4

(FICTION) 18.000 DETIK

18.000 detikAda kalanya kamu merasa memiliki koneksi tak terputuskan pada seseorang, perasaan bahwa dia adalah satu-satunya orang yang ingin kaujadikan teman melewatkan waktu bahagia dan sedihmu hingga oksigen tak lagi bersahabat dengan pernapasanmu. Entah karena kehadirannya yang teramat konsisten sejak gigimu masih bergigi susu, atau malah karena keeksistensiannya yang hanya 18.000 detik di hari yang lembab dan basah di kafe kesayanganmu.

______

Mataku masih menimang-nimang antara bangkit dari tempat tidur atau kembali menyelami dunia mimpi saat siluetnya perlahan bergerak menggelapi beberapa daerah di depan pintu. Aku menengadah, tersenyum begitu saja melihatnya merangkul cuping gelas di masing-masing tangannya. Dia perlahan berjalan mendekat, menaruh salah satu gelas di nakas, dan mengacak puncak kepalaku gemas.

“Hari hibernasi, ya? Ini sudah jam 11 lho, Dhan.” Ucapnya sembari menyodorkan segelas yang kutebak berisi jus kiwi setelah melihat isinya yang hijau muda.

Aku tergelak malu setelah mengambil gelas dari tangannya, 2 tahun sejak namaku disebut di ijab kabulnya belum cukup mengakhiri sifat malu-malu kucingku di saat-saat seperti ini.

“Karena hujan?”

Aku menoleh, mendapati senyumnya yang masih sama terpantri di wajahnya yang tak begitu banyak perubahan di hujan pertama kami 6 tahun lalu. Hanya saja, rambutnya sedikit tak tertata rapi hari ini. “Nggak ke rumah sakit, Bim? Tumben nggak keluar pagi-pagi.” Aku merapikan beberapa helai rambutnya sambil menyuruput isi gelas.

“Nggak, kan libur.”

“Nggak ada operasi?”

“Nggak ada, Dhana cerewet, tukang nanya.”

“Ih, baru juga ditanya dua kali.” Aku menggerakkan tubuh bagian bawah, menggantung kaki agak gempalku di pinggir ranjang.

“Mau jalan-jalan?”

“Temenin ketemu klien di sbux jam 1 aja ya?”

“Oke, boleh.”

“Bim.”

“Hmm?”

“Hari ini hujan lho.” Tanpa sadar aku menyelipkan sejumput rambut ke belakang telingaku, kami saling menukar pandangan sebelum suara tawa menguar tanpa henti dari kedua mulut kami.

“Ada yang jatcin pada pandangan pertama!” Teriak Bima disela-sela tawanya.

“Ada yang ngajak nikah orang yang pernah dia tolak cintanya!” Ujarku mendorong lengannya pelan.

Aku berterima kasih pada ego yang mendominasi di 18.000 detik hari itu. Hujan yang menderas penuh drama, segelas green tea tanpa wipe cream, sesosok berkacamata dengan suara baritonnya, setumpuk cerita yang meluap-luap tanpa bersapa dengan ponsel, dan surel di hari spesial. Tuhan ternyata telah menaruh takdir berselimuti cincin emas di cerita yang kupikir selesai dua tahun lalu. Aku tidak pernah menyangka sebidang datar 5 inch sanggup membangun cerita kami kembali, atau mungkin cerita kami memang memiliki ending seperti ini sedari awal.

“Dhan, sekalian beli perlengkapan bayi aja.” Bima mengusap matanya yang berair karena tertawa.

“Yaelah, Bim. Baru juga 5 bulan. Jenis kelaminnya aja belum jelas, sudah mau beli perlengkapannya.”

–END–

.
.
.
.
.
HAHAHAHA,
AKHIRNYA JADI!
CERITA BAHAGIA SPESIAL FOR YA.
Geli juga nulis ginian.
Anw, hope the best for ya, sis.
BAHAHAHAK #PLAK
Nulis dari hp, jadi dikiranya sudah panjang,
ternyata beloon.
Aaaa

Iklan
0

(FICLET) LAPAR?

tanganjendelaapaitu

Terhitung menit ke lima belas, makanan yang kupesan belum juga datang. Aku melempar pandangan, melewati sederetan orang yang tengah sibuk dengan dunia berlayar datarnya dan mendaratkannya pada daun pintu dapur yang tertutup tirai hijau. Nasi goreng spesial –tanpa sosis karena kehabisan sosis kata mbaknya, belum juga menunjukkan tanda-tanda ingin menghampiri mejaku.

