Katanya Bahagia Itu Sederhana, Kok!

Salah satu hal yang bisa bikin kita merasa nyaman selain taat kepada perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya adalah dengan merasa bahagia.

Pernah nggak sih kita bertanya ke diri sendiri, kira-kira apa yang bikin kita bahagia?

Pernah nggak sih kita kepikiran, kira-kira apa yang bikin kita terkadang merasa nggak bahagia?

Saya pernah, sering malah. Saya suka bertanya-tanya kira-kira hal apa yang harus saya ingat supaya bisa berhenti marah pada sesuatu, dan pertanyaan itu membawa saya pada suatu pertanyaan lain, yaitu,

“kira-kira apa yang bikin saya bahagia?”

Terus terang untuk menjawab pertanyaan itu nggak gampang. Soalnya kalau sudah terlalu dikuasai emosi, akal sehat suka semena-mena bikin otak lupa ingatan. Maunya merasa jadi victim terus, sampai-sampai mencari ingatan bahagia pun jadi sulit.

Sebagai orang yang extremely introvert dan sensitive, saya sering menjumpai diri sendiri marah dengan suatu yang sebenarnya nggak jelas sama sekali. Saya sering membuat asumsi-asumsi tidak berdasar karena sifat yang over sensitive. Tapi akhir-akhir ini, kemarahan tsb pada akhirnya membuat saya jadi bertanya ke diri sendiri, memangnya apa sih yang saya cari? Kenapa selalu mencari alasan untuk dimarahi? Memangnya perlu semua orang mengerti isi kepala saya kalau kerjaan saya hanya menyalahkan? Yes, I love asking myself. Tapi itu yang bikin saya sadar, betapa egoisnya manusia itu. Kita sibuk mengutuki sesuatu, padahal ada sesuatu yang mustinya kita syukuri. Kita sibuk melihat ke suatu arah, sampai lupa menoleh di samping kita ada sesuatu yang bisa bikin kita bahagia.

Saya pernah lho pengen berhenti kuliah. Waktu itu saya merasa nggak bahagia, merasa tertekan dan nggak menemukan alasan kenapa saya harus menjadi sarjana. Saya nggak tahu, apa akan merasa bahagia kalau di belakang nama ada title sarjana atau tidak. Waktu itu saya beneran nggak pernah nyentuh sama sekali draft skripsi entah selama berapa lama. Sampai suatu ketika sebuah pertanyaan menghampiri kesadaran saya, memangnya saya bisa bahagia ya kalau tidak selesai kuliah sementara orang-orang di sekitar saya sedih?

Saya merenung lama, bertanya ke kakak-kakak pengajian, kemudian merenung lagi sembari melihat kondisi di sekitar. Lalu mendadak saya tersadar, bahagia itu nggak selamanya “aku bahagia semua orang pasti bahagia”. Bahagia itu nggak semua tentang diri kita.  Bahagia itu nggak selamanya titik pusatnya di diri kita. It’s not always about “I”. Bahagia itu nggak selamanya tentang bagaimana dunia melihat kita, tetapi sesekali tentang bagaimana kita melihat dunia di sekeliling kita. Bahagia dengan apa yang kita punya, bahagia dengan apa yang orang miliki, dan bahagia dengan apa yang belum sempat kita genggam. Sesederhana itu ternyata.

Setelah melihat tulisan-tulisan lama yang mostly sudah hilang dari muka umum, saya jadi sadar kesalahan terbesar seorang saya itu apa. Saya nggak bisa mengingat sesuatu yang bisa bikin bahagia karena terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang bikin saya menangis. Kenapa sih sibuk membuat orang-orang yang “tidak suka” (I’m not talking about love, please) dengan saya, sampai lupa ada kok orang-orang yang dengan senang hati berbagi cerita bahagia dengan saya? I’m so dumb.

Kalau dipikir-pikir nih, selama kita nggak melakukan hal-hal yang jelek, nggak menyakiti orang lain, dan nggak menjauhi Tuhan, kenapa musti menjadi manusia yang lupa bahagia kalau mengingat bahagia itu ternyata dengan menjauhi pribadi “lupa bahagia”? (What the heck am I talking about? LOL)

Anw, yes, bahagia itu… memang sesederhana itu kok. 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s