0

I’m Nothing Without Him

Suatu waktu saya pernah berada di kondisi yang nggak mengenakkan hati. Semuanya terasa nggak nyata, dan bikin saya bertanya-tanya terus menurus. Menangis pun rasanya percuma. Marah pun rasanya tidak ada guna. Lalu saya dipertemukan sebuah perasaan aneh oleh Allah SWT. Perasaan yang bikin saya sadar bahwa hati ini mudah rapuh jikalau tak menempatkan Penciptanya sebagai sandaran pertama.

Di saat hati luar biasa sakitnya, Allah sadarkan, kepada siapa hati hanya bisa bersandar. Kepada siapa sebenarnya tangis kesedihan dan kebahagian dilimpahkan. Kepada siapa diri bisa menampilkan secara utuh sosok aslinya. Hanya berbekal mukenah, tangan yang menjemput kasih-Nya, dan bibir yang menguarkan curhat pada-Nya. Sabar dan ikhlas yang rasanya susah sekali digandeng, pada akhirnya menjadi teman baik. Menjadi tameng di saat hati dibentur oleh kenyataan.

Terus terang masih bingung, dan nggak mengerti, kenapa hal tsb bisa menjadi sejarah. Tetapi satu hal yang saya yakini sampai sekarang, semua hal yang terjadi pasti ada alasannya. Allah nggak akan menitipkan kesedihan yang tidak bisa dipikul umat-Nya, dan Allah selalu punya hadiah untuk hamba-Nya yang berbaik sangka pada-Nya. Berbaik sangka untuk sadar akan kesalahan-kesalahan pribadi hingga diberi teguran. Berbaik sangka bahwa akan ada kebahagian yang menyusul setelah kesedihan.

Cinta-Nya yang bisa bikin saya masih waras, dan nggak berteriak-teriak setiap berhadapan pada kondisi yang sama. Cinta-Nya yang bisa bikin saya nggak merasa nggak berharga. Cinta-Nya yang bisa bikin menangis yang memuakkan menjadi menyejukkan. Cinta tak terhingga pada umat-Nya yang kebanyakan rajin lupa bersyukur yang bisa bikin saya merasa malu, betapa sombongnya hati ini tanpa ridho-Nya.

Yes. I’m nothing without Allah’s love. We are.

Iklan
2

Friendzone

Nggak tahu kenapa beberapa waktu ini, selain kata pribumi, kata friendzone rajin menghampiri timeline sosmed. Sebagai orang yang barusan gagal lolos tes cpns (huh?) dan nggak begitu tertarik dengan politik, otomatis kata friendzone lebih menarik perhatian jiwa kesingle-an daripada pribumi-bumian itu. Saya mendadak kepikiran, emang saya pernah ya terlibat dalam persilatan dunia friendzone yang pedih itu? Setelah mikir panjang dan berlika-liku, jawabannya malah ke pertanyaan lainnya, friendzone apaan sih?

Kata google sih, friendzone adalah dua insan manusia yang salah satunya terinfeksi uka uka *krik*. Kalau dari kacamata saya, friendzone itu agak sejenis dengan PHP dan cinta keberatan sebelah. Bedanya kedua insan yang tak paham dengan perasaan masing-masing ini memang saling memahami dan mendukung satu sama lain. Samanya, kebanyakan sama-sama nggak ada mutual perasaan suka dan kadang unsur ge-ernya kental banget, cuy. 

Oh,

Oh!

Saya kayaknya punya cerita yang agak mirip; terlalu nyaman dengan suatu tempat sampai nggak sadar sama sesuatu, lalu pergi sebelum kelewat sadar. Kalau mainstreamnya, orang-orang membiarkan dirinya tenggelam di dalam keadaan penuh kenyamanan daripada menyadari ada hal yang pincang lagi merangkul kenyamanan. Nyaman tapi was-was, dan biasanya bertahan karena alasan klise, “because I don’t want to loose you.”

Tapi seperti yang bisa dilihat dari postingan-postingan sebelumnya, saya bukan tipe mainstream, pemirsa. Bagi saya perasaan itu bukan buat dipelihara. Mau dia teman dekat yang sudah kayak sodara sendiri, atau kerennya best friend forever, tapi kalau sudah menyerempet perasaan… sudahlah. Saya selalu minta sama Sang Pencipta untuk dijaga agar tidak terjebak di friendzone. Berdoa supaya si otak lincah bekerja mencari jalan untuk meluncur keluar dari zona itu sebelum pintu “terketuk” terbuka.

