2

Si Kepo, Musuh Move On

Pernah nggak kalian tiba-tiba merasa sudah membodohi diri dalam jangka waktu yang panjang? Berulang-ulang kali meyakinkan diri pada satu kesimpulan, tetapi di dalam hati konsep lain sedang menari-nari, dan mengubrak-abrik hal yang sudah setengah mati diyakini?

Saya bingung, gimana menjelaskan fenomena pembodohan ini. Yang jelas waktu itu saya merasa nggak berharga seketika. Kenapa sih mau-maunya mendedikasikan hati ke orang yang sama sekali nggak pernah mikirin hidupmu kayak apa? Kenapa rasanya sulit sekali menahan diri untuk nggak menggaruk luka yang nyaris kering, padahal tahu nggak bakal menemukan apa-apa selain kekecewaan? Kenapa sih perlu pengakuan atas sesuatu yang tidak pernah diakui secara terang-terangan?

Perbincangan dengan teman dekat beberapa hari lalu bikin saya sadar, betapa manusia itu lucu sekali kalau sedang kebingungan perasaan. Betapa beberapa manusia itu mudah sekali terlena untuk haus akan pengakuan orang lain saat sedang terombang-ambing perasaannya. Kata pak ustadz di tv, kalau kita selalu ingin diakui, berarti kita sedang nggak ikhlas. Saat kita mendoakan orang tersebut bahagia dengan pilihannya, tapi malah sedih pas tahu dia nggak pernah “mempertimbangkan” kehadiran kita, berarti hati sedang nggak ikhlas. Iya, sekali lagi ini masalah ikhlas. Ikhlas untuk nggak dipertimbangkan, ikhlas untuk diabaikan, dan ikhlas dijadikan nomor yang nggak ada dalam deretan angka.

Di akhir percakapan kami malam itu, saya jadi ingin tertawa dan mengakui nggak kerennya kalau kita menganggap diri sendiri bodoh hanya karena merasa “berjuang sendirian”. Mustinya dari awal sadar, kalau membiarkan diri jatuh dalam gelimangan si merah jambu dan mendadak kepo saat memutuskan untuk move on, ya harusnya bisa menanggung konsekuensinya. Entah itu menemukan penemuan yang bikin hati tersenyum, atau malah berhadapan dengan kenyataan yang bikin meringis. Mustinya dari awal ikhlas sudah digandeng sebelum berani memutuskan sahabatan sama kepo.

Jadi ingat sama kata-kata sendiri, “kalau kamu tipe kepo dan memang mau berhenti, hapus koneksi yang bisa bikin kamu menoleh lagi. Karena bohong kalau kamu nggak berharap.” Iya, saya sedang ngomong tentang diri sendiri pas sok-sok jadi asuhan pak Teguh waktu itu. Saya sadar sepenuhnya kalau kepo itu bisa bikin kita lupa sama cerita move on yang keren. Lupa menggunakan akal sehat saat mulai berhalusinasi tentang masa depan. Jadi pelakon PHP yang terkenal itu, tetapi tragisnya PHP ke diri sendiri. Jadi susah berikhlas ria saat tahu sedang memupuk harap bukan pada tempatnya. Kepo itu memang racun, cuy.

Jadi kalau belum bisa ikhlas, sebaiknya jangan kepo karena kepo itu musuhnya move on. Kalau nggak move on, sulit untuk ketemu jodoh sesungguhnya… humm?

Lagi-lagi nggak nyambung. Hahahaha.

Iklan
0

I’m Nothing Without Him

Suatu waktu saya pernah berada di kondisi yang nggak mengenakkan hati. Semuanya terasa nggak nyata, dan bikin saya bertanya-tanya terus menurus. Menangis pun rasanya percuma. Marah pun rasanya tidak ada guna. Lalu saya dipertemukan sebuah perasaan aneh oleh Allah SWT. Perasaan yang bikin saya sadar bahwa hati ini mudah rapuh jikalau tak menempatkan Penciptanya sebagai sandaran pertama.