Aku menopang pipi dengan malas. Mungkin karena kelaparan, aku tergoda melipirkan netraku pada sekeluarga yang tengah asyik memindahkan isi piring dari piring satu ke lainnya. Bertiga perempuan, seorang lelaki dan dua anak kecil yang tak penting kuidentitasi jenis kelaminnya. Mereka memiliki bentuk tubuh dan fraktur wajah yang teramat mirip, oh, bahkan cara menggambar alisnya pun sama. Aku menahan senyum, entah kenapa menemukan pemandangan ini begitu lucu. Mungkin karena alisnya? Atau karena keseruan yang menguar di antara mereka tanpa pusing dengan pandangan orang?

Aku juga tidah paham, makanya kembali kudaratkan perhatianku pada temanku, Rana, yang tengah asyik dengan ponselnya. Aku ingin mengatakan sesuatu tapi kuurungkan karena mendadak merasa tertindas oleh suara-suara perempuan di samping kananku yang kian meninggi seiring waktu.

Aku lapar…

Baca lebih lanjut

0

(FICLET) SALAH HUJAN?

Salah Hujan2

Suara notifikasi chat menyelinap di antara suara ikan melompat kegirangan menyambut air hujan. Aku menoleh ke kiri, memandang ponselku yang tengah kucharge tak jauh dariku. Kutunggu hingga lima kali berbunyi baru kugerakkan tubuh penuh lemakku dengan malas. Kucabut colokan chargenya dan kembali ke posisi semula –berbaring di lantai dekat kolam ikan.

Because rain is pain for me.

Aku menengok ke langit lepas di atas kolam ikan, lalu kembali menghadap ke layar ponsel.

I dont remember if I have special memories when rainy days.

Aku menautkan alis, berusaha mencari momen spesialku di saat hujan. Bukan pekerjaan mudah ternyata memilah satu di antara sekian banyak ingatan untuk dijadikan momen bahagia saat hujan turun.

But maybe,

there some, those will be as forgottable moments then.

Dengan kepala berdenyut-denyut, aku mencoba menerjemahkan chat terakhirnya. Akhir-akhir ini kemampuan berpikirku disita oleh bab 4 skripsiku. Jadi tidak heran kalau chat mendadak yang agak puitis itu, sulit untuk kumengerti secara ke seluruhan. Aku menyimpan ponselku di atas dada, melempar pandangan pada air yang meluncur dari pancuran di sudut kolam.

Suhu menurun seiring hujan yang kian menderas, membuat kulitku yang bersentuhan langsung dengan lantai mengkerut kering. Apa ini bisa disebut momen spesial? Karena walaupun alergiku pada dingin cukup parah, tetapi tidak membuatku ingin bangkit dari tempatku tidur-tidur. Soalnya, aku selalu bangga dengan otakku yang mendadak rajin menghasilkan ide menarik saat hujan seperti ini.

Aku tersenyum, mengangkat ponselku, dan membiarkan jari jemariku merangkai sederet kata yang sedaritadi melayang-layang di benakku.

Kok marahnya sama hujan, sih?

Memangnya hujan salah apa sama kamu?

Mungkin yang salah bukan hujannya lho, tapi kamunya.

Setelah kuklik tombol send, kembali kutelengkupkan ponsel di dada. Sekalipun hujan selalu berhasil menarik kenangan tak mengenakkan dari masa lalu, tetapi bukan salah hujan kalau memang sedari awal tubuh tak memakai jas hujan yang tepat. Jas hujan berupa sebuah senyum dan setumpuk rasa bersyukur, semestinya cukup tuk membentengi rasa sedih yang hobi menggandeng rintik hujan.

