Siap Untuk Dikode

Nggak tau kenapa beraat banget rasanya nyari kerja belakangan ini. Dalam jangka dua bulan nggak tau sudah berapa cv yg saya kirim. Dalam maupun luar negeri. Mantul terus cuy. Berapa kali rombak cv, masih juga mantul. Saya nggak pantang menyerah, tetap optimis. Allah yang paling tahu. “Ya Allah, ampuni dosa-dosa hamba. Mudahkanlah kalau memang itu yang terbaik.Begitu terus.

Akhirnya suatu pagi di minggu terakhir bulan agustus dikabarkan ada option lain yang muncul, dan saya galau dong. Takut mengecewakan, dan nggak enak rasanya harus membebani lagi. Walaupun yang bersangkutan nggak keberatan, tetep saya merasa sudah terlalu tua untuk ditanggung lagi. Setelah perbincangan alot dengan penduduk bumi dan Pemilik langit, nama saya terdaftar di hari terakhir. Maju mundur yang paling dramatis seumur hidup saya. Setelah semangat juang yang redup membara lagi, eh diundur dong sampai bulan oktober. Itu pun tanpa belum ada kejelasan apa benar-benar akan dimulai atau tidak. Nanii? Lagi-lagi saya rasanya terpelatuk. Analoginya, lagi lari kencang kesandung batu. Brak. Sedih, uring-uringan, dan bingung musti ngapain.
Tapi,
Kalian pernah nggak kayak ngerasa dikode sama Allah? Setelah rasanya jarang ketemu dan susah banget menggerakkan diri ikut ke acara keren, nggak tahu kenapa dalam hati saya merasa harus menghadiri acara malam mingguan kemaren. Saya yakin ada yang pengen Allah sampaikan melalui perantara-Nya. Saya sedang dikode, saya harus sambut ini. Sebelumnya nggak pernah hadir kalau mengharuskan merogoh dompet, tapi Allah Maha Pembolak-balik hati. Alhamdulillah, langkah nggak berat. Pikir nggak kacau.

Setelah balik dari sana, saya akhirnya sadar sebenarnya sedang dikode apa oleh-Nya. Disuruh banyak-banyak berdoa tapi bukan menjurus ke kedua option di atas. Jadi tersadar dua bulan terakhir ini, di saat merasa iman sedang merosot-rosotnya, saya sebenarnya sedang ditegur dan dikode untuk melakukan sesuatu. Melalui perantara-Nya diketuklah hati yang terlampau cinta dunia ini untuk mencoba menelaah doa yang frekuensinya pun jarang terucap. Allah dan cara keren-Nya mengajak diskusi hamba-Nya. Allah dan cara indah-Nya mengelus pikir keras hamba-Nya.

Jawaban atas kegundahan hati sebenarnya selalu ada di dekat kita. Yang kadang ditutupi dunia dan keindahan muslihatnya. Selalu merasa belum siap, walaupun sebenarnya raga sedang memaksa mengetuk pintu langit. Disuruhnya menjabarkan kodean-Nya dalam bentuk doa tengah malam. Disuruhnya menepis napsu dan meminta dilapangkan hati oleh-Nya. Tidak diminta untuk siap, tetapi diminta kuat untuk menerima teguran bahwa hati sedang mendamba jawaban.

Open our eyes, open our heart. Allah knows what’s the best for us better than anyone even ourselves.

“Ketuklah pintu langit sebelum mengetuk pintu dunia.

Bismillahirrohmanirrohim. Wish the best for us. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s