0

You won’t know until you read it

Berapa hari lalu saya dan orangtua sedang asyik diskusi fee tulisan di meja makan, yang kemudian diakhiri dengan membahas bagaimana ibu melihat tulisan saya sekarang tak sekelam dulu lagi. Saya termenung dan mengangguk otomatis karena juga merasakan hal yang sama.

Sejujurnya, saya sering sekali menulis banyak hal yang menyerempet kehidupan pribadi. Sekalipun fiksi, tidak sedikit yang terinspirasi dari cerita diri sendiri. Jadi jika ada yang bilang kalau tulisan itu banyak menggambarkan penulisnya,  sebenarnya nggak salah, hanya memang nggak sepenuhnya yang diasumsikan orang lain itu benar.

Sebagai orang yang telah menghabiskan berbuku-buku untuk menulis apapun yang melintas dalam pikiran sejak kecil,  menulis punya caranya sendiri menenangkan perasaan saya yang kadang nggak karuan. Setiap iseng membaca kembali tulisan-tulisan lama, saya ternyata mendadak menjadi pelupa setiap selesai menulis. Seringkali saya nggak ingat kalau beberapa menit sebelumnya amarah saya memuncak dan meledak-ledak bak gunung merapi. Mungkin suatu waktu marah saya masih tersisa, tetapi sudah tidak seemosional sebelum tangan saya menyelesaikan sebuah tulisan.

Sebenarnya cukup kaget menyadari seberapa “dark”nya dulu pandangan saya pada dunia. Nothing could make me happy. I was seriously so depressed years ago. Kalau dipikir-pikir nggak tahu apa yang bikin saya sampai segitu depresinya dulu. Mungkin saya nggak percaya diri, dan nggak percaya pada orang lain. Mungkin dulu saya selfish dan terlalu sombong. Mungkin dulu saya lupa bertanya “Have I done the same thing?” Mungkin dulu saya lupa banyak bersyukur. Sekalipun mungkin dulu ada beberapa manusia toxic yang mengelilingi, tetapi nggak seharusnya membiarkan orang tsb meng-toxic pikiran saya juga. Sekalipun kehidupan percintaan nggak pernah mudah, tetapi nggak semestinya saya merusak kepercayaan diri sampai segitunya. Nggak ada alasan konkrit yang membolehkan saya terlalu lama membiarkan diri menyalahkan dunia. Kalaupun ada, it was my fault from the first place.

Setiap orang punya ceritanya sendiri, entah ditulis ataupun tidak. Entah terlintas di ingatan ataupun tidak. Setiap manusia terbentuk karena cerita di hidupnya dan caranya menghadapi situasi tersebut. Kalau boleh dibilang, hanya karena pernah mengalami beberapa cerita sedih, saya terlampau senang menganggap diri paling miserable. Paling menyedihkan. Paling nggak berharga. Saya lupa kalau Allah SWT sudah menciptakan kita dengan kelebihan masing-masing. Saya lupa kalau manusia disabdakan tidak untuk mencari pengakuan manusia tetapi Tuhannya. Ini mungkin terdengar seperti menyalahkan diri sendiri, tapi saya percaya setiap masalah harus dilihat akarnya dari diri sendiri. The bottom of our life’s problems is in ourselves, don’t you think so? Lagi pula menyalahkan orang lain tidak ada gunanya. It won’t solve our problems. Lebih baik hidup dalam mindset untuk selalu ingin intropeksi diri, mengeliminasi aura negatif, dan lebih banyak berpikir baik tentang apapun itu.

