0

#30haribercerita – Being Me On The Internet

Berasumsi itu memang menyenangkan. Melihat tulisan, status, atau apapun yang netra kalian lihat di internet, euforia untuk menilai tidak bisa terbendung. Hidup kebanyakan berinteraksi dengan orang-orang di dunia maya, membuat saya lebih sering hanya ingin melihat hal apa yang saya lihat saja. Tanpa mencoba mencari tahu apa sebenarnya di balik citra tersebut.

Mungkin ada sedih di balik senyumnya. Mungkin ada kegembiraan di balik tangisnya. Mungkin perasaan yang ingin disampaikan tak seperti yang otak simpulkan. Mungkin sedang butuh perhatian atau pertolongan. Mungkin mereka tak seburuk yang dipikir. Ada banyak sekali kemungkinan, tapi seringnya berhenti begitu saja di satu titik tanpa mengkonfirmasi benar-tidaknya hal tersebut.

Terus terang saya tak ingin dinilai hanya sebatas jejak saya di internet saja. Ada banyak hal tentang saya yang tidak terekam di manapun di dunia tak beroksigen ini. Sebanyak apapun tulisan yang saya tulis di sini, tidak akan pernah mewakili pribadi saya yang sesungguhnya di dunia nyata. Saya juga merasa tidak adil kalau memperlakukan orang yang benar-benar ada di samping saya sama dengan orang yang hanya sekedar tahu seorang Afifah dari internet saja.

Itulah salah satu alasan kenapa saya berhenti menggunakan instagram dan twitter. Saya merasa lebih banyak melakukan keburukan dibanding kebaikan. Saya ternyata menjadi salah satu pelaku “judging people seenak jidat” semenjak sangat aktif bermain di dua sosial media tersebut. Bukan salah instagram atau pun twitter, tetapi itu pure kesalahan dari diri saya sendiri karena tidak pandai mengontrol diri tidak menyimpulkan kehidupan seseorang hanya dari sekedar melihat foto, tulisan atau pun video orang tersebut. Lucu sekali rasanya tidak ingin dinilai tapi malah menjadi penilai. Miris sekali, kan?

Di bulan-bulan saya hidup tanpa kedua sosial media tersebut, saya jadi belajar menghargai lebih dalam sesuatu sebelum menyimpulkannya menjadi satu spesifik pandangan. Saya jadi belajar menghargai diri saya sendiri dan orang lain. Saya jadi paham apapun yang saya lihat di internet, tak mewakili hidup orang tersebut. Saya pun memiliki rasa takut merasa paling benar, atau paling ok dibanding orang-orang yang rajin “pamer” di media sosial. Perasaan takut merasa hidup saya paling miserable hanya karena melihat hidup orang lain lebih istimewa. Seriusan, hidup saya terasa lebih tentram dan nyaman semenjak mengurangi berinteraksi dengan kedua platform paling terkenal tersebut.

Saya tak bermaksud menyuruh orang berhenti memutari hidupnya pada kedua sosial media tersebut. Hanya saja saya ingin sekali orang paham bahwa akan lebih menyenangkan jika asumsi itu dijabarkan dalam suatu pertanyaan. Walaupun pada akhirnya susah sekali menghindari asumsi orang lain tentang hidup kita atau menahan diri untuk tidak berasumsi tentang kehidupan orang lain, saya selalu percaya pada diri saya sendiri dan saya percaya akan ada orang-orang yang ingin tahu atau memang sudah tahu seperti apa saya sebenarnya.

You just need to talk to me, and meet me. You will understand how different I am.

.
.
.
Anw, tulisan ini saya khususkan untuk diri saya sendiri.
Manusia yang rajin sekali menenggelamkan dirinya pada asumsi-asumsi tak berdasar.
Come on, Afifah! Ask! Ask!

