0

Tahu Diri

Dan upayaku tahu diri
Tak selamanya berhasil

Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi

Masih ingat dengan lirik Maudi Ayunda – Tahu Diri di atas? Lagu ini sering sekali nggak sengaja saya nyanyikan dua mingguan ini. Nggak, saya sedang nggak patah hati. Hanya sedang tahu diri.

Setahunan ini saya punya misi berusaha menjadi manusia yang lebih baik, tidak peduli diabaikan seperti apa, saya berusaha menekan gengsi yang acap kali meraja di benak setiap tombol send sudah di ujung percakapan satu arah.

Tak sekali-dua kali pesan singkat saya tidak direspon, tapi saya nggak peduli. Yang penting sudah berusaha, entah dibalas ataupun tidak. Tapi nggak bisa bohong, pada awalnya saya menaruh harap ada sederet kalimat yang pun meminta tanda read dari saya. Sampai akhirnya saya memutuskan berhenti menunggu, dan menghapus hampir di setiap pesan yang saya kirim. Kalau tak dibalaspun tak apa, begitu sugesti saya pada pikir dan hati. “Nggak apa-apa, afifah. Mungkin dia sibuk, atau mungkin dia nggak menganggap pesanmu penting saat ini, it’s ok, semangat!

Kemudian saya sadar, sesuatu yang saya anggap baik belum tentu baik di mata orang. Saya tersadar, bisa saja saya sedang mengganggu hidup nyaman orang lain. Mungkin mereka sebenarnya nggak mau bertegur-sapa dengan chat random saya. Mungkin mereka nggak ada waktu, dan terpaksa meluangkan waktu hanya karena  merasa tidak enak pada pesan online tak bermakna milik saya. Betapa egoisnya saya selama ini.

Beberapa hari ini, saya sampai pada kesimpulan, sebaiknya saya tahu diri dan berhenti memulai pembicaraan yang saya tahu tidak membawa efek dua arah. Kalaupun ingin minta tolong, sebaiknya kalau memang sangat sangat terdesak saja. Ucapan hari raya pun ke teman yang benar-benar memperlihatkan ketidakberatan diganggu hidupnya saja.

Walaupun sudah banyak yang memberitahu, saya nggak menyangka saya ternyata senaif itu. Menyedihkan. I’m genuinely sorry for my carelessness. I didn’t know, really.

But this thing won’t stop me for trying my best being a better person. I will be more careful next time.

Good luck for “tahu diri” people out there! Don’t be sad~ It’s ok.
Fighting~

Iklan
0

Siap Untuk Dikode

Nggak tau kenapa beraat banget rasanya nyari kerja belakangan ini. Dalam jangka dua bulan nggak tau sudah berapa cv yg saya kirim. Dalam maupun luar negeri. Mantul terus cuy. Berapa kali rombak cv, masih juga mantul. Saya nggak pantang menyerah, tetap optimis. Allah yang paling tahu. “Ya Allah, ampuni dosa-dosa hamba. Mudahkanlah kalau memang itu yang terbaik.Begitu terus.

Akhirnya suatu pagi di minggu terakhir bulan agustus dikabarkan ada option lain yang muncul, dan saya galau dong. Takut mengecewakan, dan nggak enak rasanya harus membebani lagi. Walaupun yang bersangkutan nggak keberatan, tetep saya merasa sudah terlalu tua untuk ditanggung lagi. Setelah perbincangan alot dengan penduduk bumi dan Pemilik langit, nama saya terdaftar di hari terakhir. Maju mundur yang paling dramatis seumur hidup saya. Setelah semangat juang yang redup membara lagi, eh diundur dong sampai bulan oktober. Itu pun tanpa belum ada kejelasan apa benar-benar akan dimulai atau tidak. Nanii? Lagi-lagi saya rasanya terpelatuk. Analoginya, lagi lari kencang kesandung batu. Brak. Sedih, uring-uringan, dan bingung musti ngapain.
Tapi,
Kalian pernah nggak kayak ngerasa dikode sama Allah? Setelah rasanya jarang ketemu dan susah banget menggerakkan diri ikut ke acara keren, nggak tahu kenapa dalam hati saya merasa harus menghadiri acara malam mingguan kemaren. Saya yakin ada yang pengen Allah sampaikan melalui perantara-Nya. Saya sedang dikode, saya harus sambut ini. Sebelumnya nggak pernah hadir kalau mengharuskan merogoh dompet, tapi Allah Maha Pembolak-balik hati. Alhamdulillah, langkah nggak berat. Pikir nggak kacau.

Setelah balik dari sana, saya akhirnya sadar sebenarnya sedang dikode apa oleh-Nya. Disuruh banyak-banyak berdoa tapi bukan menjurus ke kedua option di atas. Jadi tersadar dua bulan terakhir ini, di saat merasa iman sedang merosot-rosotnya, saya sebenarnya sedang ditegur dan dikode untuk melakukan sesuatu. Melalui perantara-Nya diketuklah hati yang terlampau cinta dunia ini untuk mencoba menelaah doa yang frekuensinya pun jarang terucap. Allah dan cara keren-Nya mengajak diskusi hamba-Nya. Allah dan cara indah-Nya mengelus pikir keras hamba-Nya.

