0

(FICTION) TERBIASA

A-02Ada saatnya, kamu akan sadar bahwa sebuah rasa patutnya tidak ditaruh lagi di kantong baju harianmu, tetapi ditaruh di gudang pengalaman tak berpintu di rumah bekasmu.

Rana meraih sepotong kentang goreng dan mencelupnya ke saos merah pedas kesukaannya, sembari menyuapi dirinya dia melontarkan pertanyaan paling mainstream yang biasanya muncul di sinetron-sinetron Indonesia, “menurutmu, apa yang bisa buat kamu bertahan?”

Aku termenung dua menit sebelum menggandeng jawaban -yang sebenarnya tidak perlu kupikir terlalu lama- meluncur keluar dari bibirku, “cinta kami pada Allah.”

Kami saling berpandang-pandangan, dan tersenyum geli. Sahabatku itu tahu, aku menikah dengan orang yang berbeda dari sosok yang rajin kusinggung dulu, mungkin bingung melihatku terlihat biasa-biasa saja setelah berlama-lama bergelimang dengan penyakit anak muda, galau.

“Cinta itu ada karena terbiasa, Ran. Kalau kamu ngebiasain dirimu terbiasa menyakiti diri dengan cerita lama, ya kamu bakal hidup dengan itu. Tapi kalau ngebiasain dirimu dengan orang yang ada di sampingmu, ya dengan sendirinya kamu bakal ngelupain cerita lamamu.” Ujarku disusul cekikan geli, teringat kebodohan-kebodohan yang semestinya tidak perlu dialami kalau memiliki pola pikir yang sama.

“Memangnya kamu nggak pernah mikirin dia lagi?”

“Hush, sudah. Nggak usah dibahas lagi. Allah sudah nitipin hati ini sama bapak anak-anakku kelak. Lagian bodoh rasanya, Ran, kalau mau berlama-lama tenggelam di cerita yang sama sementara ada cerita baru yang lebih indah.” jelasku mantap. Wajah sawo matang berjanggut tipis dan berbingkai kacamata muncul menari-nari di benakku. Aku tersenyum, “makanya buruan nikah, Ran. Nggak cape apa sendirian mulu?”

“Itu lagi. Nggak ada pembahasan yang lain apa?” Kami tertawa, menutup pembicaraan dengan pembicaraan lain tentang karyawan baru di divisinya yang katanya masuk katagori suamiable.

–END–

.
.
.
.
Terinspirasi dari draft novel temen,
ijin ya, hahaha.
Ngakak pas nulis ini,
pertamakalinya nulis genre kayak beginian.
HAHAHA
Nulis dari hp ehem

Iklan
0

(DRABBLE) KEBAIKAN YANG DIPAKSAKAN.

hpdalamkloset2

Kakiku rasanya ingin lepas berjalan cepat menyusul Rana yang mendorong motornya dari atas sadelnya. Pukul 9.30 malam, jalanan yang sudah tidak begitu ramai menambah drama dari ban kempes kami beberapa waktu lalu. Helm tidak kulepas dari kepalaku, sengaja, ingin mengidentitasi diri pada orang lain bahwa aku adalah korban kerjaan orang iseng yang mengerikan.

Di perempatan jalan yang salah satu lampunya merah, aku berlari cepat menyebrangi netra pengendara yang bingung melihatku. Aku cuek saja, sembari tetap melangkah lebar-lebar mengimbangi Rana yang sudah jauh di depan. Oh, Tuhan, untung saja aku sudah tidur lama tadi siang jadi punggungku tidak mengamuk dipaksa menyusuri jalanan jauh-jauh.

Aku berlari saat melihat Rana yang singgah bertanya pada dua bapak-bapak. Sedikit lagi sampai, batinku menyemangati diri. Pada satu meter pandanganku, lampu neon menyinari seperangkat alat pompa dan bapak-bapak dengan baju ke bali-annya. Kacamatanya melorot, rambutnya nyaris putih semua, dan aku tersenyum bahagia.

Setelah menjelaskan bahwa ban motor kami marah menopang dua badan berbobot over, kami duduk di kursi menghirup oksigen tanpa pusing memfilter udara yang menguar dari got di bawah kami.

Bannya robek, ditusuk sebuah mor sepanjang setengah telunjukku. Perasaanku antara bersyukur dan takut. Bersyukur karena ban belakang tidak ikutan robek dan kami tidak terluka, takut karena tahu dimana mor itu menancapkan dirinya. Aku merinding mengingat daerah gelap dengan pohon lebat yang tadi kami lewati. Tempat dimana bisa bersapa dengan makhluk gaib dan juga manusia gaib. Ugh.

Sementara pengerjaan mengganti ban dalam diambil alih oleh anak buahnya yang baru datang, aku teringat dengan kejadian berapa hari ini. Kemarin, baju baruku sobek. Tadi pagi bajuku tersangkut di motor -untung bajuku tidak sobek, lagi- dan jatuh ke belakang. Aku tiba-tiba menyimpulkan bahwa ini karena aku tidak fokus. Pikiranku teramat sering mengelana pada sesosok maya yang kupaksa berpisah dari kehidupanku.

