0

The reason why I love kids.

Salah satu kegiatan rutin saya tiap hari adalah sakit perut. Semenjak balik dari Jakarta, perut saya memang sudah nggak sesehat sebelumnya. Saya nggak ngomongin masalah volumenya yang kian menyesakkan, tetapi tentang kemampuannya dalam menerima asupan makanan yang sudah nggak sekeren dulu lagi. Saya nggak mengeluh hanya merasa sedih karena nggak menjaga kesehatan semaksimal mungkin sampai terjangkit tipes. Nggak pernah saya bayangin seorang afifah kena penyakit tipes tapi memang nggak afdol rasanya kalau anak kosan nggak pernah terjangkit itu.

Semalam seperti biasa, perut saya sakit lagi. Lampu saya matikan, dan berdiam diri dalam gelap. Berharap dengan tidur sakitnya hilang. Saya bukan tipe orang yang sering bermanja-manjaan kalau sedang sakit. Saat tipes yang lalu saja, saya masih kuat membawa diri naik busway dan kereta untuk sampai di rumah sakit. Saya nggak pengen melemahkan diri dan harus selalu percaya pada diri sendiri, “everything is gonna be alright.” Walaupun semalam hati saya mellow sekali karena tanggal datang bulan yang sudah dekat. Women’s problem.

Saya mengubah posisi senyaman mungkin dan berharap tidur segera menjemput kesadaran saya. Tak lama, ponakan yang sedang liburan di rumah, datang tiduran di samping saya. Biasanya dia akan bertanya saya sedang apa, mengganggu saya sebentar dan pergi lagi ke kamar adik saya. Semalam dia bertanya hal yang sama, dan saya jawab, “perut puang ifah lagi sakit.” Dia pergi sebentar mengambil ponselnya, dan kembali tiduran di samping saya. Menonton youtube tanpa berkata apa-apa. Hanya sesekali menyentuh saya, dan mengintip raut wajah saya dalam diam.

Saya terharu, bagaimana bisa anak sekecil ini tahu bahwa orang dewasa pun bisa merasa nyaman hanya dengan ditemani seperti itu saja? Bagaimana bisa anak sekecil itu bisa menenangkan hati orang dewasa yang sedang terkalut-kalut tanpa mengatakan petuah nasihat? Saya pengen nangis rasanya. Ah, malah sempat meneteskan air mata. Inilah alasan kenapa saya selalu senang melihat anak kecil. Semenjengkelkan apapun mereka, ada perasaan haru yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata setiap netra bertumbuk dengan sosok mungilnya.

Mungkin itu alasan kenapa banyak orang dewasa berandai-andai ingin menjadi seperti anak kecil. Yang hatinya masih begitu polos dan baik sekali. Yang tak takut mengungkapkan kebaikan dan kejelekan. Yang tak takut mengungkapkan perhatiannya pada orang lain. Yang tak pernah pusing orang lain ingin berkata apa selama dirinya kenyang dan happy. Beautiful, isn’t it?

Tulisan ini saya buat untuk mengingatkan jika suatu hari nanti jengkel saya memuncak karena tak bisa mengatur anak sendiri atau ponakan, mereka selalu punya spot yang istimewa di hati saya. Lewat merekalah, Allah ajarkan betapa indahnya sebenarnya hidup ini. Lewat merekalah, Allah ajarkan betapa sederhananya sebenarnya bahagia itu.

Sakit perut mah lewaaaat.
Ditulis dari laptop, beda banget kan feelnya? hahaha.

Iklan

Diproteksi: Saya yang Salah

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

0

Tahu Diri

Dan upayaku tahu diri
Tak selamanya berhasil

Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi

Masih ingat dengan lirik Maudi Ayunda – Tahu Diri di atas? Lagu ini sering sekali nggak sengaja saya nyanyikan dua mingguan ini. Nggak, saya sedang nggak patah hati. Hanya sedang tahu diri.

Setahunan ini saya punya misi berusaha menjadi manusia yang lebih baik, tidak peduli diabaikan seperti apa, saya berusaha menekan gengsi yang acap kali meraja di benak setiap tombol send sudah di ujung percakapan satu arah.