Jawaban atas kegundahan hati sebenarnya selalu ada di dekat kita. Yang kadang ditutupi dunia dan keindahan muslihatnya. Selalu merasa belum siap, walaupun sebenarnya raga sedang memaksa mengetuk pintu langit. Disuruhnya menjabarkan kodean-Nya dalam bentuk doa tengah malam. Disuruhnya menepis napsu dan meminta dilapangkan hati oleh-Nya. Tidak diminta untuk siap, tetapi diminta kuat untuk menerima teguran bahwa hati sedang mendamba jawaban.

Open our eyes, open our heart. Allah knows what’s the best for us better than anyone even ourselves.

“Ketuklah pintu langit sebelum mengetuk pintu dunia.

Bismillahirrohmanirrohim. Wish the best for us. 🙂

0

I’m Old

Haaah, nggak terasa sudah dua bulan lebih jadi manusia pengangguran. Setelah merasakan manis dan pahitnya jadi pekerja di perantauan, saya balik ke kampung halaman dan nongkrong di rumah hampir tiap hari. Pengennya sih ikut kegiatan volunteer di bidang lingkungan atau apalah. Malah sempat pengen jadi relawan di Lombok, tapi diketawain karena katanya nggak berkompeten untuk ke sana lol. Pokoknya saya nggak pengen tinggal di rumah nyaris sepanjang minggu. Tapi mengingat umur yang sudah lewat setahun dari seperempat abad, saya nggak pengen ke sana kemari dengan duit orangtua dulu. Makanya nyaris sebulan belakangan ini saya menyebarkan cv ke sana kemari.

Nyari kerja itu berat, pemirsa. Apalagi kalau punya cv dengan riwayat pendidikan yang bentar lagi di DO. Well, hak mereka sih, dan wajar mereka nyari orang-orang yang bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu dan IPK cantik. Tapi saya nggak putus semangat, yang penting sudah berusaha, sisanya diserahkan sama Allah. Yakin sama kapabilitas sendiri, dan rencana Allah.

Hal absurdnya, sebulan lalu dan beberapa hari ini, saya pengen banget lanjut sekolah. Dua tahun sebelum selesai kuliah, barutahu belajar itu menyenangkan, dan sedikit menyesal tidak serius sedari awal. Sekarang mau kuliah, tapi nggak enak soalnya sekolah sekarang mahal. Mau beasiswa tapi nggak tahu mau ngomong apaan sama interviewer kalau ditanya, “kenapa bisa sampai angka 7 tahun jangka waktu kuliah s1 kemaren?” Entahlah, saya sedang gundah, apa harus mengambil peluang bisa sekolah, atau menunggu panggilan kerja. Should I make my way to get both of them? Greedy nggak sih jatohnya?

Anw baru sadar kalau sekarang banyaaaaaak banget yang requirement-nya maks 25 tahun. Rasanya pengen ngakak tiap lihat persyaratan yang nyinggung umur. Pantas tahun kemaren banyak panggilan wawancara. Sekarang sudah naik pangkat, jadi sepi pengunjung, nih. Mustinya bukan dipanggil wawancara lagi sih, tapi interviewing calon pasangan hidup. HAHAHHAA GARING ABIS.

Intinya, nggak terasa sudah tua coy. =))

=====

Lagi percobaan mulai nulis ala ala(?) gini. Gimana? Lanjutin nggak? LOL
Niatnya biar blog yang sepi pengunjung ini nggak sepi postingan juga.
Mau melatih diri untuk nulis dari laptop juga sih.
Nggak tahu kenapa kalau nulis dari laptop jadi aneh tulisannya.
Sementara kalau dari hp, malah menye-menye. 
Kok bisa ya?

0

Takut Yang Nggak Keren

Banyak sekali hal hal yang berseliweran di pikiran saya akhir-akhir ini, sampai-sampai saya bingung mengurutkan prioritasnya. Mulai dari pekerjaan yang alhamdulillah ujungnya agak kelihatan, sampai mengenai hal-hal religious yang tidak bisa saya ungkapkan di sini.

Untuk yang pertama, entah kenapa mendadak merasa takut untuk memulai kerja. Saking takutnya untuk pertamakalinya dalam hidup, saya pengen ketemu jodoh ijab kabul sesegera mungkin. Nggak tahu kenapa saya jadi butuh teman ngobrol halal. Tapi lucunya saya tahu saya juga bakalan lebih takut untuk memulai step hidup yang itu.

Ah, manusia dengan kontradiksinya.

Mungkin karena kebanyakan berinteraksi dengan anak kecil, hati saya jadi agak menjurus ke satu tempat. Tapi ada satu yang paling saya takutkan, saya nggak mau memulai hari karena ingin bertemu jodoh. Niatnya mulai aneh, kan, kalau sudah begitu?

Tanda-tanda hati mulai goyah. Nggak keren.