Di saat hati luar biasa sakitnya, Allah sadarkan, kepada siapa hati hanya bisa bersandar. Kepada siapa sebenarnya tangis kesedihan dan kebahagian dilimpahkan. Kepada siapa diri bisa menampilkan secara utuh sosok aslinya. Hanya berbekal mukenah, tangan yang menjemput kasih-Nya, dan bibir yang menguarkan curhat pada-Nya. Sabar dan ikhlas yang rasanya susah sekali digandeng, pada akhirnya menjadi teman baik. Menjadi tameng di saat hati dibentur oleh kenyataan.

Terus terang masih bingung, dan nggak mengerti, kenapa hal tsb bisa menjadi sejarah. Tetapi satu hal yang saya yakini sampai sekarang, semua hal yang terjadi pasti ada alasannya. Allah nggak akan menitipkan kesedihan yang tidak bisa dipikul umat-Nya, dan Allah selalu punya hadiah untuk hamba-Nya yang berbaik sangka pada-Nya. Berbaik sangka untuk sadar akan kesalahan-kesalahan pribadi hingga diberi teguran. Berbaik sangka bahwa akan ada kebahagian yang menyusul setelah kesedihan.

Cinta-Nya yang bisa bikin saya masih waras, dan nggak berteriak-teriak setiap berhadapan pada kondisi yang sama. Cinta-Nya yang bisa bikin saya nggak merasa nggak berharga. Cinta-Nya yang bisa bikin menangis yang memuakkan menjadi menyejukkan. Cinta tak terhingga pada umat-Nya yang kebanyakan rajin lupa bersyukur yang bisa bikin saya merasa malu, betapa sombongnya hati ini tanpa ridho-Nya.

Yes. I’m nothing without Allah’s love. We are.

2

Friendzone

Nggak tahu kenapa beberapa waktu ini, selain kata pribumi, kata friendzone rajin menghampiri timeline sosmed. Sebagai orang yang barusan gagal lolos tes cpns (huh?) dan nggak begitu tertarik dengan politik, otomatis kata friendzone lebih menarik perhatian jiwa kesingle-an daripada pribumi-bumian itu. Saya mendadak kepikiran, emang saya pernah ya terlibat dalam persilatan dunia friendzone yang pedih itu? Setelah mikir panjang dan berlika-liku, jawabannya malah ke pertanyaan lainnya, friendzone apaan sih?

Kata google sih, friendzone adalah dua insan manusia yang salah satunya terinfeksi uka uka *krik*. Kalau dari kacamata saya, friendzone itu agak sejenis dengan PHP dan cinta keberatan sebelah. Bedanya kedua insan yang tak paham dengan perasaan masing-masing ini memang saling memahami dan mendukung satu sama lain. Samanya, kebanyakan sama-sama nggak ada mutual perasaan suka dan kadang unsur ge-ernya kental banget, cuy. 

Oh,

Oh!

Saya kayaknya punya cerita yang agak mirip; terlalu nyaman dengan suatu tempat sampai nggak sadar sama sesuatu, lalu pergi sebelum kelewat sadar. Kalau mainstreamnya, orang-orang membiarkan dirinya tenggelam di dalam keadaan penuh kenyamanan daripada menyadari ada hal yang pincang lagi merangkul kenyamanan. Nyaman tapi was-was, dan biasanya bertahan karena alasan klise, “because I don’t want to loose you.”

Tapi seperti yang bisa dilihat dari postingan-postingan sebelumnya, saya bukan tipe mainstream, pemirsa. Bagi saya perasaan itu bukan buat dipelihara. Mau dia teman dekat yang sudah kayak sodara sendiri, atau kerennya best friend forever, tapi kalau sudah menyerempet perasaan… sudahlah. Saya selalu minta sama Sang Pencipta untuk dijaga agar tidak terjebak di friendzone. Berdoa supaya si otak lincah bekerja mencari jalan untuk meluncur keluar dari zona itu sebelum pintu “terketuk” terbuka.