Saya ini tipe yang rajin menanyakan ke diri sendiri, apa yang saya inginkan? Apa yang ingin saya capai? Berbekal dari  sifat tukang nanya itu, saya jadi punya prinsip bahwa perasaan itu harus selurus dengan pasangan hidup, makanya saya nggak mau main-main dengan masalah itu. Padahal kalau mau berkaca dari kalimat yang sering saya utarakan tentang bagaimana sebuah pasangan hidup itu nggak melulu tentang cinta, tapi visi misi hidup yang sejalan dan kenyamanan yang meluap-luap, saya nggak akan bohong, pastinya akan senang jikalau best friend tsb menyebut nama saya di ijab kabulnya.

Tapi (lagi lagee) sekali lagi, saya punya pendapat sendiri masalah ini. Menurut saya, friendzone itu semacam pelarian dan membohongi diri sendiri. Nyaman tapi nggak disukai, suka dan nyaman tapi nggak bisa ngapa-ngapain, dan paling parah sama-sama suka dan nyaman tapi nggak bisa keluar dari belenggu “I don’t want to loose you”. Sebagai seorang muslim, membiarkan diri “berbodoh-bodohan” itu nggak diiyakan dalam agama. Kita dituntut untuk selalu berpikir dan mencari jawaban dari kegelisahan kita pada Allah SWT. Mencari kenyamanan yang diridhoi oleh Allah SWT. Nah, ini, jadi halal saja belum tentu, kenapa kita rasanya takut sekali memutuskan sesuatu yang lebih banyak bikin galaunya daripada senyumnya?

Saya selalu percaya sama rencana Allah SWT, bahwa jika kita merelakan sesuatu untuk meningkatkan kualitas kebaikan vertikal, akan Allah ganti dengan hal lebih indah lainnya. Jadi kenapa takut keluar dari belenggu friendzone? Kenapa takut mengakui bahwa friendship yang indah itu sudah berganti nama jadi friendzone? Apalagi buat ciwi-ciwi, aduh jangan mau membiarkan diri terjebak di dunia ke-friendzone-an. Kasian itu hati sudah dititipkan Allah malah sengaja buat disakitin.

Pertemanan yang baik itu adalah pertemanan yang senantiasa mengingatkan untuk ada pada jalan Allah. Kalau pertemananmu sudah bikin kamu galau –dimana galau itu salah satu tanda jauh dari-Nya, baiknya ditinggalkan saja. InsyaAllah, Allah nggak akan marah kok kalau kita “memutus” ke-bestfriend-an untuk mengejar hal yang baik lainnya. Mending nungguin yang halal daripada menggalaui yang belum dihalalin.

Piss~

 

Nyambung nggak sih? Hahaha

0

When you like someone

Kadang, jiwa juangmu dihitung bukan dari sebanyak berapa kali kata suka yang kauutarakan, atau usaha-usahamu untuk memiliki, tapi tentang menahan diri serta menyadari bahwa yang sedang bermain-main di benakmu itu …

Mendadak kepikiran ini saat nggak sengaja ketemu dengan seorang wanita paruh baya yang nggak pernah terpikirkan bakal ketemu di tempat tsb. Secara setiap bulan datang di hari yang sama, dan saya tidak pernah melihat beliau sebelumnya. Dengan baju merah putihnya, beliau mengelilingi ruang tunggu, dan menyodorkan permen ke semua orang (iye, semua orang!). Mungkin terdengar biasa saja, tapi itu bukan pemandangan yang mainstream di tempat tsb. Beliau masih sama, orang yang sederhana, murah hati, dan baik, dan itu yang bikin saya teringat anaknya….. oke.

