0

Ngomongin Pernikahan

Bagi saya pernikahan itu hal yang sangat spesial, dan nggak pernah gagal bikin terharu setiap mendengar salah satu kerabat atau teman terikat dalam ijab kabul.

Tapi anehnya,
saya
 takut nikah.
Lebih anehnya lagi,
sekalipun takut, saya berangan ingin punya perayaan pernikahan yang sederhana saja.

Sebagai manusia yang terkenal dengan perhitungannya, mungkin perilaku sederhana ini bakal diidentitasi sebagai pelit ke diri sendiri. Saya nggak akan membela diri, itu hak kalian untuk menilai. Saya hanya nggak mengerti dibalik “memewahkan pernikahan”. Di bayangan saya, di hari bahagia tersebut saya pengen membagikan kebahagian tanpa saling menilai acara siapa yang lebih baik. Tapi balik lagi, ini bukan tentang saya dan dia, tapi kami dan mereka. Dua keluarga besar yang mendadak jadi halal dalam setarik nafas ijab. Saya nggak pengen yang mereka ingat dari hari bahagia tsb adalah anaknya durhaka tidak mengikuti keinginan keluarganya. Walaupun begitu, saya nggak berhenti membisikkan keinginan saya sedini mungkin ke orangtua setiap mereka nanya mau resepsi di gedung mana.

Sederhananya, saya cuman pengen bahagia, dan sepertinya sharing kebahagian dengan membahagiakan orang lain tidak perlu sampai mengurangi tabungan terlampau banyak untuk dekorasi dan sewa gedung demi terlihat perlente. Mungkin makanan yang enak sudah cukup?

Well, don’t say “nikahkan cuman sekali seumur hidup.” Kita hidup juga cuman sekali, tapi nggak berarti harus mengerus isi dompet dalam sekali hela, kan?

Masih banyak yang pengen saya bahas, tapi setelah saya pikir-pikir, sepertinya nggak perlu semua orang tahu visi-misi saya tentang hal sakral ini. Cukup yang berkepentingan saja yang tahu. :p

Baca tulisan ini deh, happy akhirnya ada seorang influencer yang punya pemikiran yang sama. 

Iklan
0

Be The Best Version of You.

Manusia itu sebenarnya sama saja sih. Yang membedakan apa mereka mau berubah menjadi lebih baik atau nggak. Banyak di antara kita sibuk men-judge, sibuk menganggap diri paling baik tapi lupa memperbaiki diri sendiri. Lupa berkaca dan menelaah celah-celah kesalahan di dalam diri. Kalau kata orang jangan terlalu sibuk mencari kesalahan, soalnya nanti lupa dengan kebaikan diri sendiri. Ah, padahal kebaikan tidak usah dicari. Mereka terpancar tanpa perlu kita dikte tiap hari. Mereka tercatat tanpa perlu dihapal seberapa banyak kebaikan yang sudah diperbuat. Kebaikan nggak untuk dihitung karena kebaikan harusnya nggak terhitung.

Kalau dengan orang lain mungkin mau menggunakan istilah terima apa adanya, silahkan. Tapi dengan diri sendiri, sebaiknya dihindari. Men-judge diri sendiri, me-list segala “ketidakwajaran”, dan menjadikan itu sebagai identitas yang harus dimaklumi oleh siapa saja bahkan diri sendiri. “Saya memang begitu, nggak terima? Sana pergi.” Iya, kita nggak bisa membuat semua orang suka dengan kita, nggak semuanya orang bisa cocok dengan kita. Tapi itu nggak menjadikan kita stuck pada pribadi yang “nggak wajar” terus-terusan, sampai membiarkan diri mengeneralisasikan pribadi pada hal-hal tertentu. “Anak pertama, wajar keras kepala.” Itu melarikan diri dari perubahan dengan cara klasik.

Alasan manusia diciptakan berbeda-bedanya karakternya katanya untuk saling melengkapi. Mari telaah kata-kata ini. Tarik garis lurus bahwa saling melengkapi adalah melengkapi masing masing pribadi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kalau dulu susah mendengar, bertemu dengan pasangan yang selalu ingin didengar cerita recehnya, jadi berubah menjadi pendengar yang baik. Awalnya hanya ke pasangan, lama-kelamaan jadi pintar menyediakan telinga untuk mendengar cerita perjuangan teman-teman karibnya. Kalau dulu sering teriak-teriak, ketemu dengan pasangan yang lemah-lembut dan tidak banyak berbicara, jadi berubah menurunkan suara dan sesekali membiarkan pasangan bersuara. Awalnya hanya ke pasangan, lama-kelamaan jadi pandai tidak mengaungkan “aku juga aku juga” terus ke orang lain. Definisi saling melengkapi bukan “terima aku apa adanya, titik.”, tetapi “terima aku, dan semoga kita bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik, ya.

