You won’t know until you read it

Berapa hari lalu saya dan orangtua sedang asyik diskusi fee tulisan di meja makan, yang kemudian diakhiri dengan membahas bagaimana ibu melihat tulisan saya sekarang tak sekelam dulu lagi. Saya termenung dan mengangguk otomatis karena juga merasakan hal yang sama.

Sejujurnya, saya sering sekali menulis banyak hal yang menyerempet kehidupan pribadi. Sekalipun fiksi, tidak sedikit yang terinspirasi dari cerita diri sendiri. Jadi jika ada yang bilang kalau tulisan itu banyak menggambarkan penulisnya,  sebenarnya nggak salah, hanya memang nggak sepenuhnya yang diasumsikan orang lain itu benar.

Sebagai orang yang telah menghabiskan berbuku-buku untuk menulis apapun yang melintas dalam pikiran sejak kecil,  menulis punya caranya sendiri menenangkan perasaan saya yang kadang nggak karuan. Setiap iseng membaca kembali tulisan-tulisan lama, saya ternyata mendadak menjadi pelupa setiap selesai menulis. Seringkali saya nggak ingat kalau beberapa menit sebelumnya amarah saya memuncak dan meledak-ledak bak gunung merapi. Mungkin suatu waktu marah saya masih tersisa, tetapi sudah tidak seemosional sebelum tangan saya menyelesaikan sebuah tulisan.

Sebenarnya cukup kaget menyadari seberapa “dark”nya dulu pandangan saya pada dunia. Nothing could make me happy. I was seriously so depressed years ago. Kalau dipikir-pikir nggak tahu apa yang bikin saya sampai segitu depresinya dulu. Mungkin saya nggak percaya diri, dan nggak percaya pada orang lain. Mungkin dulu saya selfish dan terlalu sombong. Mungkin dulu saya lupa bertanya “Have I done the same thing?” Mungkin dulu saya lupa banyak bersyukur. Sekalipun mungkin dulu ada beberapa manusia toxic yang mengelilingi, tetapi nggak seharusnya membiarkan orang tsb meng-toxic pikiran saya juga. Sekalipun kehidupan percintaan nggak pernah mudah, tetapi nggak semestinya saya merusak kepercayaan diri sampai segitunya. Nggak ada alasan konkrit yang membolehkan saya terlalu lama membiarkan diri menyalahkan dunia. Kalaupun ada, it was my fault from the first place.

Setiap orang punya ceritanya sendiri, entah ditulis ataupun tidak. Entah terlintas di ingatan ataupun tidak. Setiap manusia terbentuk karena cerita di hidupnya dan caranya menghadapi situasi tersebut. Kalau boleh dibilang, hanya karena pernah mengalami beberapa cerita sedih, saya terlampau senang menganggap diri paling miserable. Paling menyedihkan. Paling nggak berharga. Saya lupa kalau Allah SWT sudah menciptakan kita dengan kelebihan masing-masing. Saya lupa kalau manusia disabdakan tidak untuk mencari pengakuan manusia tetapi Tuhannya. Ini mungkin terdengar seperti menyalahkan diri sendiri, tapi saya percaya setiap masalah harus dilihat akarnya dari diri sendiri. The bottom of our life’s problems is in ourselves, don’t you think so? Lagi pula menyalahkan orang lain tidak ada gunanya. It won’t solve our problems. Lebih baik hidup dalam mindset untuk selalu ingin intropeksi diri, mengeliminasi aura negatif, dan lebih banyak berpikir baik tentang apapun itu.

It’s ok to feel sad sometimes, but don’t let those feelings being your life’s controller. When you feel that you’re at the lowest point of your life, please remember,

“Allah will not allow a single tear to drop, if He Himself cannot dry”

To everyone who is still struggling with depression, I hope you will find your own way to shutdown that damn depression, forever. One of my tricks is to believe: Sadness and happiness are best friends, so in every unhappy moment there will be joyfulness waiting for you~

I’m still not ok, but I try my best being an ok person. Let’s be friend with our life, friends! 🙂

 

I know that writing is easier said than done, but you won’t know the power of your reading ability until you try to write yours. Let me know if you have one. I’ll be pleased being one of your readers~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s