Saya ini tipe yang rajin menanyakan ke diri sendiri, apa yang saya inginkan? Apa yang ingin saya capai? Berbekal dari  sifat tukang nanya itu, saya jadi punya prinsip bahwa perasaan itu harus selurus dengan pasangan hidup, makanya saya nggak mau main-main dengan masalah itu. Padahal kalau mau berkaca dari kalimat yang sering saya utarakan tentang bagaimana sebuah pasangan hidup itu nggak melulu tentang cinta, tapi visi misi hidup yang sejalan dan kenyamanan yang meluap-luap, saya nggak akan bohong, pastinya akan senang jikalau best friend tsb menyebut nama saya di ijab kabulnya.

Tapi (lagi lagee) sekali lagi, saya punya pendapat sendiri masalah ini. Menurut saya, friendzone itu semacam pelarian dan membohongi diri sendiri. Nyaman tapi nggak disukai, suka dan nyaman tapi nggak bisa ngapa-ngapain, dan paling parah sama-sama suka dan nyaman tapi nggak bisa keluar dari belenggu “I don’t want to loose you”. Sebagai seorang muslim, membiarkan diri “berbodoh-bodohan” itu nggak diiyakan dalam agama. Kita dituntut untuk selalu berpikir dan mencari jawaban dari kegelisahan kita pada Allah SWT. Mencari kenyamanan yang diridhoi oleh Allah SWT. Nah, ini, jadi halal saja belum tentu, kenapa kita rasanya takut sekali memutuskan sesuatu yang lebih banyak bikin galaunya daripada senyumnya?

Saya selalu percaya sama rencana Allah SWT, bahwa jika kita merelakan sesuatu untuk meningkatkan kualitas kebaikan vertikal, akan Allah ganti dengan hal lebih indah lainnya. Jadi kenapa takut keluar dari belenggu friendzone? Kenapa takut mengakui bahwa friendship yang indah itu sudah berganti nama jadi friendzone? Apalagi buat ciwi-ciwi, aduh jangan mau membiarkan diri terjebak di dunia ke-friendzone-an. Kasian itu hati sudah dititipkan Allah malah sengaja buat disakitin.

Pertemanan yang baik itu adalah pertemanan yang senantiasa mengingatkan untuk ada pada jalan Allah. Kalau pertemananmu sudah bikin kamu galau –dimana galau itu salah satu tanda jauh dari-Nya, baiknya ditinggalkan saja. InsyaAllah, Allah nggak akan marah kok kalau kita “memutus” ke-bestfriend-an untuk mengejar hal yang baik lainnya. Mending nungguin yang halal daripada menggalaui yang belum dihalalin.

Piss~

 

Nyambung nggak sih? Hahaha

0

When you like someone

Kadang, jiwa juangmu dihitung bukan dari sebanyak berapa kali kata suka yang kauutarakan, atau usaha-usahamu untuk memiliki, tapi tentang menahan diri serta menyadari bahwa yang sedang bermain-main di benakmu itu …

Mendadak kepikiran ini saat nggak sengaja ketemu dengan seorang wanita paruh baya yang nggak pernah terpikirkan bakal ketemu di tempat tsb. Secara setiap bulan datang di hari yang sama, dan saya tidak pernah melihat beliau sebelumnya. Dengan baju merah putihnya, beliau mengelilingi ruang tunggu, dan menyodorkan permen ke semua orang (iye, semua orang!). Mungkin terdengar biasa saja, tapi itu bukan pemandangan yang mainstream di tempat tsb. Beliau masih sama, orang yang sederhana, murah hati, dan baik, dan itu yang bikin saya teringat anaknya….. oke.

