#30haribercerita – Jatuh

IMG_20180129_201649_HHT-01

Tulisan ini saya niatkan sebagai salah satu upaya dalam mengikuti 30haribercerita di IG. Secara nggak main IG lagi tapi tetep pengen ikutan, jadi saya bikin saja di blog sendiri. Nggakpapa lah ya telat, yang penting ikutan. Ok, cekidots tulisan pertama saya~
.
.
.

Pinggang hingga ujung kaki sebelah kiri saya berdenyut-denyut nyeri. Sudah sehari lewat tapi sakitnya masih terasa. Saya menghabiskan hari dengan posisi banyak tiduran, menaruh bantal di belakang untuk menyanggah punggung dan menonton video youtube lebih banyak daripada hari biasanya. Sesekali mengubah posisi, dan berharap nyerinya pergi besok.

Jatuh di depan kamar mandi kemarin mengingatkan saya betapa tubuh ini memiliki cinta yang sangat tinggi pada gravitasi bumi. Sampai-sampai terkenal sebagai orang yang tak pandai berhenti menggelincirkan tubuh di tempat-tempat tak lazim karena tingginya frekuensinya saya jatuh. Berbagai petuah saya dengarkan, namun mungkin orang tak paham bahwa saya pun tak pernah ingin jatuh berulang kali. Saya yang paling tahu jatuh itu tidak enak. Setiap hari mengingatkan diri untuk lebih berhati-hati, tetap saja momentum terjatuh sepertinya sulit sekali dihindari. Walaupun sudah lama tak jatuh, saya tidak bisa tidak tertawa mendapati diri jatuh lagi.

Kalian pernah tidak merasa seperti itu?

Jatuh pada kondisi yang sama tapi hanya bisa tertawa saja? Padahal hati sudah mewanti-wanti untuk tak kembali melewati jalan yang sama tapi pada akhirnya jatuh lagi ke sana. Mencoba melompati lubang yang ada, malah tersandung juga.

Mungkin … karena hal-hal yang terjadi di kehidupan itu sebenarnya lebih banyak repatitif. Hanya waktu, lingkungan, dan orang-orangnya saja berbeda. Perasaan yang dilewati tak akan jauh dari melewati bahagia dan sedih dalam hubungan entah secara vertikal ataupun horizontal.

Akan ada waktunya sepasang mata yang sudah berjanji menjadi berani, hanya memandang punggung tak tergapai terus menerus.
Akan ada waktunya sepasang pipi terusap punggung tangan saat mencoba melawan kerasnya hidup sendirian setiap hari.
Akan ada waktunya sepasang hati hanya mendamba dalam doa di setiap lepas sholatnya.
Akan ada waktunya sepasang manusia membahagiakan lalu menyakiti berulang kali.
Akan ada waktunya sepasang manusia menasehati anaknya pada hal yang sama berulang kali.
Akan ada waktunya sepasang kaki merindukan diinjakkan telapaknya di atas sejadah pada sepertiga malam di setiap lalainya.
Akan ada waktunya sepasang tangan hanya bisa mendoakan jiwa yang sudah tak bernyawa lagi.

Probabilitas untuk jatuh lagi di kondisi yang sama tinggi sekali. Dimana jatuhnya kadang disertai darah di hati atau malah senyum di bibir. Hanya saja, kalau pun jatuh di kondisi yang sama, harusnya tak akan bersikap sama lagi. Karena sudah paham betul sesakit apa itu jatuh dan selama apa lukanya akan membekas kalau tak belajar darinya.

Bagaimana dengan kalian? Apa kalian sudah punya tips dan trik jitu untuk mengatasi fenomena jatuh pada hal yang sama itu? 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s