Talking About Love

Assalamualaikum,

Haloha, been a long time since I wrote something here. Belakangan nyobain podcast yang sebenarnya sangat entertaining tapi juga bikin capek. Karena suatu hal, saya memutuskan untuk berhenti nge-podcast dulu untuk sementara waktu dan fokus di dunia tulis menulis. 

Jadi, beberapa hari lalu saya dan seorang teman membahas tentang bagaimana cinta di mata kami masing-masing. Kata doi jangan ngomong cinta sebelum menikah agar hati tak patah. Saya nggak membantah karena saya pun nggak percaya cinta tanpa ikatan halal. Sebagai orang yang sangat susah diyakinkan hal-hal menyangkut perasaan, saya butuh terikat pada ijab kabul untuk diyakinkan bahwa relationship kami akan baik-baik saja nanti.

Bisa dibilang saya sering menarik diri dan menutup diri karena sering merasa tidak “pantas”. Sedari kecil saya sudah hidup dalam kehati-hatian karena nggak begitu percaya pada diri sendiri dan sangat takut disakiti. Saya gampang menyerah kalau melihat kuncup perasaan bakalan mekar tidak sehat. Tapi saya nggak takut menjadi pribadi jujur. Saya nggak takut melempar kata untuk melihat apa kuncup perasaan itu perlu rutin disiram, atau dibiarkan saja layu dan mati.

Tapi membahas cinta, saya melihat dari sisi yang berbeda. Sebagai manusia yang akan mencintai hamba-Nya, semestinya nggak boleh sembarangan dan gegabah. Perlu diskusi panjang dengan Allah SWT, perlu melewatkan banyak sepertiga malam dalam doa, dan perlu restu telapak kaki surga yang telah membesarkan dengan susah payah. Maka dari itu kalau ada yang bilang cinta setelah menikah, saya menganggap itu sangat istimewa. Sangat spesial.

Karena pasti telah banyak doa yang dipanjatkan sebelum sampai pada tahap tersebut. Banyak ranjau yang telah dilalui hingga akhirnya pribadi jelek perlahan mengelupas dan berganti dengan sifat yang jauh lebih baik. Banyak luka yang telah berusaha diobati tanpa bekas, sampai akhirnya berani memutuskan untuk membiarkan hati menunjuk pada satu spesifik manusia. Jadi seharusnya setelah sah, nggak ada alasan lagi memainkan cinta yang telah mengikat dua keluarga besar itu. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk nggak menyerah, dan memperjuangkan apapun yang bisa dipertahankan, dan begitupun siapapun pasangan saya nanti.

Saya sudah melihat banyak sekali pejuang rumah tangga yang begitu rapuh pun amat kuat. Badai menerpa pun mereka masih bisa tersenyum, dan bertahan, demi cintanya pada Allah SWT dan keluarganya. Karena paham Allah benci perpisahan, maka mereka berharap ada keajaiban yang bersinar pada ingatan di hari mereka berubah dari orang asing menjadi keluarga dahulu kala.

Iya, cinta nggak seromantis drama korea.  Ada tumpukan pengertian dan perjuangan di sana. Yang kapan saja bisa runtuh, dan harus disusun kembali dengan tangis dan tenaga super yang tak main-main. Butuh effort dengan jumlah tak sedikit untuk mempertahankannya.

Saya masih sering nggak percaya diri, masih sering menempatkan orang lain lebih dulu daripada diri sendiri, masih sering hidup dalam kubangan perandaian yang negatif, tapi saya selalu yakin harus kembali pada siapa. Allah yang telah menciptakan saya dengan kondisi apapun itu, maka pada-Nya pun harusnya hati ini saya serahkan. Berdoa dipertemukan cinta yang mungkin berbaik hati meyakinkan bahwa saya pun patut diperjuangkan untuk menjalin bahtera yang selalu kangen pada pelukan cinta-Nya. Berdoa agar dipertemukan hamba-Nya yang mau tahu bahwa butuh perjuangan dua insan untuk membangun hubungan yang baik-baik saja. 

Perihal cinta, untuk bisa tumbuh subur pada tempatnya, perlu perawatan akar yang sangaaat maksimal, dan menurut saya, akar cinta yang sesungguhnya adalah memanjatkan doa pada Pencipta cinta. Have we done it today? 🙂

.
.
.
Ini tulisan dengan kata love terbanyak yang pernah saya tulis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s