Tak sekali-dua kali pesan singkat saya tidak direspon, tapi saya nggak peduli. Yang penting sudah berusaha, entah dibalas ataupun tidak. Tapi nggak bisa bohong, pada awalnya saya menaruh harap ada sederet kalimat yang pun meminta tanda read dari saya. Sampai akhirnya saya memutuskan berhenti menunggu, dan menghapus hampir di setiap pesan yang saya kirim. Kalau tak dibalaspun tak apa, begitu sugesti saya pada pikir dan hati. “Nggak apa-apa, afifah. Mungkin dia sibuk, atau mungkin dia nggak menganggap pesanmu penting saat ini, it’s ok, semangat!

Kemudian saya sadar, sesuatu yang saya anggap baik belum tentu baik di mata orang. Saya tersadar, bisa saja saya sedang mengganggu hidup nyaman orang lain. Mungkin mereka sebenarnya nggak mau bertegur-sapa dengan chat random saya. Mungkin mereka nggak ada waktu, dan terpaksa meluangkan waktu hanya karena  merasa tidak enak pada pesan online tak bermakna milik saya. Betapa egoisnya saya selama ini.

Beberapa hari ini, saya sampai pada kesimpulan, sebaiknya saya tahu diri dan berhenti memulai pembicaraan yang saya tahu tidak membawa efek dua arah. Kalaupun ingin minta tolong, sebaiknya kalau memang sangat sangat terdesak saja. Ucapan hari raya pun ke teman yang benar-benar memperlihatkan ketidakberatan diganggu hidupnya saja.

Walaupun sudah banyak yang memberitahu, saya nggak menyangka saya ternyata senaif itu. Menyedihkan. I’m genuinely sorry for my carelessness. I didn’t know, really.

But this thing won’t stop me for trying my best being a better person. I will be more careful next time.

Good luck for “tahu diri” people out there! Don’t be sad~ It’s ok.
Fighting~

0

Siap Untuk Dikode

Nggak tau kenapa beraat banget rasanya nyari kerja belakangan ini. Dalam jangka dua bulan nggak tau sudah berapa cv yg saya kirim. Dalam maupun luar negeri. Mantul terus cuy. Berapa kali rombak cv, masih juga mantul. Saya nggak pantang menyerah, tetap optimis. Allah yang paling tahu. “Ya Allah, ampuni dosa-dosa hamba. Mudahkanlah kalau memang itu yang terbaik.Begitu terus.

Akhirnya suatu pagi di minggu terakhir bulan agustus dikabarkan ada option lain yang muncul, dan saya galau dong. Takut mengecewakan, dan nggak enak rasanya harus membebani lagi. Walaupun yang bersangkutan nggak keberatan, tetep saya merasa sudah terlalu tua untuk ditanggung lagi. Setelah perbincangan alot dengan penduduk bumi dan Pemilik langit, nama saya terdaftar di hari terakhir. Maju mundur yang paling dramatis seumur hidup saya. Setelah semangat juang yang redup membara lagi, eh diundur dong sampai bulan oktober. Itu pun tanpa belum ada kejelasan apa benar-benar akan dimulai atau tidak. Nanii? Lagi-lagi saya rasanya terpelatuk. Analoginya, lagi lari kencang kesandung batu. Brak. Sedih, uring-uringan, dan bingung musti ngapain.
Tapi,
Kalian pernah nggak kayak ngerasa dikode sama Allah? Setelah rasanya jarang ketemu dan susah banget menggerakkan diri ikut ke acara keren, nggak tahu kenapa dalam hati saya merasa harus menghadiri acara malam mingguan kemaren. Saya yakin ada yang pengen Allah sampaikan melalui perantara-Nya. Saya sedang dikode, saya harus sambut ini. Sebelumnya nggak pernah hadir kalau mengharuskan merogoh dompet, tapi Allah Maha Pembolak-balik hati. Alhamdulillah, langkah nggak berat. Pikir nggak kacau.

Setelah balik dari sana, saya akhirnya sadar sebenarnya sedang dikode apa oleh-Nya. Disuruh banyak-banyak berdoa tapi bukan menjurus ke kedua option di atas. Jadi tersadar dua bulan terakhir ini, di saat merasa iman sedang merosot-rosotnya, saya sebenarnya sedang ditegur dan dikode untuk melakukan sesuatu. Melalui perantara-Nya diketuklah hati yang terlampau cinta dunia ini untuk mencoba menelaah doa yang frekuensinya pun jarang terucap. Allah dan cara keren-Nya mengajak diskusi hamba-Nya. Allah dan cara indah-Nya mengelus pikir keras hamba-Nya.

