0

Cengeng Sejenak

Belakang saya sakit, pengen nangis rasanya. Tapi nangis nggak bikin sakitnya hilang. Nangis nggak bikin saya bahagia.

Di perjalanan pulang, saya terus terusan bilang, ya Allah berikanlah hamba kekuatan, jangan biarkan hamba jadi wanita cengeng. Ujian ini bikin saya lemah. Begitu mudah dibawa perasaan. Saya nggak tahu harus berbuat apa. Saya beneran bingung. Walaupun saya tahu harus lari kemana, tapi dasar manusia, selalu mencari manusia.

Janji nggak bakal overworked lagi. Sehat itu mahal. Di saat masih begini, ingat afifah, kamu masih sendirian. Pulang dalam keadaan sakit belakang nggak bakal ada yang urusin. Sehat itu susah kalau sudah nggak sehat. Huu, dasar afifah sok strong padahal cengeng. 😛

Hiks, sedih.

Iklan
0

Ketika Hati Goyah

Hari ini hujan, sama seperti berhari-hari sebelumnya di Jakarta. Bus rute ragunan-semanggi masih sama langkanya seperti hari biasa. Saya sendirian seperti biasa, duduk menari-narikan jari jemari di atas layar ponsel sembari sesekali mengintip information board tepat di atas kepala. Alhamdulillah setelah diberi kesempatan untuk berjuang menghasilkan uang sendiri, saya menghabiskan banyak sekali waktu di jalanan. Jakarta dan macetnya sudah satu paket, dan saya sadar sejak pertama kali memutuskan untuk mencari nafkah di sini. Sejujurnya melelahkan, sendirian melawan hati yang ingin mengeluh saat terjebak di kemacetan. Kadang sampai rumah sepupu rasanya pengen nangis, tapi saya selalu teringat tujuan kalau ini yang selama ini saya cari. Saya selalu bilang, tujuan bekerja adalah ingin merasakan beratnya mencari nafkah. Terdengar sombong, tapi memang itu tujuan saya. Banyak yang pengen pulang ke kampung halamannya, tapi sekali lagi dengan keanehan yang kadang tidak bisa saya mengerti, Jakarta dengan kerasnya kehidupan adalah tempat yang cocok untuk saya. Di sini nggak mudah, tapi di sini saya belajar banyak hal. Sangat banyak sampai sampai bingung menjelaskannya. Saya merasa sangat bersyukur lahir sebagai seorang afifah, anak dari orangtua yang tidak hentinya mengajarkan tentang agama dan di umur mereka yang sudah tidak muda masih sibuk mencari rejeki untuk anak-anaknya. Ini mungkin aneh, tapi merindukan mereka bukan lagi menjadi prioritas. Merasakan apa yang mereka lalui selama bertahun-tahun adalah prioritas saya sekarang. Saya tahu Allah punya rencana kenapa menempatkan saya di kota perjuangan ini. I feel it. Dan di saat saya benar-benar merasa letih dan sendiri, Allah datangkan adek lelaki saya di dekat saya. Betapa baiknya, dan sedihnya betapa sibuknya saya dengan dunia. Hhh

Tulisan ini, sebagian saya tulis saat menunggu bus ragunan-semanggi yang entah kenapa semakin hari semakin langka. Saya tengah dikuasai sisi wanita dan mendadak merasa ingin menyukai seseorang. Ah, ini aneh. Tapi sungguhan, saya dengan ketakutan bersinggungan dengan hal seperti ini, tiba-tiba ingin bertanya, “bolehkah saya?”, “sanggupkah saya?” Betapa saya mengenal diri sendiri, dan menyukai seseorang itu terasa menyebalkan dari segi manapun. Tapi saya tahu jawabannya, mungkin karena saya adalah wanita dan setiap wanita pasti pernah merasa diinginkan. Lantas hati mendadak bimbang. Merasa nggak pantas dan merasa nggak keren. Hhhh. Kamu lagi, dunia. Bikin lupa kalau ada Allah dengan rencana-Nya. Aduhai. Semangaaaat. Perjuanganmu masih ceteek, afifah. Hahaha.

Hai, kamu. Kalau kamu sudah menjadi kita, mari berdiskusi tentang hidup yang lama yaaa. 🙂

Jakarta, long weekend is love.

0

Takut Yang Nggak Keren

Banyak sekali hal hal yang berseliweran di pikiran saya akhir-akhir ini, sampai-sampai saya bingung mengurutkan prioritasnya. Mulai dari pekerjaan yang alhamdulillah ujungnya agak kelihatan, sampai mengenai hal-hal religious yang tidak bisa saya ungkapkan di sini.

Untuk yang pertama, entah kenapa mendadak merasa takut untuk memulai kerja. Saking takutnya untuk pertamakalinya dalam hidup, saya pengen ketemu jodoh ijab kabul sesegera mungkin. Nggak tahu kenapa saya jadi butuh teman ngobrol halal. Tapi lucunya saya tahu saya juga bakalan lebih takut untuk memulai step hidup yang itu.

Ah, manusia dengan kontradiksinya.

Mungkin karena kebanyakan berinteraksi dengan anak kecil, hati saya jadi agak menjurus ke satu tempat. Tapi ada satu yang paling saya takutkan, saya nggak mau memulai hari karena ingin bertemu jodoh. Niatnya mulai aneh, kan, kalau sudah begitu?

Tanda-tanda hati mulai goyah. Nggak keren.

Tulisan terandom dan nggak jelas di ahad ketiga di januari 2018. 

Jakarta, dengan udara dingin dan gerimisnya yang awet.