Dua minggu waktu itu bikin saya sadar betapa hebatnya beliau, dan betapa lucunya yang namanya perasaan. Saya nggak pernah seperti itu sebelumnya, teman-teman pun bingung melihat keanehan yang saya lakukan. Tapi makin hari saya jadi sadar, namanya perasaan itu memang kadang nggak sinkron dengan keinginan kita. Saat suka seseorang sedemikian rupanya, tetapi lupa hidup bukan cuman tentang perasaan. Saya jadi teringat dengan mimpi-mimpi membangun keluarga yang ingin senantiasa dipeluk oleh kasih sayang Allah SWT. Oh, again, tapi saya sungguhan tentang ini. Makanya saat menyadari bahwa yang saya miliki hanya sekedar perasaan tanpa menoleh kembali mimpi indah tsb, saya tersadar menyukai seseorang itu memang sebatas seperti itu saja.

Sejujurnya saya jadi merasa sedikit iri dengan orang-orang yang bisa menyukai lawan jenis yang ibadahnya super dan yang bisa murojain mereka tiap saat. Entah kenapa … saya merasa nggak pantas untuk menyukai lawan jenis yang super tsb. Tapi di lubuk hati yang paling dalam pengen rasanya punya pasangan hidup pengejar surga seperti itu. See, beginilah manusia, penuh dengan kontradiksi. Maunya ini, yang dilakuin itu, tapi ujung-ujungnya mikirin si ini. Aneh.

Setelah seharian mengingat dua minggu itu, saya jadi tersadar, mungkin ini yang bikin saya nggak pernah “berjuang” dengan orang-orang yang bikin “saya bingung”. Karena entah kenapa saya merasa yang tahu terbaik buat saya itu ya dari Allah SWT, dan menurut saya yang terbaik itu datangnya dengan cara yang halal. Bukan hanya sedekar bisikan-bisikan setan yang malah bikin galau nggak jelas.

Intinya, menurut saya, menyukai tanpa dibarengi mimpi akibatnya nggak baik pemirsa. Makanya saya pribadi nggak gitu pusing masalah menghalalkan relationship untuk sementara ini, soalnya saya tengah memantaskan diri dengan mimpi-mimpi saya. Tapi…   sekali lagi, yang terbaik buat kita hanya Allah yang tahu, kita berencana seperti apapun, pemegang rencana hanya milik Allah, manusia tugasnya berusaha kemudian berikhtiar, dan ikhlas.

Sebelum menutup omong kosyong saya  ini, saya mau minta maaf, soalnya saya nggak ngatain “kalian” bukan pengejar surga, hanya sekarang saya merasa nggak sanggup lagi main-main sama “yang terbaik pasti datangnya dari Allah SWT”.

0

(Poem) Salam Yang Berbeda

Assalamualaikum.
Walaikumsalam.
Saling berbagi cerita dengan menukar pandang.
Membingkai bulan sabit di wajah masing-masing.
Letih tetapi hadirnya melengkapi,
mendinginkan api penat dalam sekejap.
Lalu suara terdengar lembut,
… selamat datang kembali.

.
.

.
.
.
Kiyaaaah, dapat ide lagi habis nonton Evergreen Love.
Langsung cakar-cakar indah di buku.
Tadaaaang~ another post from me. Gimana? Cukup alay nggak? LMAO.
Sukaaaaaa banget filmnya. Sukaaaaaaaaaaa.
Film pertama dengan slow pace yang saya nonton tanpa skip-skip.
Anw, saya aslinya penulis puisi, dan film jepang itu selalu sukses bikin jiwa puitis saya membara. hahaha.

0

Random Thought EP02 – Ngomongin Masa Depan

ngomonginmasadepan

 Letting go of old habits, old memories.
Never stop believing … we can have a new beginning.

Apa hal pertama yang muncul di pikiranmu kalau disuruh membahas masa depan?

Pekerjaan?
Keluarga?
Pernikahan?
Sekolah?
Agama?
Kepribadian?

Bagi saya, ngomongin masa depan itu seru sekaligus menjengkelkan. Seru karena membahas sesuatu yang nggak jelas apa akan terjadi atau tidak, dan menjengkelkan karena kadang kita terlalu hanyut sama mimpi-mimpi dan obsesi-obsesi kita sampai melupakan masa sekarang. Bagaimana kita seru-serunya memikirkan gimana cara kita bakal mendidik anak-anak kita nantinya, padahal masih single selama 25 tahun. Bagaimana kita seru-serunya membahas pekerjaan apa yang kita inginkan nantinya, padahal bangun buat shalat subuh saja setengah mati dilawan setannya. Bagaimana kita seru-serunya membahas bobroknya negeri kita, tapi lupa ada Palestina dan Syria yang mustinya kita khawatirkan. Bagaimana kita seru-serunya membahas pribadi seseorang, tapi lupa apakah kita sudah menjadi pribadi yang baik atau belum? Menjengkelkan, kan? Iya, sangat.