It’s ok to feel sad sometimes, but don’t let those feelings being your life’s controller. When you feel that you’re at the lowest point of your life, please remember,

“Allah will not allow a single tear to drop, if He Himself cannot dry”

To everyone who is still struggling with depression, I hope you will find your own way to shutdown that damn depression, forever. One of my tricks is to believe: Sadness and happiness are best friends, so in every unhappy moment there will be joyfulness waiting for you~

I’m still not ok, but I try my best being an ok person. Let’s be friend with our life, friends! 🙂

 

I know that writing is easier said than done, but you won’t know the power of your reading ability until you try to write yours. Let me know if you have one. I’ll be pleased being one of your readers~

Iklan
0

Tahu Diri

Dan upayaku tahu diri
Tak selamanya berhasil

Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi

Masih ingat dengan lirik Maudi Ayunda – Tahu Diri di atas? Lagu ini sering sekali nggak sengaja saya nyanyikan dua mingguan ini. Nggak, saya sedang nggak patah hati. Hanya sedang tahu diri.

Setahunan ini saya punya misi berusaha menjadi manusia yang lebih baik, tidak peduli diabaikan seperti apa, saya berusaha menekan gengsi yang acap kali meraja di benak setiap tombol send sudah di ujung percakapan satu arah.

Tak sekali-dua kali pesan singkat saya tidak direspon, tapi saya nggak peduli. Yang penting sudah berusaha, entah dibalas ataupun tidak. Tapi nggak bisa bohong, pada awalnya saya menaruh harap ada sederet kalimat yang pun meminta tanda read dari saya. Sampai akhirnya saya memutuskan berhenti menunggu, dan menghapus hampir di setiap pesan yang saya kirim. Kalau tak dibalaspun tak apa, begitu sugesti saya pada pikir dan hati. “Nggak apa-apa, afifah. Mungkin dia sibuk, atau mungkin dia nggak menganggap pesanmu penting saat ini, it’s ok, semangat!

Kemudian saya sadar, sesuatu yang saya anggap baik belum tentu baik di mata orang. Saya tersadar, bisa saja saya sedang mengganggu hidup nyaman orang lain. Mungkin mereka sebenarnya nggak mau bertegur-sapa dengan chat random saya. Mungkin mereka nggak ada waktu, dan terpaksa meluangkan waktu hanya karena  merasa tidak enak pada pesan online tak bermakna milik saya. Betapa egoisnya saya selama ini.

Beberapa hari ini, saya sampai pada kesimpulan, sebaiknya saya tahu diri dan berhenti memulai pembicaraan yang saya tahu tidak membawa efek dua arah. Kalaupun ingin minta tolong, sebaiknya kalau memang sangat sangat terdesak saja. Ucapan hari raya pun ke teman yang benar-benar memperlihatkan ketidakberatan diganggu hidupnya saja.

Walaupun sudah banyak yang memberitahu, saya nggak menyangka saya ternyata senaif itu. Menyedihkan. I’m genuinely sorry for my carelessness. I didn’t know, really.

But this thing won’t stop me for trying my best being a better person. I will be more careful next time.

Good luck for “tahu diri” people out there! Don’t be sad~ It’s ok.
Fighting~

0

Siap Untuk Dikode

Nggak tau kenapa beraat banget rasanya nyari kerja belakangan ini. Dalam jangka dua bulan nggak tau sudah berapa cv yg saya kirim. Dalam maupun luar negeri. Mantul terus cuy. Berapa kali rombak cv, masih juga mantul. Saya nggak pantang menyerah, tetap optimis. Allah yang paling tahu. “Ya Allah, ampuni dosa-dosa hamba. Mudahkanlah kalau memang itu yang terbaik.Begitu terus.