Iklan
0

#30haribercerita – Untung Belum Menikah

Seorang teman mem-posting status di whatsapp tentang tahun 2019 ini adalah waktu para single-ers kelahiran 91 sampai 94 banyak yang menikah. Cuci gudang timee~ Sebagai kelahiran 92 saya entah kenapa malah tertawa. Bukan karena menertawai diri masuk ke dalam single-ers yang tersebut di atas dan belum tentu juga masuk ke dalam list yang akan melepas lajang tahun ini, tetapi setelah saya pikir-pikir, sepertinya Allah punya rencana indah belum menyematkan nama saya terucap pada ijab kabul seseorang. Saya merasa beruntung. 🙂

Setiap hari saya belajar banyak hal tentang kehidupan dua pasang manusia setelah terikat halal. Entah dari postingan ibu-ibu di facebook, dari omongan ibu sendiri, dari lingkungan sekitar, dari berita di Line Today, dan dari omongan beberapa teman. Saya merasa bersyukur diberi tabungan ilmu hingga saat ini. Bersyukur diberi kesempatan “merapikan” pola pikir yang acak-adut. Bersyukur diberi kenikmatan sendirian mengarungi lika-liku kehidupan, jadi setidaknya tidak begitu “manja” tatkala tidak sendiri lagi.

Lagian, kapan lagi bisa berbakti lebih dari seperempat abad ke orangtua? Bisa bercanda, marah-marahan, debat-debatan dan sayang-sayangan dengan orangtua sendiri tanpa perlu takut harus memikirkan pasangan. Saya tak bilang setelah menikah perempuan tidak bisa lagi berbagi kesenangan dengan ibu dan ayahnya. Namun tak bisa dipungkiri bahwa prioritasmu sudah berpindah tempat sesaat setelah kamu resmi menjadi istri orang lain.

Jadi, alhamdulillah, masih diberi kesempatan menjadi manusia yang lebih baik lagi. Bisa belajar tentang hidup lebih banyak lagi. Bisa lebih teliti lagi dalam memilih pasangan. Bisa lebih peka bagaimana para single-ers menghadapi hidup sendirian tanpa perlu merepotkan orangtua. Bisa lebih menelaah lagi nilai-nilai penting dari sebuah hubungan pasangan halal.

Iya, katanya tak ada manusia yang siap untuk menjalani bahtera rumah tangga, tetapi setidaknya bisa mengerti dan memahami banyak hal sebelum menjalaninya rasanya tak ada ruginya. Ya, kan?

Semangaaaat, we are awesome. 😎🤣🤟

.
.
.
Idenya absurd bangetlah ini. Hahaha. Nggak ngerti lagi mau nulis apaan. Ini aja udah bolong sehari. Aaaaaaaa.

0

#30haribercerita – Lelaki dan Cintanya Pada Ibunya

img-20180904-wa0001-01

Bismillah

Kamu seorang lelaki. Lahir dari rahim ibu yang begitu mencintaimu. Ibumu dengan peluh sehabis melimpahkan segala tenaganya pada satu titik, menangis terharu mendengar tangismu. Kamu menggeliat, bahagia bertemu dengan ibu dan ayahmu. Kamu membuka mata, bahagia akan dibimbing menjadi lelaki sholeh oleh ibu dan ayahmu.

Kamu tumbuh dewasa dalam cinta mereka. Walaupun perhatianmu hanya sebatas sisa-sisa sehabis pulang kerja atau selepas telpon rindu dari wanita barumu, ibumu tetap bahagia mendengar suaramu mengudara di indra pendengarannya. Tak pernah sekalipun merasa diselingkuhi.

.

Kamu seorang perempuan. Pun tumbuh dewasa dalam peluk kasih sayang berlimpah ibumu. Yang menjemput dewasa dalam bimbingannya, hingga akhirnya bertemu dengan lelaki yang yakin telah dipilih oleh-Nya untukmu menjalani sisa hidupmu.

Kamu mencintai lelaki itu segenap hati. Tak rela jika perhatiannya berpaling sedikitpun darimu. Tak rela jika kamu berada pada urutan nomor dua oleh manusia siapapun di muka bumi ini. Kamu pikir, porsi cinta lelakimu tak boleh melebihi siapapun selain dirimu, ibunya sekalipun.

.

