/pərˈ spektiv/

perspective2

“Katanya kalau tinggal di rumah terus, puang ifah mau dinikahin. Kok bisa? Memangnya puang ifah nggak mau nikah, ya?”

Ditanyain sama anak umur 6 tahun begituan itu rasanya mendadak nggak bisa mikir lurus. Mungkin karena si otak sulit menerima kenyataan kalau anak kecil jaman sekarang keponya sudah sangat kreatif, saya cuman bisa jawab dengan ketawa saja. Besoknya, pulang sekolah, masih pakai baju sekolah, lagi-lagi pertanyaan yang sama meluncur dari ponakan yang unyunya menurun sedikit gara-gara kekepoannya yang aneh. Saya mikir sebentar dan menjawab sambil ketawa-ketawi, “mau dooong, tapi kan puang ifah nggak pacaran, jadi nungguin yang lamar baru bisa nikah.” Si ponakan cuman senyum-senyum. Entah kenapa saya curiga besok doi bakalan nanya hal yang sama, dan kecurigaan itu bikin saya berdoa setelah shalat sepanjang hari itu. Iya, dijamin, pertanyaan seperti itu bisa bikin kamu jadi kangen diskusi tentang jodoh sama Allah. Di hari yang sama, saat duduk-duduk menonton tv selepas mandi sore, saya seperti mendapatkan “ilham” untuk jawaban atas pertanyaan tersebut.

Seperti yang sudah saya duga, besoknya setelah shalat maghrib, sambil jungkir balik di sofa depan tv, ponakan saya menanyakan hal yang sama. Kali ini saya senyum, cubit pipinya sebentar lalu jawab, “puang ifah mau kok. Kan, puang ifah pengen punya anak cantik, pintar dan sholehah kayak Syifa. Pengen gendong anak yang lucunya kayak adek Fatih.” Saya elus pipi adeknya yang putihnya kebangetan. Doi berhenti bergerak sebentar lalu mengubah posisinya menjadi duduk cantik, dan tersenyum. Tahu nggak, dalam hati ada perasaan haru yang nggak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Saya tahu jawaban saya gombal banget, tapi saya nggak nyangka hal itu bisa bikin ponakan saya nggak pernah menanyakan hal yang sama lagi.

Keesokan harinya, bukan ponakan lagi yang bertanya, tetapi penduduk di balik tempurung kepala saya nggak berhenti membuat percakapan penuh tanyanya. Mereka nggak puas dengan jawaban saya, dan membuat otak menghasilkan pertanyaan lain yang bikin saya merinding, “gimana kalau Allah nggak mengijinkan punya anak? Apa nilai kebahagian dari sebuah pernikahan itu gugur?”

Mungkin karena kebanyakan melihat dan ikutan berperan pada “sinetron” di dunia nyata, saya jadi sering pesimis bisa bahagia. Saya takut menambah satu season lagi di sejarah sinetron selepas petang tersebut. Tapi ada satu hal yang bikin saya merasa bisa bahagia … iyap, anak-anak. Membayangkan diri melihat perut menjulang dengan puncak bergerak-gerak –memberi sinyal bahwa dirinya sedang bahagia, mendengar suara tangisan panjangnya sebagai salam pembuka pada seisi semesta, melihat bibir mungilnya menuturkan sehuruf demi huruf hingga terangkai kata ibu, digenggam tangan kita saat merasa letih begadang menepuk punggungnya, saling menukar cium pipi saat bahagia, bertukar cerita tentang apapun, oh, membayangkannya saja bisa bikin bahagia dan bikin hati berdesir haru.

Tapi perbincangan sederhana, tetapi penuh makna dengan ponakan sebulan lalu bikin saya jadi lebih mengerti petuah mainstream jaman now,

“Allah knows what is best for us”

Sebaris kalimat yang bikin saya mencoba menggeser sedikit pemikiran tentang apa yang bisa bikin saya bahagia. Kalau dulunya saya hanya menganggap yang bikin saya ingin menikah adalah karena saya akan merasa bahagia bisa dititipkan untuk merawat hamba Allah yang mungil, saya coba geser ke lain hal, misalnya hal basic seperti bisa saling mencoba mengerti satu sama lain, barangkali? Atau kalau mau lebih bijak lagi, whatever Allah gives us, we’ll always try to be happy because Allah always knows what is best for us.

Sebenarnya pembicaraan ini yang masih beroksigen di dunia imajinasi. Tapi sebagai thinker kelas berat, tulisan ini bikin saya merasa sedikit tenang. Ternyata, hal yang dulunya setengah mati diidentitasi sebagai masalah, sebenarnya bisa dianggap sebuah kebahagian. Tinggal mengubah sedikit sudutnya saja, jeng~ sudah bisa terlihat berbeda. Sama seperti foto selfie yang kadang terlihat berbeda hasilnya dari sisi kanan atau kiri pipi.

Um…..

….

Picture was taken from an unidentified music video.
alias, nggak ingat dari MV yang mana. hahaha.


Perspective : per·spec·tive: /pərˈspektiv/ : perspektif

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s