Tidak jauh berbeda dengan diri kita sendiri. Kalau kata orang “aku” berarti single, sepertinya kurang tepat. Sebab “aku” terdiri dari diri sendiri dan akhlaknya. Mereka dua teman baik yang saling berkesinambungan. Dimana diri sendiri memiliki tanggungjawab untuk membawa si akhlak pada ranah mana, dan akhlak bertanggungjawab memancarkan dari segala titik denyut hidup kita ke segala penjuru langit dan bumi. Mereka saling melengkapi, dan tentu saling menyokong dalam menjadi terbaik kita. 🙂

0

Welcoming the new stage of your life

As a new member of 26 group, I really think we shouldn’t judge ourselves just by our age. Although being old is matters for some people, I think the way we appreciated our special moment is more important than overthinking of numbers.

This year is the quietest birthday ever of my life. No fancy congratulations, just casual ones, but I do feel more blessed than ever. At some point I realise that I don’t need those birthday greetings from every person who knows me. Just best friend and family wishes already make me full of happiness. I’m really glad that I have you in my life, guys. :*

In this new stage, I hope that I can be a better person. I can love Allah not just by mouth and heart but with action. I can be more patient. I can love my parents more than before. I can get a new job which doesn’t make me feel far from God. I can meet someone who wills to teach me how to love Allah more. I can more appreciate those people who never tired of making me sure I’m worth to be fight. Yeah, those are pretty basic du’a, but don’t underestimate the power of du’a. You won’t know how strong your wishes influence your life until you make ones.

Wishing the good ones and erasing the bad ones are the best trick to be happy. I have just started using that trick too. We can try it together~ 🙂

0

You(We) Are Not Alone

IMG_20180103_020245_386Di sabtu petang akhir desember, kamu mendudukkan diri di salah satu bangku panjang taman kota. Menenggelamkan diri pada pikir yang terkalut-kalut setelah menjalani ritual liburan yang tak kunjung membuat hatimu merasa tenang berkepanjangan. Kamu menoleh pada kursi kosong di sampingmu, berandai-andai ada sosok penghisap beban pikiran tengah duduk bersamamu saat itu. Namun angin dingin menyambar seluruh indramu, menyadarkan bahwa oksigen di sekelilingmu hanya dihirup oleh dirimu sendiri. Tidak ada siapapun selain dirimu.

Kamu menunduk, menengadah, dan menghembuskan napas berat. Ada tangis yang bertalu-talu di ujung pikirmu. Ada luka yang membusuk di balik bibir sabitmu. Ada kecewa yang menjejaki hatimu sekian lama. Pertanyaan demi pertanyaan meluncur bak kereta tanpa stasiun perhentian. Otakmu mengepul pun tidak menemukan jawaban. Kamu bingung mengidentifikasi amarah yang membara pada setiap lini hidupmu. Teman, orangtua, keluarga, bahkan makhluk tak memiliki akal pun mampu meluapkan ketidakpuasaan dari dalam dirimu.

Kamu marah pada teman yang tidak mengerti dan tidak peduli. Kamu marah pada orangtua yang kamu anggap tidak menghargai dan menyayangimu. Kamu marah pada langit yang menggelap. Kamu marah pada pohon yang menumpahkan daun kuning keringnya. Kamu marah pada kursi kosong. Lalu kamu marah pada dirimu sendiri. Marah kenapa menjadi seorang kamu.

Kamu jadi rajin menunjuk penuh tenaga tak tentu arah. Merajuk seperti bocah yang dilarang makan coklat setiap pelukan tak berlengan mencoba merangkul. Menutup telinga sesaat setelah lagu-lagu bernada bujuk mencoba meredamkan amarahmu. Hatimu terlampau hanyut dalam ketidakmenentuannya.