Aku berkedip mencoba menyadarkan diri dari keletihan teramat sangat. Apa ini yang disebut dengan kebaikan memang perlu dipaksakan?

-END-

.

.

.

|
|
|
Tsk. Lagi-lagi nulis gajes,
kek orang patah hati.

Kemarin ban kempes beneran masaa. -..-
Anw, ngepost dari hp lagi lhoo.
Terus?
Lol

(DRABBLE) BUTA ARAH

jendelabolong

Nyaris saja tubuhku berpindah tempat dari kursi ke lantai saat mendengar suara tubrukan keras di belakang kepalaku. Aku menoleh, dan netraku menemukan sekelompok burung mengepak-ngepakkan sayapnya di depan jendela kamar. Aku masih menatap hewan mungil bersayap itu, sampai katup bibirku terbuka dan meloloskan sederetan kata dengan suara sayu, “kasian, sudah bergandengan tangan tapi masih saja ada yang buta arah.”

Kembali kuarahkan tubuh menghadap pada layar 14 inch dan membiarkan jari jemariku menari di atas keyboardnya. Lebih membingungkan mana, saat mengerjakan revisi atau sedang buta arah?

-END-

.

.

.

|
|
|
|
MASIH NGGAK PERCAYA KALAU SUDAH SARJANA
ALHAMDULILLAH
UWOOOH

0

(DRABBLE) Kamu (tidak) Memalukan.

cilukba

Bunyi pintu mobil yang kubanting memenuhi lorong sepi di pertigaan kompleks. Aku tanpa berbalik, berjalan menuju rumah. Matahari masih terik, dan rumah-rumah yang kulalui tidak begitu tinggi tuk menyembunyikanku dari sinar yang menyengat. Kutarik napas panjang, kebiasaanku ketika sedang sangat sedih dan ingin menangis. Kutepuk kedua pipi, mencoba memarahi diri sendiri yang terbawa emosi. Aku melangkah cepat, masih menepuk kedua pipi, dan masih mengatur napas yang sulit diajak beraturan.

Belum sampai pada tikungan pertama, sebulir air mata lolos dari balik kacamata kebesaranku. Aku menghapusnya buru-buru, takut jadi perbincangan tetangga. Tapi sialnya, kecepatan langkahku nyaris mirip dengan kecepatan mataku menghasilkan air matanya. Dalam sekejap, aku berubah menjadi orang yang mengumbar kesedihan di lorong dekat rumah.

Memalukan,

aku memalukan seperti kata mereka.

Baca lebih lanjut

0

(DRABBLE) Putus

pegangtangankecil2

Jari jemarinya menaut, sesekali menggaruk tengkuknya, memutar cangkir tak berisi, menggenggam sudut meja, dan kembali sembunyi menaut di bawah meja. Entah sudah berapa lama tak kulihat rautnya yang penuh kekhawatiran seperti hari ini. Terakhir kali, saat dia bilang aku terlalu baik untuknya.

“Kita putus saja,” ucapnya akhirnya setelah tiga puluh menit tak bersuara. Aku tersenyum, dan mengangguk begitu saja.

Lamat-lamat kupandang matanya yang tak berkedip melihatku. “Jangan bilang karena aku terlalu baik. Karena aku bukan baik, tetapi bodoh selalu membiarkanmu mempermainkanku,” kupandang langit-langit mencoba mengontrol emosi yang mendadak menguasai. Sudah berapa kali aku menaruh harap padanya padahal tahu jalan keluarnya adalah tak berharap?

-end-

Yang galau

yang galau

yang galau

skripsi

kok malah nulis orang putus cinta

lololol

0

(DRABBLE) Si Bijak

dudukdisampingkursi2.jpg

Menjadi baik itu cobaannya sangat berat saat sedang melawan diri sendiri.

Tahu tetapi tetap bertindak seperti tak tahu.

.

.

Sepuluh menit berlalu, aku masih duduk termenung di depan kipas angin yang kusetel kecepatannya menjadi paling kencang. Tengah kusyuk mengamati debu yang terlihat melekat permanen pada baling-baling kipas, mendadak penduduk di balik tempurung kepalaku memulai percakapan iseng tak bermutunya. Seperti biasanya, mereka sangat berisik dan begitu heboh bergosip –oh, katanya aku sedang galau. Aku berdecak kesal dan kusanggahi bahwa mereka sok tahu, aku hanya sedang pusing. Tapi salah satu darinya bersikeras bahwa aku benar-benar sedang galau, taklupa disertai dengan hipotesis ilmiah dan pandangan psikologinya untuk menegaskan opini mengenai kegalauan yang menurutnya sudah menggerogotiku. Kubantah lagi dengan mengeluarkan ilmu agama seadaku bahwa galau itu menandakan jauh dari Tuhan, aku tak mau jauh dari-Nya.

Kami terdiam cukup lama hingga suara putaran dari kipas angin perlahan kembali mengisi pendengaranku yang terdistorsi. Kutampar dahiku, andai si bijak rajin jadi nyata, ya.

Fin.

LOL. Tulisan supergajes yang jadi pas inet mati semalam.