(FICTION) 18.000 DETIK

18.000 detikAda kalanya kamu merasa memiliki koneksi tak terputuskan pada seseorang, perasaan bahwa dia adalah satu-satunya orang yang ingin kaujadikan teman melewatkan waktu bahagia dan sedihmu hingga oksigen tak lagi bersahabat dengan pernapasanmu. Entah karena kehadirannya yang teramat konsisten sejak gigimu masih bergigi susu, atau malah karena keeksistensiannya yang hanya 18.000 detik di hari yang lembab dan basah di kafe kesayanganmu.

______

Mataku masih menimang-nimang antara bangkit dari tempat tidur atau kembali menyelami dunia mimpi saat siluetnya perlahan bergerak menggelapi beberapa daerah di depan pintu. Aku menengadah, tersenyum begitu saja melihatnya merangkul cuping gelas di masing-masing tangannya. Dia perlahan berjalan mendekat, menaruh salah satu gelas di nakas, dan mengacak puncak kepalaku gemas.

“Hari hibernasi, ya? Ini sudah jam 11 lho, Dhan.” Ucapnya sembari menyodorkan segelas yang kutebak berisi jus kiwi setelah melihat isinya yang hijau muda.

Aku tergelak malu setelah mengambil gelas dari tangannya, 2 tahun sejak namaku disebut di ijab kabulnya belum cukup mengakhiri sifat malu-malu kucingku di saat-saat seperti ini.

“Karena hujan?”

Aku menoleh, mendapati senyumnya yang masih sama terpantri di wajahnya yang tak begitu banyak perubahan di hujan pertama kami 6 tahun lalu. Hanya saja, rambutnya sedikit tak tertata rapi hari ini. “Nggak ke rumah sakit, Bim? Tumben nggak keluar pagi-pagi.” Aku merapikan beberapa helai rambutnya sambil menyuruput isi gelas.

“Nggak, kan libur.”

“Nggak ada operasi?”

“Nggak ada, Dhana cerewet, tukang nanya.”

“Ih, baru juga ditanya dua kali.” Aku menggerakkan tubuh bagian bawah, menggantung kaki agak gempalku di pinggir ranjang.

“Mau jalan-jalan?”

“Temenin ketemu klien di sbux jam 1 aja ya?”

“Oke, boleh.”

“Bim.”

“Hmm?”

“Hari ini hujan lho.” Tanpa sadar aku menyelipkan sejumput rambut ke belakang telingaku, kami saling menukar pandangan sebelum suara tawa menguar tanpa henti dari kedua mulut kami.

“Ada yang jatcin pada pandangan pertama!” Teriak Bima disela-sela tawanya.

“Ada yang ngajak nikah orang yang pernah dia tolak cintanya!” Ujarku mendorong lengannya pelan.

Aku berterima kasih pada ego yang mendominasi di 18.000 detik hari itu. Hujan yang menderas penuh drama, segelas green tea tanpa wipe cream, sesosok berkacamata dengan suara baritonnya, setumpuk cerita yang meluap-luap tanpa bersapa dengan ponsel, dan surel di hari spesial. Tuhan ternyata telah menaruh takdir berselimuti cincin emas di cerita yang kupikir selesai dua tahun lalu. Aku tidak pernah menyangka sebidang datar 5 inch sanggup membangun cerita kami kembali, atau mungkin cerita kami memang memiliki ending seperti ini sedari awal.

“Dhan, sekalian beli perlengkapan bayi aja.” Bima mengusap matanya yang berair karena tertawa.

“Yaelah, Bim. Baru juga 5 bulan. Jenis kelaminnya aja belum jelas, sudah mau beli perlengkapannya.”

–END–

.
.
.
.
.
HAHAHAHA,
AKHIRNYA JADI!
CERITA BAHAGIA SPESIAL FOR YA.
Geli juga nulis ginian.
Anw, hope the best for ya, sis.
BAHAHAHAK #PLAK
Nulis dari hp, jadi dikiranya sudah panjang,
ternyata beloon.
Aaaa

Iklan

4 respons untuk ‘(FICTION) 18.000 DETIK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s