Lalu untuk pertamakalinya setelah sekian purnama, pada maghrib terakhir di 2017, petang mampu meleburkan kekalutanmu dalam kumandang adzan. Hatimu menghangat, seluruh tubuhmu bergetar hebat, dan matamu berdenyut menahan haru. Kamu tersadar, dirimu sendiri setengah mati mengartikan sederet kata yang terangkai dari bibirmu, apalagi orang lain yang bahkan belum mendengar sepatah kata jujur darimu. Kamu mendadak malu karena terlalu dibutakan oleh kesendirian, sampai-sampai membutakan diri untuk menetrai kebaikan yang berserakan di ujung pandangmu. Kamu terkejut menyadari kenyataan yang tak terbantahkan bahwa Tuhan tidak menciptakanmu sendirian. Tuhan tidak mengajarimu untuk menyendirikan diri. Hatimu tersenyum, begitupun hari mengikutimu.

————-

Sebenarnya ini pengen diikutin di 30harimenulis di ig. Tapi karena kepanjangan, jadi dipost di sini.
Tulisan ini terinspirasi dari berita yang menggegerkan dunia kpop sesaaat sebelum tahun 2017 berlalu. Saya kaget dan bertanya-tanya kenapa harus seperti itu? Sampai akhirnya lahirlah tulisan ini. Tulisan yang bertujuan pengen kasih tau bahwa kita nggak sendirian. Kalian nggak sendirian. If you need someone to talk, just message me. I’ll be your trash problem, yuhuu. 🙂

0

Ketika Tuhan Kangen

Di saat merasa hati terasa sangat berat menghadapi pilihan-pilihan yang mengganggu pikiran. Takut tidak akan mendapatkan kesempatan yang sama, tetapi hati tengah bimbang dengan sesuatu menyangkut prinsip. Takut harus mengorbankan sesuatu yang lucunya batang hidungnya pun belum berbentuk janin.

Lalu ketika bunyi alarm melepas jam 3 terdengar begitu nyaring hingga kesadaran berada pada status maksimal, mata mengerjab kebingungan. Merasa dipanggil, tetapi sialnya setan masih mencoba berkuasa di jam terlelap. Membuat tangan bergerak menggeser layar ponsel ke atas, “tunggu 5 menit lagi”. Anehnya, berapa kalipun mata mencoba kembali tenggelam di alam mimpi, ada sesuatu yang tidak berhenti memberi sinyal kepada seluruh sistem gerak, menyuruh untuk segera bangkit dan mengambil air wudhu. Tanpa sadar, dengan wajah yang seperti berpeluh, aurat telah terbungkus rapat. Siap berdiskusi khusyuk pada Pemilik Semesta.

Bersujud-sujud telah terlewati, tetapi sujud pertama di sepertiga malam hari itu terasa berbeda. Ada haru yang meluap sedemikian rupa. Ada air mata yang tidak bisa dibendung. Ada segukan di setiap curhat yang keluar. Ada harapan di setiap keinginan. Di penghujung pergantian kewajiban fardhu ain, beban di hati terasa ringan seketika. Ikhlas yang selama ini hanya sekedar sederet huruf menjelma menjadi sahabat sejati. Pasrah atas ketetapan Allah semakin kuat digenggam.

Hati sadar, betapa hanya kepada satu tempat boleh bersandar sepenuhnya. Hanya satu kondisi tertentu pertahanan boleh diruntuhkan seluruhnya. Hanya pada satu nama boleh merindu penuh cinta tak berbatas.

Maha Penguasa namun penuh kasih sayang. Yang tidak pernah gengsi memberi kode pada hamba-Nya bahwa Dirinya kangen didatangi dalam doa hamba-Nya. Yang tidak pernah dendam di saat hamba-Nya memohon ampun dengan khusyuk atas dosa-dosa yang sengaja dipupuk. Yang menguarkan kebahagian di saat melihat hamba-Nya curhat private pada-Nya. Maha Penyayang yang sekalipun sesekali terlupakan, tetapi tidak pernah melupakan hamba-Nya, malah kangen.

Ya Allah, we miss you, too.

0

/pərˈ spektiv/

perspective2

“Katanya kalau tinggal di rumah terus, puang ifah mau dinikahin. Kok bisa? Memangnya puang ifah nggak mau nikah, ya?”