Kamu seorang perempuan lainnya. Kamu sama seperti kisah kelahiran dua manusia sebelumnya, penuh cinta dan kasih tak berbatas dari ibumu. Bedanya, kamu tumbuh dengan perasaan tak begitu percaya pada cinta lelaki. Hingga akhirnya hatimu memilih untuk bersedia mempercayai satu lelaki. Kamu masih tak terbiasa mendengar cinta, namun ada sedikit bahagia menyelinap dalam hatimu setiap perasaan cinta menguar tak terkendali pada tiap percakapanmu. Lalu di suatu waktu, kamu tersadar dan berharap lelakimu tak menomorduakan ibunya. Kamu mengingatkan bahwa kamu hanya orang asing yang tiba-tiba muncul saat dirinya telah dewasa.

“Kamu tahu tidak kalau bakti lelaki pada ibunya itu sampai lelaki tersebut meninggal?”

Tanyamu dan berharap lelakimu menjawab iya. Kamu tak mau, porsi perhatian lelakimu padamu lebih besar dibanding ibunya. Kamu tak mau, lelakimu menjadi anak durhaka karena dibuai cinta fana. Kamu sadar menyayangi tak mesti harus dicintai sedemikian rupa sampai-sampai melupakan tugas utama lelakimu pada ibunya.

.

.

Aku tak bilang bahwa salah satu dari kedua wanita tersebut salah, tetapi mungkin alangkah baiknya seorang perempuan mengingatkan lelakinya untuk tak melupakan keluarganya, terutama ibunya, di kondisi apapun. Jangan biarkan lelakimu mengesampingkan ibunya yang setengah mati membesarkannya hanya karena cinta egomu yang tak masuk akal.

Dan teruntukmu lelaki, ketahuilah bahwa baktimu pada ibumu selesai bukan saat beliau tak menukar oksigen dan karbondioksida lagi pada sistem pernapasannya, tetapi sampai tubuhmu tak bernyawa lagi

.
.
.
Ini ditulis 30 menit dengan perasaan yang sangat was-was. Saya takut banget salah nulis dan menyinggung perasaan orang. Tapi karena sudah diniatkan saya bismillah saja. Tanpa bermaksud menggurui, hanya sedang gemas saja dengan fenomena tersebut belakangan ini.
Maafkan kalau ada salah kata.

0

#30haribercerita – Yes or No

IMG_20190113_115859-01.jpeg

Kebanyakan orang menganggap sebuah pertanyaan itu jawabannya singkat saja, yes or no, dan selesailah pertanyaan tersebut. Padahal di balik yes ada banyak pertimbangan yang bercabang dan di balik no ada setumpuk penyesalan dan rasa bersalah.

Sebagai orang yang tidak pandai mengungkapkan perasaan dalam hati dengan lugas, saya mendapati dua pilihan jawaban itu terlalu simple untuk mewakili semua hal yang ada di pikiran saya. Saya butuh melewati banyak malam untuk mengakhiri sebuah pertanyaan, dan rasanya tidak adil kalau semuanya hanya diakhiri dengan iya atau tidak saja.

Sebenarnya saya pemalu, dan selalu menyampaikan perasaan dalam serangkaian kata-kata yang berliuk-liuk. Saya paham, tak banyak yang bisa mengerti perkataan saya yang seringnya melahirkan berbagai asumsi. Saya pun tak bohong akan senang jika ada orang yang mencoba mengerti di balik sederet kalimat saya dan menemukan jawaban yang benar darinya. Tapi saya lupa, sama seperti saya sendiri, terkadang kebanyakan manusia lebih cenderung berasumsi pada hal negatif kalau dihadapi terlalu banyak kata.

Dikenal dengan straightforward, tetapi sesungguhnya saya sangat pemalu. Saya sebenarnya lebih banyak diam, dan tidak bicara kalau tidak ditanya perihal hati. Kalau pun pernah mengungkapkan sesuatu, itu setelah mondar-mandir di depan pintu penuh drama, dan biasanya diakhiri dengan salah paham karena penggunaan kata yang kurang tepat. Hahaha.

