri paling miserable. Paling menyedihkan. Paling nggak berharga. Saya lupa kalau Allah SWT sudah menciptakan kita dengan kelebihan masing-masing. Saya lupa kalau manusia disabdakan tidak untuk mencari pengakuan manusia tetapi Tuhannya. Ini mungkin terdengar seperti menyalahkan diri sendiri, tapi saya percaya setiap masalah harus dilihat akarnya dari diri sendiri. The bottom of our life’s problems is in ourselves, don’t you think so? Lagi pula menyalahkan orang lain tidak ada gunanya. It won’t solve our problems. Lebih baik hidup dalam mindset untuk selalu ingin intropeksi diri, mengeliminasi aura negatif, dan lebih banyak berpikir baik tentang apapun itu.

It’s ok to feel sad sometimes, but don’t let those feelings being your life’s controller. When you feel that you’re at the lowest point of your life, please remember,

“Allah will not allow a single tear to drop, if He Himself cannot dry”

To everyone who is still struggling with depression, I hope you will find your own way to shutdown that damn depression, forever. One of my tricks is to believe: Sadness and happiness are best friends, so in every unhappy moment there will be joyfulness waiting for you~

I’m still not ok, but I try my best being an ok person. Let’s be friend with our life, friends! 🙂

 

I know that writing is easier said than done, but you won’t know the power of your reading ability until you try to write yours. Let me know if you have one. I’ll be pleased being one of your readers~

0

Ngomongin Pernikahan

Bagi saya pernikahan itu hal yang sangat spesial, dan nggak pernah gagal bikin terharu setiap mendengar salah satu kerabat atau teman terikat dalam ijab kabul.

Tapi anehnya,
saya
 takut nikah.
Lebih anehnya lagi,
sekalipun takut, saya berangan ingin punya perayaan pernikahan yang sederhana saja.

Sebagai manusia yang terkenal dengan perhitungannya, mungkin perilaku sederhana ini bakal diidentitasi sebagai pelit ke diri sendiri. Saya nggak akan membela diri, itu hak kalian untuk menilai. Saya hanya nggak mengerti dibalik “memewahkan pernikahan”. Di bayangan saya, di hari bahagia tersebut saya pengen membagikan kebahagian tanpa saling menilai acara siapa yang lebih baik. Tapi balik lagi, ini bukan tentang saya dan dia, tapi kami dan mereka. Dua keluarga besar yang mendadak jadi halal dalam setarik nafas ijab. Saya nggak pengen yang mereka ingat dari hari bahagia tsb adalah anaknya durhaka tidak mengikuti keinginan keluarganya. Walaupun begitu, saya nggak berhenti membisikkan keinginan saya sedini mungkin ke orangtua setiap mereka nanya mau resepsi di gedung mana.

Sederhananya, saya cuman pengen bahagia, dan sepertinya sharing kebahagian dengan membahagiakan orang lain tidak perlu sampai mengurangi tabungan terlampau banyak untuk dekorasi dan sewa gedung demi terlihat perlente. Mungkin makanan yang enak sudah cukup?

Well, don’t say “nikahkan cuman sekali seumur hidup.” Kita hidup juga cuman sekali, tapi nggak berarti harus mengerus isi dompet dalam sekali hela, kan?

Masih banyak yang pengen saya bahas, tapi setelah saya pikir-pikir, sepertinya nggak perlu semua orang tahu visi-misi saya tentang hal sakral ini. Cukup yang berkepentingan saja yang tahu. :p

Baca tulisan ini deh, happy akhirnya ada seorang influencer yang punya pemikiran yang sama. 

0

Be The Best Version of You.