Akhirnya suatu pagi di minggu terakhir bulan agustus dikabarkan ada option lain yang muncul, dan saya galau dong. Takut mengecewakan, dan nggak enak rasanya harus membebani lagi. Walaupun yang bersangkutan nggak keberatan, tetep saya merasa sudah terlalu tua untuk ditanggung lagi. Setelah perbincangan alot dengan penduduk bumi dan Pemilik langit, nama saya terdaftar di hari terakhir. Maju mundur yang paling dramatis seumur hidup saya. Setelah semangat juang yang redup membara lagi, eh diundur dong sampai bulan oktober. Itu pun tanpa belum ada kejelasan apa benar-benar akan dimulai atau tidak. Nanii? Lagi-lagi saya rasanya terpelatuk. Analoginya, lagi lari kencang kesandung batu. Brak. Sedih, uring-uringan, dan bingung musti ngapain.
Tapi,
Kalian pernah nggak kayak ngerasa dikode sama Allah? Setelah rasanya jarang ketemu dan susah banget menggerakkan diri ikut ke acara keren, nggak tahu kenapa dalam hati saya merasa harus menghadiri acara malam mingguan kemaren. Saya yakin ada yang pengen Allah sampaikan melalui perantara-Nya. Saya sedang dikode, saya harus sambut ini. Sebelumnya nggak pernah hadir kalau mengharuskan merogoh dompet, tapi Allah Maha Pembolak-balik hati. Alhamdulillah, langkah nggak berat. Pikir nggak kacau.

Setelah balik dari sana, saya akhirnya sadar sebenarnya sedang dikode apa oleh-Nya. Disuruh banyak-banyak berdoa tapi bukan menjurus ke kedua option di atas. Jadi tersadar dua bulan terakhir ini, di saat merasa iman sedang merosot-rosotnya, saya sebenarnya sedang ditegur dan dikode untuk melakukan sesuatu. Melalui perantara-Nya diketuklah hati yang terlampau cinta dunia ini untuk mencoba menelaah doa yang frekuensinya pun jarang terucap. Allah dan cara keren-Nya mengajak diskusi hamba-Nya. Allah dan cara indah-Nya mengelus pikir keras hamba-Nya.

Jawaban atas kegundahan hati sebenarnya selalu ada di dekat kita. Yang kadang ditutupi dunia dan keindahan muslihatnya. Selalu merasa belum siap, walaupun sebenarnya raga sedang memaksa mengetuk pintu langit. Disuruhnya menjabarkan kodean-Nya dalam bentuk doa tengah malam. Disuruhnya menepis napsu dan meminta dilapangkan hati oleh-Nya. Tidak diminta untuk siap, tetapi diminta kuat untuk menerima teguran bahwa hati sedang mendamba jawaban.

Open our eyes, open our heart. Allah knows what’s the best for us better than anyone even ourselves.

“Ketuklah pintu langit sebelum mengetuk pintu dunia.

Bismillahirrohmanirrohim. Wish the best for us. 🙂

0

(Poem) Forced Adult

Disuruh mengerti
Dipaksa mengerti
Disuruh tidak memilih
Dipaksa tidak punya pilihan
Pengertianmu dangkal
Mungkin karena nada suara masih menghitung balon ada lima.
Mungkin karena tidak paham,
pada manusia dewasa yang bernapas di pelukan oksigenmu.
Arahmu bingung,
Kehilangan fokus.
Kehilangan cermin.

 

0

I’m Old

Haaah, nggak terasa sudah dua bulan lebih jadi manusia pengangguran. Setelah merasakan manis dan pahitnya jadi pekerja di perantauan, saya balik ke kampung halaman dan nongkrong di rumah hampir tiap hari. Pengennya sih ikut kegiatan volunteer di bidang lingkungan atau apalah. Malah sempat pengen jadi relawan di Lombok, tapi diketawain karena katanya nggak berkompeten untuk ke sana lol. Pokoknya saya nggak pengen tinggal di rumah nyaris sepanjang minggu. Tapi mengingat umur yang sudah lewat setahun dari seperempat abad, saya nggak pengen ke sana kemari dengan duit orangtua dulu. Makanya nyaris sebulan belakangan ini saya menyebarkan cv ke sana kemari.

Nyari kerja itu berat, pemirsa. Apalagi kalau punya cv dengan riwayat pendidikan yang bentar lagi di DO. Well, hak mereka sih, dan wajar mereka nyari orang-orang yang bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu dan IPK cantik. Tapi saya nggak putus semangat, yang penting sudah berusaha, sisanya diserahkan sama Allah. Yakin sama kapabilitas sendiri, dan rencana Allah.

