0

(Poem) Kamu Itu Dulu

Kamu itu dulu.
Sejarah tak beraksara
Namun tumpah rasa.
Kamu itu dulu.
Nyawa tak bersuara
Namun pencipta deret huruf hati.
Kamu itu dulu.
Tak beridentitas
Namun berhasil mengidentitasi tanyaku dengan jawab harap.
Kamu itu dulu,
Yang mendadak berubah menjadi sekarang.
Namun masih dengan dulumu.

Iklan
0

(Poem) Forced Adult

Disuruh mengerti
Dipaksa mengerti
Disuruh tidak memilih
Dipaksa tidak punya pilihan
Pengertianmu dangkal
Mungkin karena nada suara masih menghitung balon ada lima.
Mungkin karena tidak paham,
pada manusia dewasa yang bernapas di pelukan oksigenmu.
Arahmu bingung,
Kehilangan fokus.
Kehilangan cermin.

 

0

(Poem) Eyeless

IMG_20180512_185715_HHT-01.jpegBlue,
Black,
Bright,
Dark.
You were there,
Standing behind your lenses,
Smiling over the light.
I was behind your broad shoulder,
Staring your back.
Bluffing of our closeness to my vision.
Your oneiric existence took my sanity.
You weren’t there.
You aren’t there.
I was there.
And I’m still there.
Drowned by blindness.

Makassar, lagi bosan di rumah.

0

(Poem) Pencari Manusia

IMG_20180317_175500_802

Kamu manusia,
Dia dan aku pun begitu.
Manusia yang selalu mencari manusia.
Hati buntu pun sibuk menyuarakan butuh sandaran manusia.
Krisis iman pun diartikan krisis kehadiran manusia.
“I need somebody”
Begitu vokalmu mengudara.
Satu manusia tak cukup,
Dua apalagi
Mungkin kamu kelebihan oksigen.
Atau mungkin ingin tanding pamer seberapa dermawan udaramu terbagi.
Semesta menggeleng gelisah,
melihat pikirmu yang terlalu fokus mensujudkan diri pada penyembur co2.
Hingga lalai untuk sadar,
bahwa diri telah termakan rakus dunia.

Jakarta, 6 April 2018
Di kamar kosan yang berantakan.

0

(Poem) Tok Tok Tok

Terperangkap
Dalam waktu tak berdetik.
Seolah-olah menyengsara.
Namun tertampik oleh sofa nyaman di ruang tengah.
Merangkak,
Membelah sunyi pada kegelapan yang pekat.
Tok tok tok
Begitu merdunya pada cerita di balik dinding.
Lutut mengalaskan dagu,
tengah menanti balasan dari luar di dekat pintu tak bergagangnya.
Mengharap pada magic bertopeng bulan sabit,
membawanya ke tempat berdetik penuh cahaya.
Tok tok tok
Diakui harapnya begitu-begitu saja.
Tetapi,
Ketiga irama beraturan menggema dengan frekuensi kian tinggi.
Tok tok tok…
Baik-baik saja.
Tok tok tok…
Baik… saja.
Tok… tok… tok…
… saja.