Manusia itu sebenarnya sama saja sih. Yang membedakan apa mereka mau berubah menjadi lebih baik atau nggak. Banyak di antara kita sibuk men-judge, sibuk menganggap diri paling baik tapi lupa memperbaiki diri sendiri. Lupa berkaca dan menelaah celah-celah kesalahan di dalam diri. Kalau kata orang jangan terlalu sibuk mencari kesalahan, soalnya nanti lupa dengan kebaikan diri sendiri. Ah, padahal kebaikan tidak usah dicari. Mereka terpancar tanpa perlu kita dikte tiap hari. Mereka tercatat tanpa perlu dihapal seberapa banyak kebaikan yang sudah diperbuat. Kebaikan nggak untuk dihitung karena kebaikan harusnya nggak terhitung.

Kalau dengan orang lain mungkin mau menggunakan istilah terima apa adanya, silahkan. Tapi dengan diri sendiri, sebaiknya dihindari. Men-judge diri sendiri, me-list segala “ketidakwajaran”, dan menjadikan itu sebagai identitas yang harus dimaklumi oleh siapa saja bahkan diri sendiri. “Saya memang begitu, nggak terima? Sana pergi.” Iya, kita nggak bisa membuat semua orang suka dengan kita, nggak semuanya orang bisa cocok dengan kita. Tapi itu nggak menjadikan kita stuck pada pribadi yang “nggak wajar” terus-terusan, sampai membiarkan diri mengeneralisasikan pribadi pada hal-hal tertentu. “Anak pertama, wajar keras kepala.” Itu melarikan diri dari perubahan dengan cara klasik.

Alasan manusia diciptakan berbeda-bedanya karakternya katanya untuk saling melengkapi. Mari telaah kata-kata ini. Tarik garis lurus bahwa saling melengkapi adalah melengkapi masing masing pribadi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kalau dulu susah mendengar, bertemu dengan pasangan yang selalu ingin didengar cerita recehnya, jadi berubah menjadi pendengar yang baik. Awalnya hanya ke pasangan, lama-kelamaan jadi pintar menyediakan telinga untuk mendengar cerita perjuangan teman-teman karibnya. Kalau dulu sering teriak-teriak, ketemu dengan pasangan yang lemah-lembut dan tidak banyak berbicara, jadi berubah menurunkan suara dan sesekali membiarkan pasangan bersuara. Awalnya hanya ke pasangan, lama-kelamaan jadi pandai tidak mengaungkan “aku juga aku juga” terus ke orang lain. Definisi saling melengkapi bukan “terima aku apa adanya, titik.”, tetapi “terima aku, dan semoga kita bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik, ya.

Tidak jauh berbeda dengan diri kita sendiri. Kalau kata orang “aku” berarti single, sepertinya kurang tepat. Sebab “aku” terdiri dari diri sendiri dan akhlaknya. Mereka dua teman baik yang saling berkesinambungan. Dimana diri sendiri memiliki tanggungjawab untuk membawa si akhlak pada ranah mana, dan akhlak bertanggungjawab memancarkan dari segala titik denyut hidup kita ke segala penjuru langit dan bumi. Mereka saling melengkapi, dan tentu saling menyokong dalam menjadi terbaik kita. 🙂

0

Welcoming the new stage of your life

As a new member of 26 group, I really think we shouldn’t judge ourselves just by our age. Although being old is matters for some people, I think the way we appreciated our special moment is more important than overthinking of numbers.

This year is the quietest birthday ever of my life. No fancy congratulations, just casual ones, but I do feel more blessed than ever. At some point I realise that I don’t need those birthday greetings from every person who knows me. Just best friend and family wishes already make me full of happiness. I’m really glad that I have you in my life, guys. :*

In this new stage, I hope that I can be a better person. I can love Allah not just by mouth and heart but with action. I can be more patient. I can love my parents more than before. I can get a new job which doesn’t make me feel far from God. I can meet someone who wills to teach me how to love Allah more. I can more appreciate those people who never tired of making me sure I’m worth to be fight. Yeah, those are pretty basic du’a, but don’t underestimate the power of du’a. You won’t know how strong your wishes influence your life until you make ones.

Wishing the good ones and erasing the bad ones are the best trick to be happy. I have just started using that trick too. We can try it together~ 🙂