0

When you like someone

Kadang, jiwa juangmu dihitung bukan dari sebanyak berapa kali kata suka yang kauutarakan, atau usaha-usahamu untuk memiliki, tapi tentang menahan diri serta menyadari bahwa yang sedang bermain-main di benakmu itu …

Mendadak kepikiran ini saat nggak sengaja ketemu dengan seorang wanita paruh baya yang nggak pernah terpikirkan bakal ketemu di tempat tsb. Secara setiap bulan datang di hari yang sama, dan saya tidak pernah melihat beliau sebelumnya. Dengan baju merah putihnya, beliau mengelilingi ruang tunggu, dan menyodorkan permen ke semua orang (iye, semua orang!). Mungkin terdengar biasa saja, tapi itu bukan pemandangan yang mainstream di tempat tsb. Beliau masih sama, orang yang sederhana, murah hati, dan baik, dan itu yang bikin saya teringat anaknya….. oke.

Dua minggu waktu itu bikin saya sadar betapa hebatnya beliau, dan betapa lucunya yang namanya perasaan. Saya nggak pernah seperti itu sebelumnya, teman-teman pun bingung melihat keanehan yang saya lakukan. Tapi makin hari saya jadi sadar, namanya perasaan itu memang kadang nggak sinkron dengan keinginan kita. Saat suka seseorang sedemikian rupanya, tetapi lupa hidup bukan cuman tentang perasaan. Saya jadi teringat dengan mimpi-mimpi membangun keluarga yang ingin senantiasa dipeluk oleh kasih sayang Allah SWT. Oh, again, tapi saya sungguhan tentang ini. Makanya saat menyadari bahwa yang saya miliki hanya sekedar perasaan tanpa menoleh kembali mimpi indah tsb, saya tersadar menyukai seseorang itu memang sebatas seperti itu saja.

Sejujurnya saya jadi merasa sedikit iri dengan orang-orang yang bisa menyukai lawan jenis yang ibadahnya super dan yang bisa murojain mereka tiap saat. Entah kenapa … saya merasa nggak pantas untuk menyukai lawan jenis yang super tsb. Tapi di lubuk hati yang paling dalam pengen rasanya punya pasangan hidup pengejar surga seperti itu. See, beginilah manusia, penuh dengan kontradiksi. Maunya ini, yang dilakuin itu, tapi ujung-ujungnya mikirin si ini. Aneh.

Setelah seharian mengingat dua minggu itu, saya jadi tersadar, mungkin ini yang bikin saya nggak pernah “berjuang” dengan orang-orang yang bikin “saya bingung”. Karena entah kenapa saya merasa yang tahu terbaik buat saya itu ya dari Allah SWT, dan menurut saya yang terbaik itu datangnya dengan cara yang halal. Bukan hanya sedekar bisikan-bisikan setan yang malah bikin galau nggak jelas.

Intinya, menurut saya, menyukai tanpa dibarengi mimpi akibatnya nggak baik pemirsa. Makanya saya pribadi nggak gitu pusing masalah menghalalkan relationship untuk sementara ini, soalnya saya tengah memantaskan diri dengan mimpi-mimpi saya. Tapi…   sekali lagi, yang terbaik buat kita hanya Allah yang tahu, kita berencana seperti apapun, pemegang rencana hanya milik Allah, manusia tugasnya berusaha kemudian berikhtiar, dan ikhlas.

Sebelum menutup omong kosyong saya  ini, saya mau minta maaf, soalnya saya nggak ngatain “kalian” bukan pengejar surga, hanya sekarang saya merasa nggak sanggup lagi main-main sama “yang terbaik pasti datangnya dari Allah SWT”.

0

Their Smile

Pernah tidak sih merasa kalau kehadiranmu itu,
bisa merusak flow kebahagian orang lain?
Rasanya ingin berdiam diri sampai batas tak tentu.
Rasanya ingin menangis.

Be brave for what you choose.
Don’t break the flow.
Just be a silent person like used to be.
Their smile more important than anything.
Their happiness are yours too.

0

LULUS, ALHAMDULILLAH

Omg.

Sudah sebulan lho saya menyandang status pengangguran. Hahaha. Rasanya kayak apa ya, susah dijelaskan. Pokoknya semacam ada perasaan lega sekaligus takut. Seperti ditimpa kebahagian yang digandengi setumpuk tanggung jawab.

Sekarang mau bikin apa?

Mau lanjut sekolah? Dimana? Beasiswa? Biaya sendiri?

Mau kerja? Dimana?

Disuruh nikah? Sama siapa? Bhahahak

Pokoknya ini kepala kayak curhat melulu semenjak lulus. Dan memang benar jangan mau lama-lama tidak lulus cuy. Aduhai, galau penganggurannya bisa lama cyiin. =))

Alhamdulillah, salah satu tugas saya sebagai hamba Allah, sebagai diri sendiri, sebagai cucu dari nenek tercinta, dan anak bapake mamake sudah terlaksanakeeen. Alhamdulillah akhirnya kalau terima undangan nikah dari teman yang nama saya pakai title .ST tidak ketar-ketir lagi. Alhamdulillah mimpi-mimpi lanjut kuliah di luar negeri sudah bisa dicanangkan matang-matang lagi. Alhamdulillah walaupun belum kelihatan hilalnya, setidaknya jodoh bisa nongol tanpa takut ditolak sama alasan “belum lulus” eaaa bhahahahk.

Alhamdulillahirrobbilalamin.

Makasih buat semua orang yang sudah membantu sampai kelulusan saya 5 agustus lalu. Kalian luar biyasaaaa. :*

|
|
|
|
Nulis dari hp lagi,
Jadi gajes as usual. =))