 -END-

 

|
|
|
|
Ih, berasa ceramah gajes ya ficlet ini. Hahaha.

Sorry,

ternyata,

chat orang galau

bisa memproduksi

sel-sel ide yang menarik di kepala.

#PLAKS

#DOUBLEPLAKS

0

(FICLET) CINTA YANG MELELAHKAN

cieilekecl

Suaranya yang berat masih mendayu di pendengaranku, menyeruakan betapa sulitnya hidup. Ingin selalu muda katanya terus menurus yang anehnya kutanggapi dengan decakan kesal disertai air mata, mungkin teringat dengan kebodohan-bodohanku. Betapa berulangkali kubiarkan diriku terhanyut dengan perasaanku sendiri, berharap ada sesuatu yang berubah di antara kami. Padahal aku tahu, bahkan di ingatan pendeknya pun tak akan ada tempat untuk mengingat namaku.

Forever, we are young.” Ucapnya lagi membuatku ingin melempar ponselku, tetapi kuurungkan mengingat ada beberapa fotonya belum ku-backup.

Ampun deh. Nangis gara-gara Tae lagi, kan? Gila kau, Rel.” Mendadak celutukan Jee terngiang membuatku menoleh ke kiri –ke arah lift, takut kepergok menangis di depan kantor jurusan sore-sore begini olehnya. Tidak ada yang paling bahagia mengejekku jika terlihat bodoh seperti ini selain dia. Tapi teringat dengan kebiasaan sering telatnya, kusimpulkan televisi di depan kantor jurusan menjadi saksi bisu tunggal tangisanku.

Kembali kufokuskan pada pendengaranku, kali ini dia berceloteh tentang bagaimana dia mencoba untuk move on dariku tapi tak bisa. “You are my everything, I need you.” Aku menarik kedua earphone dari cuping telingaku. Sial, jatuh hati pada seseorang yang tidak bisa dimiliki itu melelahkan.

-END-

Tulisan khusus buat partner S

yang susah nggak ngayal.

LOL

Malam ini gemes banget pengen nulis,

soalnya banyak banget curhatan

galau

tapi galau cinta tak kesampaian ini

yang paling bikin ngakak

dan sulit untuk tidak diabadikan.

LOL

0

(FICLET) MEMAAFKAN(…)

peluklututcut.jpg

Guntur baru saja menggelegar saat kuselipkan kedua kaki di balik selimut. Kulirik jendela yang sedari tadi berusaha meloloskan kilat dari sela-sela gorden. Seharian ini hujan turun, tak begitu deras tapi konstan –biasa kusebut hujan syahdu, romantis sekaligus memilukan. Aku mendesah kuat, menidurkan tubuh dan memandang lurus ke atas.

Kufungsikan mataku sebagai lcd proyektor, memantulkan berbagai kejadian di langit-langit kamar. Sementara otakku kubiarkan memilih sendiri kenangan dari hardisk penyimpanannya. Beberapa kenangan lucu berkelebat membuat ujung bibirku tertarik, tersenyum seperti orang bodoh. Aku berkedip mengganti satu persatu frame-frame ingatan dan terhenti pada suatu titik. Kupijit pelipisku, ingin marah karena dari sekian banyak ingatan, aku memilih satu kenangan yang ingin kulupakan seumur hidupku.

Nyaris dua tahun berlalu, tetapi rasanya baru kemarin kulihat bulir matanya, isak pilu saat memanggil nama ibunya, dan tangan keriputnya yang mengusap air mata dari pipinya. Mataku tanpa sadar sudah menampung sedikit genangan, lukanya masih belum sepenuhnya sembuh. Entah karena sifatku yang pendendam atau bagaimana. Tapi memikirkannya saja sudah membuat entah organ apa dalam tubuhku berdenyut-denyut. Aku menutup mata, berusaha memanjat syukur pada Tuhan. Mencoba untuk bijak bahwa di luar sana masih banyak hidup yang lebih pilu lagi.

Namun sebulir air mata lolos dari sudut mataku, oh… si cengeng berkunjung lagi.

.

.

.

Seberapa sering kamu memaafkan tapi tetap merasa sakit?