When you like someone

Kadang, jiwa juangmu dihitung bukan dari sebanyak berapa kali kata suka yang kauutarakan, atau usaha-usahamu untuk memiliki, tapi tentang menahan diri serta menyadari bahwa yang sedang bermain-main di benakmu itu …

Mendadak kepikiran ini saat nggak sengaja ketemu dengan seorang wanita paruh baya yang nggak pernah terpikirkan bakal ketemu di tempat tsb. Secara setiap bulan datang di hari yang sama, dan saya tidak pernah melihat beliau sebelumnya. Dengan baju merah putihnya, beliau mengelilingi ruang tunggu, dan menyodorkan permen ke semua orang (iye, semua orang!). Mungkin terdengar biasa saja, tapi itu bukan pemandangan yang mainstream di tempat tsb. Beliau masih sama, orang yang sederhana, murah hati, dan baik, dan itu yang bikin saya teringat anaknya….. oke.

Dua minggu waktu itu bikin saya sadar betapa hebatnya beliau, dan betapa lucunya yang namanya perasaan. Saya nggak pernah seperti itu sebelumnya, teman-teman pun bingung melihat keanehan yang saya lakukan. Tapi makin hari saya jadi sadar, namanya perasaan itu memang kadang nggak sinkron dengan keinginan kita. Saat suka seseorang sedemikian rupanya, tetapi lupa hidup bukan cuman tentang perasaan. Saya jadi teringat dengan mimpi-mimpi membangun keluarga yang ingin senantiasa dipeluk oleh kasih sayang Allah SWT. Oh, again, tapi saya sungguhan tentang ini. Makanya saat menyadari bahwa yang saya miliki hanya sekedar perasaan tanpa menoleh kembali mimpi indah tsb, saya tersadar menyukai seseorang itu memang sebatas seperti itu saja.

Sejujurnya saya jadi merasa sedikit iri dengan orang-orang yang bisa menyukai lawan jenis yang ibadahnya super dan yang bisa murojain mereka tiap saat. Entah kenapa … saya merasa nggak pantas untuk menyukai lawan jenis yang super tsb. Tapi di lubuk hati yang paling dalam pengen rasanya punya pasangan hidup pengejar surga seperti itu. See, beginilah manusia, penuh dengan kontradiksi. Maunya ini, yang dilakuin itu, tapi ujung-ujungnya mikirin si ini. Aneh.

Setelah seharian mengingat dua minggu itu, saya jadi tersadar, mungkin ini yang bikin saya nggak pernah “berjuang” dengan orang-orang yang bikin “saya bingung”. Karena entah kenapa saya merasa yang tahu terbaik buat saya itu ya dari Allah SWT, dan menurut saya yang terbaik itu datangnya dengan cara yang halal. Bukan hanya sedekar bisikan-bisikan setan yang malah bikin galau nggak jelas.

Intinya, menurut saya, menyukai tanpa dibarengi mimpi akibatnya nggak baik pemirsa. Makanya saya pribadi nggak gitu pusing masalah menghalalkan relationship untuk sementara ini, soalnya saya tengah memantaskan diri dengan mimpi-mimpi saya. Tapi…   sekali lagi, yang terbaik buat kita hanya Allah yang tahu, kita berencana seperti apapun, pemegang rencana hanya milik Allah, manusia tugasnya berusaha kemudian berikhtiar, dan ikhlas.

Sebelum menutup omong kosyong saya  ini, saya mau minta maaf, soalnya saya nggak ngatain “kalian” bukan pengejar surga, hanya sekarang saya merasa nggak sanggup lagi main-main sama “yang terbaik pasti datangnya dari Allah SWT”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s