Saya masih belajar banyak hal. Menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih lugas lagi dalam menjawab pertanyaan. Menjadi pribadi yang tak perlu menggunakan bahasa drama dan sulit kalau sedang membicarakan sesuatu. Saya mesti paham bahwa sedang berbicara bukan menulis.

Hmm, jadi, yes or no, nih? :p

.
.
.
Au ah gelap ini nulis apaan, nggak nyambung. hahaha.

Tau deh besok mau nulis apa lagi. Ada ide, nggak?

0

#30haribercerita – Jatuh

IMG_20180129_201649_HHT-01

Tulisan ini saya niatkan sebagai salah satu upaya dalam mengikuti 30haribercerita di IG. Secara nggak main IG lagi tapi tetep pengen ikutan, jadi saya bikin saja di blog sendiri. Nggakpapa lah ya telat, yang penting ikutan. Ok, cekidots tulisan pertama saya~
.
.
.

Pinggang hingga ujung kaki sebelah kiri saya berdenyut-denyut nyeri. Sudah sehari lewat tapi sakitnya masih terasa. Saya menghabiskan hari dengan posisi banyak tiduran, menaruh bantal di belakang untuk menyanggah punggung dan menonton video youtube lebih banyak daripada hari biasanya. Sesekali mengubah posisi, dan berharap nyerinya pergi besok.

Jatuh di depan kamar mandi kemarin mengingatkan saya betapa tubuh ini memiliki cinta yang sangat tinggi pada gravitasi bumi. Sampai-sampai terkenal sebagai orang yang tak pandai berhenti menggelincirkan tubuh di tempat-tempat tak lazim karena tingginya frekuensinya saya jatuh. Berbagai petuah saya dengarkan, namun mungkin orang tak paham bahwa saya pun tak pernah ingin jatuh berulang kali. Saya yang paling tahu jatuh itu tidak enak. Setiap hari mengingatkan diri untuk lebih berhati-hati, tetap saja momentum terjatuh sepertinya sulit sekali dihindari. Walaupun sudah lama tak jatuh, saya tidak bisa tidak tertawa mendapati diri jatuh lagi.

Kalian pernah tidak merasa seperti itu?

Jatuh pada kondisi yang sama tapi hanya bisa tertawa saja? Padahal hati sudah mewanti-wanti untuk tak kembali melewati jalan yang sama tapi pada akhirnya jatuh lagi ke sana. Mencoba melompati lubang yang ada, malah tersandung juga.

Mungkin … karena hal-hal yang terjadi di kehidupan itu sebenarnya lebih banyak repatitif. Hanya waktu, lingkungan, dan orang-orangnya saja berbeda. Perasaan yang dilewati tak akan jauh dari melewati bahagia dan sedih dalam hubungan entah secara vertikal ataupun horizontal.

Akan ada waktunya sepasang mata yang sudah berjanji menjadi berani, hanya memandang punggung tak tergapai terus menerus.
Akan ada waktunya sepasang pipi terusap punggung tangan saat mencoba melawan kerasnya hidup sendirian setiap hari.
Akan ada waktunya sepasang hati hanya mendamba dalam doa di setiap lepas sholatnya.
Akan ada waktunya sepasang manusia membahagiakan lalu menyakiti berulang kali.
Akan ada waktunya sepasang manusia menasehati anaknya pada hal yang sama berulang kali.
Akan ada waktunya sepasang kaki merindukan diinjakkan telapaknya di atas sejadah pada sepertiga malam di setiap lalainya.
Akan ada waktunya sepasang tangan hanya bisa mendoakan jiwa yang sudah tak bernyawa lagi.

Probabilitas untuk jatuh lagi di kondisi yang sama tinggi sekali. Dimana jatuhnya kadang disertai darah di hati atau malah senyum di bibir. Hanya saja, kalau pun jatuh di kondisi yang sama, harusnya tak akan bersikap sama lagi. Karena sudah paham betul sesakit apa itu jatuh dan selama apa lukanya akan membekas kalau tak belajar darinya.

Bagaimana dengan kalian? Apa kalian sudah punya tips dan trik jitu untuk mengatasi fenomena jatuh pada hal yang sama itu?