Jawaban atas kegundahan hati sebenarnya selalu ada di dekat kita. Yang kadang ditutupi dunia dan keindahan muslihatnya. Selalu merasa belum siap, walaupun sebenarnya raga sedang memaksa mengetuk pintu langit. Disuruhnya menjabarkan kodean-Nya dalam bentuk doa tengah malam. Disuruhnya menepis napsu dan meminta dilapangkan hati oleh-Nya. Tidak diminta untuk siap, tetapi diminta kuat untuk menerima teguran bahwa hati sedang mendamba jawaban.

Open our eyes, open our heart. Allah knows what’s the best for us better than anyone even ourselves.

“Ketuklah pintu langit sebelum mengetuk pintu dunia.

Bismillahirrohmanirrohim. Wish the best for us. 🙂

0

I’m Glad

Setelah balik dari Jakarta, saya sadar sudah tidak menghabiskan banyak waktu lagi di sosmed. Yang dulunya rajin ngetweet, sekarang tidak lagi. Yang dulunya sering ngespam di snapgram, sekarang tidak lagi. Yang dulunya sering curhat di blog, sekarang tidak lagi. It doesn’t mean I don’t have any problem. I do have some problems, but I try my best to not expose those to “strangers”. I do cry like a baby everytime my life gets so hard, but I hold it. I do feel lonely when my heart feels like to explode, but I remember that I have Allah. I pour my feeling into words, then alhamdulillah I’ll feel better. I’m glad I deleted my ig account couple weeks ago, but I don’t feel loss. I’m glad I won’t spend my time and my quota on ig. I know I miss some people, but I’m glad that I can handle my feeling better than I used to. I’m really glad. I hope Allah gives me strength to always feel glad of what I do now.

Englishnya kacau, tapi yasudahlah. Saya hanya merasa bersyukur sudah mengurangi kebiasaan mencari manusia di saat sedang sedih. Saya bersyukur sudah sadar bahwa hobi menulis perasaan tidak perlu selalu diekspos, cukup disimpan di internal storage sudah bisa bikin lega. Cukup Allah dan beberapa sanak saudara dan teman dekat saja yang tahu sepertinya lebih baik. I don’t judge who has different thought about this, but I think it’s better if I spend my life this way. 

0

Cengeng Sejenak

Belakang saya sakit, pengen nangis rasanya. Tapi nangis nggak bikin sakitnya hilang. Nangis nggak bikin saya bahagia.

Di perjalanan pulang, saya terus terusan bilang, ya Allah berikanlah hamba kekuatan, jangan biarkan hamba jadi wanita cengeng. Ujian ini bikin saya lemah. Begitu mudah dibawa perasaan. Saya nggak tahu harus berbuat apa. Saya beneran bingung. Walaupun saya tahu harus lari kemana, tapi dasar manusia, selalu mencari manusia.

Janji nggak bakal overworked lagi. Sehat itu mahal. Di saat masih begini, ingat afifah, kamu masih sendirian. Pulang dalam keadaan sakit belakang nggak bakal ada yang urusin. Sehat itu susah kalau sudah nggak sehat. Huu, dasar afifah sok strong padahal cengeng. 😛

Hiks, sedih.

0

Takut Yang Nggak Keren

Banyak sekali hal hal yang berseliweran di pikiran saya akhir-akhir ini, sampai-sampai saya bingung mengurutkan prioritasnya. Mulai dari pekerjaan yang alhamdulillah ujungnya agak kelihatan, sampai mengenai hal-hal religious yang tidak bisa saya ungkapkan di sini.

Untuk yang pertama, entah kenapa mendadak merasa takut untuk memulai kerja. Saking takutnya untuk pertamakalinya dalam hidup, saya pengen ketemu jodoh ijab kabul sesegera mungkin. Nggak tahu kenapa saya jadi butuh teman ngobrol halal. Tapi lucunya saya tahu saya juga bakalan lebih takut untuk memulai step hidup yang itu.

Ah, manusia dengan kontradiksinya.

Mungkin karena kebanyakan berinteraksi dengan anak kecil, hati saya jadi agak menjurus ke satu tempat. Tapi ada satu yang paling saya takutkan, saya nggak mau memulai hari karena ingin bertemu jodoh. Niatnya mulai aneh, kan, kalau sudah begitu?

Tanda-tanda hati mulai goyah. Nggak keren.

Tulisan terandom dan nggak jelas di ahad ketiga di januari 2018. 

Jakarta, dengan udara dingin dan gerimisnya yang awet.