Hal absurdnya, sebulan lalu dan beberapa hari ini, saya pengen banget lanjut sekolah. Dua tahun sebelum selesai kuliah, barutahu belajar itu menyenangkan, dan sedikit menyesal tidak serius sedari awal. Sekarang mau kuliah, tapi nggak enak soalnya sekolah sekarang mahal. Mau beasiswa tapi nggak tahu mau ngomong apaan sama interviewer kalau ditanya, “kenapa bisa sampai angka 7 tahun jangka waktu kuliah s1 kemaren?” Entahlah, saya sedang gundah, apa harus mengambil peluang bisa sekolah, atau menunggu panggilan kerja. Should I make my way to get both of them? Greedy nggak sih jatohnya?

Anw baru sadar kalau sekarang banyaaaaaak banget yang requirement-nya maks 25 tahun. Rasanya pengen ngakak tiap lihat persyaratan yang nyinggung umur. Pantas tahun kemaren banyak panggilan wawancara. Sekarang sudah naik pangkat, jadi sepi pengunjung, nih. Mustinya bukan dipanggil wawancara lagi sih, tapi interviewing calon pasangan hidup. HAHAHHAA GARING ABIS.

Intinya, nggak terasa sudah tua coy. =))

=====

Lagi percobaan mulai nulis ala ala(?) gini. Gimana? Lanjutin nggak? LOL
Niatnya biar blog yang sepi pengunjung ini nggak sepi postingan juga.
Mau melatih diri untuk nulis dari laptop juga sih.
Nggak tahu kenapa kalau nulis dari laptop jadi aneh tulisannya.
Sementara kalau dari hp, malah menye-menye. 
Kok bisa ya?

0

Ngomongin Pernikahan

Bagi saya pernikahan itu hal yang sangat spesial, dan nggak pernah gagal bikin terharu setiap mendengar salah satu kerabat atau teman terikat dalam ijab kabul.

Tapi anehnya,
saya
 takut nikah.
Lebih anehnya lagi,
sekalipun takut, saya berangan ingin punya perayaan pernikahan yang sederhana saja.

Sebagai manusia yang terkenal dengan perhitungannya, mungkin perilaku sederhana ini bakal diidentitasi sebagai pelit ke diri sendiri. Saya nggak akan membela diri, itu hak kalian untuk menilai. Saya hanya nggak mengerti dibalik “memewahkan pernikahan”. Di bayangan saya, di hari bahagia tersebut saya pengen membagikan kebahagian tanpa saling menilai acara siapa yang lebih baik. Tapi balik lagi, ini bukan tentang saya dan dia, tapi kami dan mereka. Dua keluarga besar yang mendadak jadi halal dalam setarik nafas ijab. Saya nggak pengen yang mereka ingat dari hari bahagia tsb adalah anaknya durhaka tidak mengikuti keinginan keluarganya. Walaupun begitu, saya nggak berhenti membisikkan keinginan saya sedini mungkin ke orangtua setiap mereka nanya mau resepsi di gedung mana.

Sederhananya, saya cuman pengen bahagia, dan sepertinya sharing kebahagian dengan membahagiakan orang lain tidak perlu sampai mengurangi tabungan terlampau banyak untuk dekorasi dan sewa gedung demi terlihat perlente. Mungkin makanan yang enak sudah cukup?

Well, don’t say “nikahkan cuman sekali seumur hidup.” Kita hidup juga cuman sekali, tapi nggak berarti harus mengerus isi dompet dalam sekali hela, kan?

Masih banyak yang pengen saya bahas, tapi setelah saya pikir-pikir, sepertinya nggak perlu semua orang tahu visi-misi saya tentang hal sakral ini. Cukup yang berkepentingan saja yang tahu. :p

Baca tulisan ini deh, happy akhirnya ada seorang influencer yang punya pemikiran yang sama.