Dua minggu waktu itu bikin saya sadar betapa hebatnya beliau, dan betapa lucunya yang namanya perasaan. Saya nggak pernah seperti itu sebelumnya, teman-teman pun bingung melihat keanehan yang saya lakukan. Tapi makin hari saya jadi sadar, namanya perasaan itu memang kadang nggak sinkron dengan keinginan kita. Saat suka seseorang sedemikian rupanya, tetapi lupa hidup bukan cuman tentang perasaan. Saya jadi teringat dengan mimpi-mimpi membangun keluarga yang ingin senantiasa dipeluk oleh kasih sayang Allah SWT. Oh, again, tapi saya sungguhan tentang ini. Makanya saat menyadari bahwa yang saya miliki hanya sekedar perasaan tanpa menoleh kembali mimpi indah tsb, saya tersadar menyukai seseorang itu memang sebatas seperti itu saja.

Sejujurnya saya jadi merasa sedikit iri dengan orang-orang yang bisa menyukai lawan jenis yang ibadahnya super dan yang bisa murojain mereka tiap saat. Entah kenapa … saya merasa nggak pantas untuk menyukai lawan jenis yang super tsb. Tapi di lubuk hati yang paling dalam pengen rasanya punya pasangan hidup pengejar surga seperti itu. See, beginilah manusia, penuh dengan kontradiksi. Maunya ini, yang dilakuin itu, tapi ujung-ujungnya mikirin si ini. Aneh.

Setelah seharian mengingat dua minggu itu, saya jadi tersadar, mungkin ini yang bikin saya nggak pernah “berjuang” dengan orang-orang yang bikin “saya bingung”. Karena entah kenapa saya merasa yang tahu terbaik buat saya itu ya dari Allah SWT, dan menurut saya yang terbaik itu datangnya dengan cara yang halal. Bukan hanya sedekar bisikan-bisikan setan yang malah bikin galau nggak jelas.

Intinya, menurut saya, menyukai tanpa dibarengi mimpi akibatnya nggak baik pemirsa. Makanya saya pribadi nggak gitu pusing masalah menghalalkan relationship untuk sementara ini, soalnya saya tengah memantaskan diri dengan mimpi-mimpi saya. Tapi…   sekali lagi, yang terbaik buat kita hanya Allah yang tahu, kita berencana seperti apapun, pemegang rencana hanya milik Allah, manusia tugasnya berusaha kemudian berikhtiar, dan ikhlas.

Sebelum menutup omong kosyong saya  ini, saya mau minta maaf, soalnya saya nggak ngatain “kalian” bukan pengejar surga, hanya sekarang saya merasa nggak sanggup lagi main-main sama “yang terbaik pasti datangnya dari Allah SWT”.

0

Katanya Bahagia Itu Sederhana, Kok!

Salah satu hal yang bisa bikin kita merasa nyaman selain taat kepada perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya adalah dengan merasa bahagia.

Pernah nggak sih kita bertanya ke diri sendiri, kira-kira apa yang bikin kita bahagia?

Pernah nggak sih kita kepikiran, kira-kira apa yang bikin kita terkadang merasa nggak bahagia?

Saya pernah, sering malah. Saya suka bertanya-tanya kira-kira hal apa yang harus saya ingat supaya bisa berhenti marah pada sesuatu, dan pertanyaan itu membawa saya pada suatu pertanyaan lain, yaitu,

“kira-kira apa yang bikin saya bahagia?”

Terus terang untuk menjawab pertanyaan itu nggak gampang. Soalnya kalau sudah terlalu dikuasai emosi, akal sehat suka semena-mena bikin otak lupa ingatan. Maunya merasa jadi victim terus, sampai-sampai mencari ingatan bahagia pun jadi sulit.

