The reason why I love kids.

Salah satu kegiatan rutin saya tiap hari adalah sakit perut. Semenjak balik dari Jakarta, perut saya memang sudah nggak sesehat sebelumnya. Saya nggak ngomongin masalah volumenya yang kian menyesakkan, tetapi tentang kemampuannya dalam menerima asupan makanan yang sudah nggak sekeren dulu lagi. Saya nggak mengeluh hanya merasa sedih karena nggak menjaga kesehatan semaksimal mungkin sampai terjangkit tipes. Nggak pernah saya bayangin seorang afifah kena penyakit tipes tapi memang nggak afdol rasanya kalau anak kosan nggak pernah terjangkit itu.

Semalam seperti biasa, perut saya sakit lagi. Lampu saya matikan, dan berdiam diri dalam gelap. Berharap dengan tidur sakitnya hilang. Saya bukan tipe orang yang sering bermanja-manjaan kalau sedang sakit. Saat tipes yang lalu saja, saya masih kuat membawa diri naik busway dan kereta untuk sampai di rumah sakit. Saya nggak pengen melemahkan diri dan harus selalu percaya pada diri sendiri, “everything is gonna be alright.” Walaupun semalam hati saya mellow sekali karena tanggal datang bulan yang sudah dekat. Women’s problem.

Saya mengubah posisi senyaman mungkin dan berharap tidur segera menjemput kesadaran saya. Tak lama, ponakan yang sedang liburan di rumah, datang tiduran di samping saya. Biasanya dia akan bertanya saya sedang apa, mengganggu saya sebentar dan pergi lagi ke kamar adik saya. Semalam dia bertanya hal yang sama, dan saya jawab, “perut puang ifah lagi sakit.” Dia pergi sebentar mengambil ponselnya, dan kembali tiduran di samping saya. Menonton youtube tanpa berkata apa-apa. Hanya sesekali menyentuh saya, dan mengintip raut wajah saya dalam diam.

Saya terharu, bagaimana bisa anak sekecil ini tahu bahwa orang dewasa pun bisa merasa nyaman hanya dengan ditemani seperti itu saja? Bagaimana bisa anak sekecil itu bisa menenangkan hati orang dewasa yang sedang terkalut-kalut tanpa mengatakan petuah nasihat? Saya pengen nangis rasanya. Ah, malah sempat meneteskan air mata. Inilah alasan kenapa saya selalu senang melihat anak kecil. Semenjengkelkan apapun mereka, ada perasaan haru yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata setiap netra bertumbuk dengan sosok mungilnya.

Mungkin itu alasan kenapa banyak orang dewasa berandai-andai ingin menjadi seperti anak kecil. Yang hatinya masih begitu polos dan baik sekali. Yang tak takut mengungkapkan kebaikan dan kejelekan. Yang tak takut mengungkapkan perhatiannya pada orang lain. Yang tak pernah pusing orang lain ingin berkata apa selama dirinya kenyang dan happy. Beautiful, isn’t it?

Tulisan ini saya buat untuk mengingatkan jika suatu hari nanti jengkel saya memuncak karena tak bisa mengatur anak sendiri atau ponakan, mereka selalu punya spot yang istimewa di hati saya. Lewat merekalah, Allah ajarkan betapa indahnya sebenarnya hidup ini. Lewat merekalah, Allah ajarkan betapa sederhananya sebenarnya bahagia itu.

Sakit perut mah lewaaaat.
Ditulis dari laptop, beda banget kan feelnya? hahaha.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s