Ditanyain sama anak umur 6 tahun begituan itu rasanya mendadak nggak bisa mikir lurus. Mungkin karena si otak sulit menerima kenyataan kalau anak kecil jaman sekarang keponya sudah sangat kreatif, saya cuman bisa jawab dengan ketawa saja. Besoknya, pulang sekolah, masih pakai baju sekolah, lagi-lagi pertanyaan yang sama meluncur dari ponakan yang unyunya menurun sedikit gara-gara kekepoannya yang aneh. Saya mikir sebentar dan menjawab sambil ketawa-ketawi, “mau dooong, tapi kan puang ifah nggak pacaran, jadi nungguin yang lamar baru bisa nikah.” Si ponakan cuman senyum-senyum. Entah kenapa saya curiga besok doi bakalan nanya hal yang sama, dan kecurigaan itu bikin saya berdoa setelah shalat sepanjang hari itu. Iya, dijamin, pertanyaan seperti itu bisa bikin kamu jadi kangen diskusi tentang jodoh sama Allah. Di hari yang sama, saat duduk-duduk menonton tv selepas mandi sore, saya seperti mendapatkan “ilham” untuk jawaban atas pertanyaan tersebut.

Seperti yang sudah saya duga, besoknya setelah shalat maghrib, sambil jungkir balik di sofa depan tv, ponakan saya menanyakan hal yang sama. Kali ini saya senyum, cubit pipinya sebentar lalu jawab, “puang ifah mau kok. Kan, puang ifah pengen punya anak cantik, pintar dan sholehah kayak Syifa. Pengen gendong anak yang lucunya kayak adek Fatih.” Saya elus pipi adeknya yang putihnya kebangetan. Doi berhenti bergerak sebentar lalu mengubah posisinya menjadi duduk cantik, dan tersenyum. Tahu nggak, dalam hati ada perasaan haru yang nggak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Saya tahu jawaban saya gombal banget, tapi saya nggak nyangka hal itu bisa bikin ponakan saya nggak pernah menanyakan hal yang sama lagi.

Keesokan harinya, bukan ponakan lagi yang bertanya, tetapi penduduk di balik tempurung kepala saya nggak berhenti membuat percakapan penuh tanyanya. Mereka nggak puas dengan jawaban saya, dan membuat otak menghasilkan pertanyaan lain yang bikin saya merinding, “gimana kalau Allah nggak mengijinkan punya anak? Apa nilai kebahagian dari sebuah pernikahan itu gugur?”

Mungkin karena kebanyakan melihat dan ikutan berperan pada “sinetron” di dunia nyata, saya jadi sering pesimis bisa bahagia. Saya takut menambah satu season lagi di sejarah sinetron selepas petang tersebut. Tapi ada satu hal yang bikin saya merasa bisa bahagia … iyap, anak-anak. Membayangkan diri melihat perut menjulang dengan puncak bergerak-gerak –memberi sinyal bahwa dirinya sedang bahagia, mendengar suara tangisan panjangnya sebagai salam pembuka pada seisi semesta, melihat bibir mungilnya menuturkan sehuruf demi huruf hingga terangkai kata ibu, digenggam tangan kita saat merasa letih begadang menepuk punggungnya, saling menukar cium pipi saat bahagia, bertukar cerita tentang apapun, oh, membayangkannya saja bisa bikin bahagia dan bikin hati berdesir haru.

Tapi perbincangan sederhana, tetapi penuh makna dengan ponakan sebulan lalu bikin saya jadi lebih mengerti petuah mainstream jaman now,

“Allah knows what is best for us”

Sebaris kalimat yang bikin saya mencoba menggeser sedikit pemikiran tentang apa yang bisa bikin saya bahagia. Kalau dulunya saya hanya menganggap yang bikin saya ingin menikah adalah karena saya akan merasa bahagia bisa dititipkan untuk merawat hamba Allah yang mungil, saya coba geser ke lain hal, misalnya hal basic seperti bisa saling mencoba mengerti satu sama lain, barangkali? Atau kalau mau lebih bijak lagi, whatever Allah gives us, we’ll always try to be happy because Allah always knows what is best for us.

Sebenarnya pembicaraan ini yang masih beroksigen di dunia imajinasi. Tapi sebagai thinker kelas berat, tulisan ini bikin saya merasa sedikit tenang. Ternyata, hal yang dulunya setengah mati diidentitasi sebagai masalah, sebenarnya bisa dianggap sebuah kebahagian. Tinggal mengubah sedikit sudutnya saja, jeng~ sudah bisa terlihat berbeda. Sama seperti foto selfie yang kadang terlihat berbeda hasilnya dari sisi kanan atau kiri pipi.

Um…..

….

Picture was taken from an unidentified music video.
alias, nggak ingat dari MV yang mana. hahaha.


Perspective : per·spec·tive: /pərˈspektiv/ : perspektif