Sebagai orang yang extremely introvert dan sensitive, saya sering menjumpai diri sendiri marah dengan suatu yang sebenarnya nggak jelas sama sekali. Saya sering membuat asumsi-asumsi tidak berdasar karena sifat yang over sensitive. Tapi akhir-akhir ini, kemarahan tsb pada akhirnya membuat saya jadi bertanya ke diri sendiri, memangnya apa sih yang saya cari? Kenapa selalu mencari alasan untuk dimarahi? Memangnya perlu semua orang mengerti isi kepala saya kalau kerjaan saya hanya menyalahkan? Yes, I love asking myself. Tapi itu yang bikin saya sadar, betapa egoisnya manusia itu. Kita sibuk mengutuki sesuatu, padahal ada sesuatu yang mustinya kita syukuri. Kita sibuk melihat ke suatu arah, sampai lupa menoleh di samping kita ada sesuatu yang bisa bikin kita bahagia.

Saya pernah lho pengen berhenti kuliah. Waktu itu saya merasa nggak bahagia, merasa tertekan dan nggak menemukan alasan kenapa saya harus menjadi sarjana. Saya nggak tahu, apa akan merasa bahagia kalau di belakang nama ada title sarjana atau tidak. Waktu itu saya beneran nggak pernah nyentuh sama sekali draft skripsi entah selama berapa lama. Sampai suatu ketika sebuah pertanyaan menghampiri kesadaran saya, memangnya saya bisa bahagia ya kalau tidak selesai kuliah sementara orang-orang di sekitar saya sedih?

Saya merenung lama, bertanya ke kakak-kakak pengajian, kemudian merenung lagi sembari melihat kondisi di sekitar. Lalu mendadak saya tersadar, bahagia itu nggak selamanya “aku bahagia semua orang pasti bahagia”. Bahagia itu nggak semua tentang diri kita.  Bahagia itu nggak selamanya titik pusatnya di diri kita. It’s not always about “I”. Bahagia itu nggak selamanya tentang bagaimana dunia melihat kita, tetapi sesekali tentang bagaimana kita melihat dunia di sekeliling kita. Bahagia dengan apa yang kita punya, bahagia dengan apa yang orang miliki, dan bahagia dengan apa yang belum sempat kita genggam. Sesederhana itu ternyata.

Setelah melihat tulisan-tulisan lama yang mostly sudah hilang dari muka umum, saya jadi sadar kesalahan terbesar seorang saya itu apa. Saya nggak bisa mengingat sesuatu yang bisa bikin bahagia karena terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang bikin saya menangis. Kenapa sih sibuk membuat orang-orang yang “tidak suka” (I’m not talking about love, please) dengan saya, sampai lupa ada kok orang-orang yang dengan senang hati berbagi cerita bahagia dengan saya? I’m so dumb.

Kalau dipikir-pikir nih, selama kita nggak melakukan hal-hal yang jelek, nggak menyakiti orang lain, dan nggak menjauhi Tuhan, kenapa musti menjadi manusia yang lupa bahagia kalau mengingat bahagia itu ternyata dengan menjauhi pribadi “lupa bahagia”? (What the heck am I talking about? LOL)

Anw, yes, bahagia itu… memang sesederhana itu kok. 😀

0

(Poem) Tok Tok Tok

Terperangkap
Dalam waktu tak berdetik.
Seolah-olah menyengsara.
Namun tertampik oleh sofa nyaman di ruang tengah.
Merangkak,
Membelah sunyi pada kegelapan yang pekat.
Tok tok tok
Begitu merdunya pada cerita di balik dinding.
Lutut mengalaskan dagu,
tengah menanti balasan dari luar di dekat pintu tak bergagangnya.
Mengharap pada magic bertopeng bulan sabit,
membawanya ke tempat berdetik penuh cahaya.
Tok tok tok
Diakui harapnya begitu-begitu saja.
Tetapi,
Ketiga irama beraturan menggema dengan frekuensi kian tinggi.
Tok tok tok…
Baik-baik saja.
Tok tok tok…
Baik… saja.
Tok… tok… tok…
… saja.