Saya senang membahas bagaimana kita yang dulunya nggak gitu peduli, menjadi peduli. Bagaimana kita yang dulunya nggak memperhatikan ternyata bulan Syawal itu banyak yang nikah, menjadi memperhatikan. Bagaimana kita yang dulunya nggak memperhatikan gimana kualitas ibadah kita, menjadi memperhatikan. Bagaimana kita yang dulunya terlalu sibuk mikirin cowok yang entah kapan melamarnya, menjadi melepaskan semua hal-hal tersebut dengan yakin akan dipertemukan dengan yang halal. Bagaimana kita yang dulunya nggak yakin bisa menjadi baik, tetapi akhirnya percaya sama diri sendiri, dan akhirnya berusaha menjadi lebih baik. Tahu nggak, kenapa tiba-tiba kita mendadak berubah atau mendadak bijak? Itu karena kita sedang berbincang masa depan dengan diri kita sendiri. Tuhan nggak pernah tidur, Dia tahu hamba-Nya tengah sibuk memperbaiki diri, dan didatangkanlah semua pikir-pikir dan keadaan-keadaan yang bikin kita menjadi baik.

Intinya? Omongan masa depan itu bisa jadi trigger kita untuk memperbaiki masa sekarang. Misal, kita pengen anak-anak kita nantinya itu di sekolah yang bisa membangun keagamaan mereka. Ya, kita usahain menjadi pribadi beragama yang lebih baik, biar bisa mengenalkan agama sebelum mereka masuk sekolah nantinya. Maksudnya biar si anak-anak ini nggak kaget lagi pas diterjunin ke sekolah yang mengaji jadi hal wajib. Contoh lain lagi, kita pengen temen kita baik. Ya, kita berubah dulu jadi baik, kalau mereka contohin Alhamdulillah, kalau nggak, mungkin usaha kita menjadi baik belum maksimal. Yang lain lagi nih, kita pengen temen dekat kita nggak disakitin sama cowok lagi. Ya kita contohin, hidup tanpa lelaki bukan muhrim sebelum menikah itu nggak tragis-tragis amet kok, malah tentram. Yang lain lagi, yang lain lagi, kalau kita pengen kerja di tempat yang bagus. Ya, usaha bagusin CV, entah dari belajar bahasa inggris, belajar pemrograman lagi, atau belajar ngomong yang manis :p. Sebagai orang yang usahanya naik turun, saya yakin orang yang berusaha itu bakal bertemu dengan sesuatu yang lebih awesome dari yang dibayangkan. Anw, lagi-lagi ini noted to myself. Jangan ada yang merasa tersinggung ya. Tapi kalau merasa tersinggung dalam hal yang baik, yaa… bagus, sih. wkwkwk.

Sekarang saya sering nyeletuk pengen umroh lagi tahun depan tapi bareng suami (Amin ya Allah). Aneh? Iya, tapi nggak papa. Sudah terbukti, omongan sehari-sehari tentang masa depan itu bisa disamaratakan dengan doa. Makanya hati-hati kalau ngomong. Nggak asyik, kan, kalau dikabulkan yang jelek-jelek. Hiks. Naudzubillahmindzalik. Anw, tolong diberitahu kalau misal ada yang salah dari cara pikir saya. Peduli kalian penting untuk saya. 😀

.
.
.
.
Ciyaaaat,
ini salah satu ide yang berhasil di -The End- kan dari 5 draft yang muncul kemarin. Siap-siap dispamming sama random stuffs from me. Wakakaka.
Oke, side note untuk tulisan kali ini,

Belajarlah mengganti umur dengan memiliki sesuatu yang telah berubah menjadi lebih baik. Sekalipun masih ada hal-hal negative lainnya, tetapi percayalah mereka akan mengekori jejak si sesuatu tsb untuk menjadi baik.