Tulisan terandom dan nggak jelas di ahad ketiga di januari 2018. 

Jakarta, dengan udara dingin dan gerimisnya yang awet.

0

Ketika Tuhan Kangen

Di saat merasa hati terasa sangat berat menghadapi pilihan-pilihan yang mengganggu pikiran. Takut tidak akan mendapatkan kesempatan yang sama, tetapi hati tengah bimbang dengan sesuatu menyangkut prinsip. Takut harus mengorbankan sesuatu yang lucunya batang hidungnya pun belum berbentuk janin.

Lalu ketika bunyi alarm melepas jam 3 terdengar begitu nyaring hingga kesadaran berada pada status maksimal, mata mengerjab kebingungan. Merasa dipanggil, tetapi sialnya setan masih mencoba berkuasa di jam terlelap. Membuat tangan bergerak menggeser layar ponsel ke atas, “tunggu 5 menit lagi”. Anehnya, berapa kalipun mata mencoba kembali tenggelam di alam mimpi, ada sesuatu yang tidak berhenti memberi sinyal kepada seluruh sistem gerak, menyuruh untuk segera bangkit dan mengambil air wudhu. Tanpa sadar, dengan wajah yang seperti berpeluh, aurat telah terbungkus rapat. Siap berdiskusi khusyuk pada Pemilik Semesta.

Bersujud-sujud telah terlewati, tetapi sujud pertama di sepertiga malam hari itu terasa berbeda. Ada haru yang meluap sedemikian rupa. Ada air mata yang tidak bisa dibendung. Ada segukan di setiap curhat yang keluar. Ada harapan di setiap keinginan. Di penghujung pergantian kewajiban fardhu ain, beban di hati terasa ringan seketika. Ikhlas yang selama ini hanya sekedar sederet huruf menjelma menjadi sahabat sejati. Pasrah atas ketetapan Allah semakin kuat digenggam.

Hati sadar, betapa hanya kepada satu tempat boleh bersandar sepenuhnya. Hanya satu kondisi tertentu pertahanan boleh diruntuhkan seluruhnya. Hanya pada satu nama boleh merindu penuh cinta tak berbatas.

Maha Penguasa namun penuh kasih sayang. Yang tidak pernah gengsi memberi kode pada hamba-Nya bahwa Dirinya kangen didatangi dalam doa hamba-Nya. Yang tidak pernah dendam di saat hamba-Nya memohon ampun dengan khusyuk atas dosa-dosa yang sengaja dipupuk. Yang menguarkan kebahagian di saat melihat hamba-Nya curhat private pada-Nya. Maha Penyayang yang sekalipun sesekali terlupakan, tetapi tidak pernah melupakan hamba-Nya, malah kangen.

Ya Allah, we miss you, too.

0

I’m Nothing Without Him

Suatu waktu saya pernah berada di kondisi yang nggak mengenakkan hati. Semuanya terasa nggak nyata, dan bikin saya bertanya-tanya terus menurus. Menangis pun rasanya percuma. Marah pun rasanya tidak ada guna. Lalu saya dipertemukan sebuah perasaan aneh oleh Allah SWT. Perasaan yang bikin saya sadar bahwa hati ini mudah rapuh jikalau tak menempatkan Penciptanya sebagai sandaran pertama.

Di saat hati luar biasa sakitnya, Allah sadarkan, kepada siapa hati hanya bisa bersandar. Kepada siapa sebenarnya tangis kesedihan dan kebahagian dilimpahkan. Kepada siapa diri bisa menampilkan secara utuh sosok aslinya. Hanya berbekal mukenah, tangan yang menjemput kasih-Nya, dan bibir yang menguarkan curhat pada-Nya. Sabar dan ikhlas yang rasanya susah sekali digandeng, pada akhirnya menjadi teman baik. Menjadi tameng di saat hati dibentur oleh kenyataan.

Terus terang masih bingung, dan nggak mengerti, kenapa hal tsb bisa menjadi sejarah. Tetapi satu hal yang saya yakini sampai sekarang, semua hal yang terjadi pasti ada alasannya. Allah nggak akan menitipkan kesedihan yang tidak bisa dipikul umat-Nya, dan Allah selalu punya hadiah untuk hamba-Nya yang berbaik sangka pada-Nya. Berbaik sangka untuk sadar akan kesalahan-kesalahan pribadi hingga diberi teguran. Berbaik sangka bahwa akan ada kebahagian yang menyusul setelah kesedihan.

Cinta-Nya yang bisa bikin saya masih waras, dan nggak berteriak-teriak setiap berhadapan pada kondisi yang sama. Cinta-Nya yang bisa bikin saya nggak merasa nggak berharga. Cinta-Nya yang bisa bikin menangis yang memuakkan menjadi menyejukkan. Cinta tak terhingga pada umat-Nya yang kebanyakan rajin lupa bersyukur yang bisa bikin saya merasa malu, betapa sombongnya hati ini tanpa ridho-Nya.

Yes. I’m nothing without Allah’s love. We are.