Friendzone

Nggak tahu kenapa beberapa waktu ini, selain kata pribumi, kata friendzone rajin menghampiri timeline sosmed. Sebagai orang yang barusan gagal lolos tes cpns (huh?) dan nggak begitu tertarik dengan politik, otomatis kata friendzone lebih menarik perhatian jiwa kesingle-an daripada pribumi-bumian itu. Saya mendadak kepikiran, emang saya pernah ya terlibat dalam persilatan dunia friendzone yang pedih itu? Setelah mikir panjang dan berlika-liku, jawabannya malah ke pertanyaan lainnya, friendzone apaan sih?

Kata google sih, friendzone adalah dua insan manusia yang salah satunya terinfeksi uka uka *krik*. Kalau dari kacamata saya, friendzone itu agak sejenis dengan PHP dan cinta keberatan sebelah. Bedanya kedua insan yang tak paham dengan perasaan masing-masing ini memang saling memahami dan mendukung satu sama lain. Samanya, kebanyakan sama-sama nggak ada mutual perasaan suka dan kadang unsur ge-ernya kental banget, cuy. 

Oh,

Oh!

Saya kayaknya punya cerita yang agak mirip; terlalu nyaman dengan suatu tempat sampai nggak sadar sama sesuatu, lalu pergi sebelum kelewat sadar. Kalau mainstreamnya, orang-orang membiarkan dirinya tenggelam di dalam keadaan penuh kenyamanan daripada menyadari ada hal yang pincang lagi merangkul kenyamanan. Nyaman tapi was-was, dan biasanya bertahan karena alasan klise, “because I don’t want to loose you.”

Tapi seperti yang bisa dilihat dari postingan-postingan sebelumnya, saya bukan tipe mainstream, pemirsa. Bagi saya perasaan itu bukan buat dipelihara. Mau dia teman dekat yang sudah kayak sodara sendiri, atau kerennya best friend forever, tapi kalau sudah menyerempet perasaan… sudahlah. Saya selalu minta sama Sang Pencipta untuk dijaga agar tidak terjebak di friendzone. Berdoa supaya si otak lincah bekerja mencari jalan untuk meluncur keluar dari zona itu sebelum pintu “terketuk” terbuka.

Saya ini tipe yang rajin menanyakan ke diri sendiri, apa yang saya inginkan? Apa yang ingin saya capai? Berbekal dari  sifat tukang nanya itu, saya jadi punya prinsip bahwa perasaan itu harus selurus dengan pasangan hidup, makanya saya nggak mau main-main dengan masalah itu. Padahal kalau mau berkaca dari kalimat yang sering saya utarakan tentang bagaimana sebuah pasangan hidup itu nggak melulu tentang cinta, tapi visi misi hidup yang sejalan dan kenyamanan yang meluap-luap, saya nggak akan bohong, pastinya akan senang jikalau best friend tsb menyebut nama saya di ijab kabulnya.

Tapi (lagi lagee) sekali lagi, saya punya pendapat sendiri masalah ini. Menurut saya, friendzone itu semacam pelarian dan membohongi diri sendiri. Nyaman tapi nggak disukai, suka dan nyaman tapi nggak bisa ngapa-ngapain, dan paling parah sama-sama suka dan nyaman tapi nggak bisa keluar dari belenggu “I don’t want to loose you”. Sebagai seorang muslim, membiarkan diri “berbodoh-bodohan” itu nggak diiyakan dalam agama. Kita dituntut untuk selalu berpikir dan mencari jawaban dari kegelisahan kita pada Allah SWT. Mencari kenyamanan yang diridhoi oleh Allah SWT. Nah, ini, jadi halal saja belum tentu, kenapa kita rasanya takut sekali memutuskan sesuatu yang lebih banyak bikin galaunya daripada senyumnya?

Saya selalu percaya sama rencana Allah SWT, bahwa jika kita merelakan sesuatu untuk meningkatkan kualitas kebaikan vertikal, akan Allah ganti dengan hal lebih indah lainnya. Jadi kenapa takut keluar dari belenggu friendzone? Kenapa takut mengakui bahwa friendship yang indah itu sudah berganti nama jadi friendzone? Apalagi buat ciwi-ciwi, aduh jangan mau membiarkan diri terjebak di dunia ke-friendzone-an. Kasian itu hati sudah dititipkan Allah malah sengaja buat disakitin.

Pertemanan yang baik itu adalah pertemanan yang senantiasa mengingatkan untuk ada pada jalan Allah. Kalau pertemananmu sudah bikin kamu galau –dimana galau itu salah satu tanda jauh dari-Nya, baiknya ditinggalkan saja. InsyaAllah, Allah nggak akan marah kok kalau kita “memutus” ke-bestfriend-an untuk mengejar hal yang baik lainnya. Mending nungguin yang halal daripada menggalaui yang belum dihalalin.

Piss~

 

Nyambung nggak sih? Hahaha

Iklan

2 thoughts on “Friendzone

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s