0

(DRABBLE) Kamu (tidak) Memalukan.

cilukba

Bunyi pintu mobil yang kubanting memenuhi lorong sepi di pertigaan kompleks. Aku tanpa berbalik, berjalan menuju rumah. Matahari masih terik, dan rumah-rumah yang kulalui tidak begitu tinggi tuk menyembunyikanku dari sinar yang menyengat. Kutarik napas panjang, kebiasaanku ketika sedang sangat sedih dan ingin menangis. Kutepuk kedua pipi, mencoba memarahi diri sendiri yang terbawa emosi. Aku melangkah cepat, masih menepuk kedua pipi, dan masih mengatur napas yang sulit diajak beraturan.

Belum sampai pada tikungan pertama, sebulir air mata lolos dari balik kacamata kebesaranku. Aku menghapusnya buru-buru, takut jadi perbincangan tetangga. Tapi sialnya, kecepatan langkahku nyaris mirip dengan kecepatan mataku menghasilkan air matanya. Dalam sekejap, aku berubah menjadi orang yang mengumbar kesedihan di lorong dekat rumah.

Memalukan,

aku memalukan seperti kata mereka.

Baca lebih lanjut

Iklan
0

(FICLET) SALAH HUJAN?

Salah Hujan2

Suara notifikasi chat menyelinap di antara suara ikan melompat kegirangan menyambut air hujan. Aku menoleh ke kiri, memandang ponselku yang tengah kucharge tak jauh dariku. Kutunggu hingga lima kali berbunyi baru kugerakkan tubuh penuh lemakku dengan malas. Kucabut colokan chargenya dan kembali ke posisi semula –berbaring di lantai dekat kolam ikan.

Because rain is pain for me.

Aku menengok ke langit lepas di atas kolam ikan, lalu kembali menghadap ke layar ponsel.

I dont remember if I have special memories when rainy days.

Aku menautkan alis, berusaha mencari momen spesialku di saat hujan. Bukan pekerjaan mudah ternyata memilah satu di antara sekian banyak ingatan untuk dijadikan momen bahagia saat hujan turun.

But maybe,

there some, those will be as forgottable moments then.

Dengan kepala berdenyut-denyut, aku mencoba menerjemahkan chat terakhirnya. Akhir-akhir ini kemampuan berpikirku disita oleh bab 4 skripsiku. Jadi tidak heran kalau chat mendadak yang agak puitis itu, sulit untuk kumengerti secara ke seluruhan. Aku menyimpan ponselku di atas dada, melempar pandangan pada air yang meluncur dari pancuran di sudut kolam.

Suhu menurun seiring hujan yang kian menderas, membuat kulitku yang bersentuhan langsung dengan lantai mengkerut kering. Apa ini bisa disebut momen spesial? Karena walaupun alergiku pada dingin cukup parah, tetapi tidak membuatku ingin bangkit dari tempatku tidur-tidur. Soalnya, aku selalu bangga dengan otakku yang mendadak rajin menghasilkan ide menarik saat hujan seperti ini.

Aku tersenyum, mengangkat ponselku, dan membiarkan jari jemariku merangkai sederet kata yang sedaritadi melayang-layang di benakku.

Kok marahnya sama hujan, sih?

Memangnya hujan salah apa sama kamu?

Mungkin yang salah bukan hujannya lho, tapi kamunya.

Setelah kuklik tombol send, kembali kutelengkupkan ponsel di dada. Sekalipun hujan selalu berhasil menarik kenangan tak mengenakkan dari masa lalu, tetapi bukan salah hujan kalau memang sedari awal tubuh tak memakai jas hujan yang tepat. Jas hujan berupa sebuah senyum dan setumpuk rasa bersyukur, semestinya cukup tuk membentengi rasa sedih yang hobi menggandeng rintik hujan.

 -END-

 

|
|
|
|
Ih, berasa ceramah gajes ya ficlet ini. Hahaha.

Sorry,

ternyata,

chat orang galau

bisa memproduksi

sel-sel ide yang menarik di kepala.

#PLAKS

#DOUBLEPLAKS

0

CHOCOLATE

chocolate2

Aku menaruh sebungkus roti di sampingnya lalu cepat-cepat berlari menjauh. Tapi kemudian suara baritonnya membentur gendang telingaku. Aku mematung beberapa saat sebelum berbalik perlahan. Menatapnya sekilas dan segera membuang pandangan ke lantai. Aku tidak pernah berani menatap matanya.

“Kenapa kau menyukaiku?” Ulangnya dengan suara yang lebih keras dan jelas.

Baca lebih lanjut

0

Love and Trust

46757465

by Pippo

Pairing: EXO Lay & Jenifer Kim a.k.a Jee (OC)

Genre: Romance

———

Jee termangu menatap tubuh Sehun yang jangkung meliuk-liuk mengikuti beat lagu. Tak habis pikir, bagaimana tubuh jangkung itu bisa bergerak begitu indah. Padahal dulunya dia mengira Sehun akan bergerak seperti Pinokio, yang membengkokkan sendinya saja setengah mati. Jee tertawa pelan, dia terlalu dini untuk meremehkan lelaki yang lebih muda dua tahun darinya itu.

Seseorang berdehem kencang, membuat Jee melotot kaget melihat siapa yang dilihatnya. Dia terlalu terpesona pada rambut warna-warni Sehun sampai lupa di samping Sehun, ada Lay. Lelaki yang sudah menjadi kekasihnya selama empat tahun lebih. Jee tersenyum kecut, lalu menaikkan tangannya membentuk peace sign.

Lay mengambil posisi duduk di samping Jee setelah menyelesaikan latihannya. Menyandarkan tubuhnya pada dinding cermin yang mengelilingi seisi ruangan lalu menselojorkan kakinya. Mereka sama-sama tidak bicara seperti biasa. Menikmati keheningan yang selalu tercipta di antara mereka dengan khidmat. Hanya dengan Jee, Lay bisa merasa bahagia dengan diam saja.

Jee mengulurkan sebuah handuk putih dan sebotol air minum. “Aku mau menari lagi, Lay.” Gumamnya setengah berbisik tanpa menatap lawan bicaranya. Lay menatapnya kaget, yang kemudian berujar, “Aku juga mau menari bersamamu lagi, Jee.” Seraya menggenggam erat tangan Jee, menyalurkan seluruh kekuatannya pada wanita yang begitu dia sayangi.

Baca lebih lanjut